
“Dan hasilnya, nyonya Debby sudah melewati masa kritisnya dan kini sedang mendapatkan perawatan intensif agar bisa dipindahkan segera dari ruang ICU ke ruangan rawat inap, untuk pemilihan ruang rawat inapnya, apakah Anda ingin menanyakan terlebih dahulu tentang harga dan sebagainya?” tanya orang tersebut, dan untuk detik berikutnya jantung Desta kembali berdetak normal setelah mendengarkan kabar baik tersebut.
“Tidak usah..! Tempatkan saja Debby di ruang paling VIP yang ada di rumah sakit, dan berikan pelayanan terbaik kalian padanya, setelah urusanku selesai, aku akan langsung ke rumah sakit dan membayar seluruh tagihannya..!” ucap Desta sambil tersenyum senang.
“Baiklah, kalau begitu sudah terkonfirmasi untuk ruang perawatan super VIP dengan pelayanan kelas 1 seharga 20 juta rupiah per harinya” ucap orang di ujung telepon tersebut.
“Mmm, tidak masalah” jawab Desta.
“Baiklah, kalau begitu setelah kondisinya stabil, kami akan memindahkan nyonya Debby, terima kasih dan selamat pagi” ucapnya dan panggilan tersebut dimatikan.
__ADS_1
“Haha, kau sangat beruntung Yanto..! Jika saja terjadi sesuatu yang buruk pada Debby, kau tidak akan mungkin bisa melanjutkan nafasmu di dunia ini, tapi karena Debby akan baik-baik saja, aku akan memberikan kau kesempatan, sekarang berlututlah dan minta maaf..!” bentak Desta sambil menatap tajam ke arah Yanto, dan dia pun melambaikan tangannya agar orang-orang yang dia bawa tidak usah sampai membakar rumah Yanto.
“Twerimwa kwaswih..! Akwu bwenwar-bwenwar mwenyeswal” ucap Yanto yang sama sekali tidak dimengerti Desta, namun dia memakluminya karena Yanto sudah berlutut bahkan sampai bersujud di hadapannya.
“Lain kali, sebelum kau bertindak, tolong pikirkan terlebih dahulu konsekwensinya, aku sudah lelah berurusan dengan hal seperti ini..!” ucap Desta dan Yanto hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Sekarang pergilah ke dalam, aku akan memanggilkan ambulans untuk kalian berdua” ucap Desta sambil menunjuk ke arah Tora yang masih terbaring pingsan.
“Terima kasih..! Aku akan mentraktir kalian semua makan di restoran d’Coins besok” ujar Desta, tentu saja semua orang bersorak kegirangan, karena menu di restoran itu sangat mahal dan mereka sama sekali belum pernah makan di sana.
__ADS_1
Desta segera berangkat menuju rumah sakit dan yang lainnya kembali ke Heir Group untuk melaporkan hasilnya kepada Sebastian.
Di sisi Yanto..
“Siapa sebenaranya dia? Kenapa dia bisa kenal dengan orang yang terlihat seperti anggota gangster sebanyak itu?” gumam Yanto yang terbaring di depan pintu masuk rumahnya dan dia menoleh ke arah Tora.
“Bahkan kak Tora yang sekuat ini bisa dikalahkannya, benar-benar orang yang menyerupai iblis, sama sekali tidak ada ampun, dan jika tadi tidak ada panggilan dari rumah sakit yang mengabarkan kondisi Debby, mungkin sekarang aku akan menjadi gelandangan dan aku pun sudah tidak ada di dunia ini” sambung Yanto dan dia pun menghela nafas panjang karena akhirnya dia mengerti bahwa tidak semua orang bisa diancam oleh kekayaan yang seperti itu.
Saat dia sudah hampir tak sadarkan diri karena darah yang terus bercucuran dari semua luka yang didapatnya, tak lama kemudian, suara ambulans pun terdengar.
__ADS_1
Desta benar-benar menepati ucapannya dengan mendatangkan ambulans untuk Yanto dan Tora, dan kelap-kelip dari strobo atau rotator yang ada di atas mobil ambulans pun terlihat saat memasuki halaman rumah Yanto.
“Terima kasih..!” ucap Yanto yang kemudian tak sadarkan diri setelah melihat beberapa petugas medis turun dari mobil dan segera menghampiri mereka.