
“Baiklah, kalau begitu aku dan pasukan khusus akan kembali ke kantor pusat bersama para tersangka, terima kasih banyak tuan muda..!” jenderal Winoto merunduk dan memberi hormat kepada Desta lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area tersebut.
“Hmm, setengah masalah sudah selesai, sekarang tinggal masuk ke dalam masalah utamanya..!” Desta mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi Sebastian.
“Paman, tolong bantu aku mencari informasi yang lengkap tentang orang ini” Desta mengirimkan data yang diberikan Patrick kepada Sebastian.
“Baik, tuan muda..!” Sebastian menjawab dan segera menginstruksikan para peretas untuk mencari setiap informasi tentang Widodo.
5 menit berlalu dan Sebastian memberikan semua informasi yang dia dapatkan kepada Desta melalui pesan singkat.
“Terima kasih banyak, paman..!” Desta menutup panggilan telepon tersebut dan segera mengecek pesan singkat yang dikirimkan oleh Sebastian.
“Hehe, ternyata hanya seorang bos tikus” Desta tertawa geli dengan informasi yang didapatnya.
Widodo hanyalah seorang pengusaha yang bisa dianggap biasa saja jika perbandingannya dengan pengusaha yang ada di kota Jakarta.
__ADS_1
Penghasilan yang didapatkan olehnya hanyalah 20 miliar rupiah per 5 bulan, dan total aset yang dimilikinya saat ini hanyalah senilai 1,2 triliun rupiah, tidak terlalu menarik, mengingat dia bisa mencapai angka tersebut dalam waktu 6 tahun.
Sedangkan Desta bisa mendapatkan 5,3 triliun dalam waktu 1 bulan saja.
Jadi, wajar jika Desta tertawa melihat kesombongan Widodo yang dibilang bos ini.
“Haduh, ternyata kau itu hanya seorang bos kecil saja tapi sudah berani sombong seperti itu?” Desta menggelengkan kepalanya lalu memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku celana.
Karena mobil van hitam yang digunakan oleh orang suruhan Widodo tidak dibawa juga oleh jenderal Winoto, Desta pun menggunakannya sebagai transportasi menuju hotel untuk bertemu dengan Febrianto dan mengatur rencana selanjutnya.
“Feb, aku sedang dalam perjalanan ke hotel” ujar Desta saat menghubungi Febrianto.
“Oke bos, kalau begitu aku akan menunggu di depan..!” setelah itu, Febrianto pun langsung berpamitan pada orang tuanya dan berjalan menuju halaman depan hotel tersebut.
Desta sengaja menyuruh Febrianto untuk membawa orang tuanya menginap di hotel tersebut karena lokasinya yang tidak pernah sepi selama 24 jam.
__ADS_1
Dengan begitu, kalaupun terjadi sesuatu yang mendesak, setidaknya akan ada banyak orang yang akan menolong.
20 menit kemudian Desta pun tiba di depan hotel, Febrianto berlari dan masuk ke dalam mobil van berwarna hitam yang dikendarai Desta tersebut.
“Bos, apakah sudah ada informasi?” tanya Febrianto.
“Mmm, sekarang kita tinggal mengatur siasat untuk menghukumnya..! Aku yakin orang seperti dia pasti akan memiliki banyak anak buah untuk melindunginya, yang aku ingin katakan adalah, apakah kau siap dan mau ikut memberi pelajaran si Widodo ini?” ucap Desta.
“Tidak perlu dipertanyakan lagi bos, tanpa diajak pun aku akan tetap memberikan pelajaran untuk orang yang tidak punya otak seperti itu..!” wajah Febrianto terlihat sangat serius saat mengatakannya.
Setelah kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu, siapapun anak yang berbakti pasti akan memikirkan hal yang sama dengan Febrianto.
Melihat semangat pengawalnya yang seperti itu, Desta pun langsung menjelaskan rencana yang sudah dibuatnya saat berada di perjalanan selama 10 menit dengan semua detail dan celah yang diberikan oleh Sebastian.
Febrianto mengepalkan tinju tangan kanannya dan memukulkannya ke telapak tangan kirinya sambil berkata, “Baiklah, ayo kita beri salam kepada bos Widodo..!”.
__ADS_1