
"Kau orang baik ternyata, baiklah terima kasih banyak ya" ucap Desta dan dia pun berjalan keluar dari kerumunan.
"Ya sudahlah, aku sedang tidak ingin terlibat masalah seperti itu, lebih baik aku serahkan saja pada paman Sebastian" ucap Desta yang meninggalkan kerumunan tersebut.
Desta langsung mempercepat langkahnya menuju ruangan Sebastian.
"Tok.. Tok.." Desta mengetuk pintu.
"Ah tuan muda, silakan masuk, aku sudah menunggumu" ucap Desta.
"Menungguku? Aku kan belum bilang kalau akan berkunjung, paman" ujar Desta keheranan seraya berjalan masuk ke dalam ruangan milik Sebastian.
"Hehe, aku hanya punya firasat bahwa Anda akan datang ke sini" jawab Sebastian dengan menyerahkan sebuah map kertas yang berisi foto-foto sebuah daerah.
"Ini apa paman?" tanya Desta yang kebingungan.
"Bagaimana tuan muda? Bukankah pemandangannya terlihat indah?" ujar Sebastian sambil tersenyum tipis.
"Iya indah sih, tapi maksudnya apa paman?" tanya Desta sekali lagi.
"Aku berencana untuk membangun sebuah perumahan elite yang terdiri dari banyak villa, dan aku berencana akan membangun villa termahal dengan pemandangan terbaik di bagian atas daerah tersebut, dan area perumahan elite ini akan dibawah naungan nama besar Heir Group..!" ucap Sebastian dan dia yakin Desta akan setuju dengan rencananya ini.
__ADS_1
"Menarik, pembangunan seperti ini pasti akan menarik banyak keuntungan walaupun memang membutuhkan banyak kerja sama dengan perusahaan konstruksi..! Oh aku tahu..!" Desta tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
"Aku akan mengatur agar perusahaan Gloria bisa bekerjasama dengan proyek pembangunan ini, dan dengan kesempatan ini, aku akan menaikkan jabatan Debby lagi menjadi wakil manager divisi pemasaran, dengan begitu tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya" ucap Desta dengan penuh semangat.
"Lagipula perusahaan Gloria masih memegang produksi lampu pintar nomor satu di seluruh Jakarta, pasti tidak akan mengurangi kualitas penjualan villa" sambung Desta.
"Hehe, aku pun sudah tahu bahwa tuan muda akan berkata seperti itu, makanya aku sudah terlebih dahulu menghubungi Hendra agar bersiap-siap untuk menjalankan rencana Anda lagi" jawab Sebastian dengan senyuman kecil yang tersungging di bibirnya.
"Paman Sebastian memanglah Epic..! Kalau begitu aku menyetujui rencana ini, dan memangnya kapan paman akan memulainya?" ucap Desta dengan mengacungkan jempolnya kepada Sebastian.
"Hehe, sebenarnya sudah dimulai sejak 1 bulan yang lalu, namun masih belum dipublikasikan agar tidak menyebabkan rumor-rumor yang akan menggagalkan pembelian tanah di daerah tersebut, dan karena sekarang aku sudah mendapatkan persetujuan dari Anda, proyek ini akan segera dipublikasikan..!" jawab Sebastian.
"Mantap paman..! Kau selalu berpikir 5 langkah di depanku" Desta memuji kemampuan Sebastian dalam strategi seperti ini.
"Haha, sudah hentikan saling memujinya paman, aku jadi geli sendiri ketika dipuji seperti itu" ucap Desta dengan ekspresi yang dengan cepat berubah datar.
"Ngomong-ngomong, aku menginginkan pengawal yang bisa melindungi Debby dibalik bayang-bayang agar aku bisa tenang saat tidak bersamanya" ujar Desta menjelaskan pokok bahasan yang menjadi alasan pertama dia datang ke sini.
"Karena aku tahu paman pasti bisa dengan mudah menemukan orang seperti itu" sambung Desta.
"Hmm, sebenarnya aku ada 2 kandidat yang seperti itu untuk Anda, tapi.." Sebastian berhenti sejenak.
__ADS_1
"Tapi?" tanya Desta dengan menaikkan alisnya.
"Mereka berdua adalah mantan prajurit tentara amerika dan merupakan pembunuh berdarah dingin, mereka hanya patuh pada perintah dan tidak peduli sesulit apapun tugasnya pasti bisa mereka lakukan" ujar Sebastian menjelaskan latar belakang kedua orang tersebut.
"Wah, bukankah itu bagus paman? Aku justru mencari yang seperti itu, jadi, apanya yang menjadi tapi? Seolah hal itu adalah sesuatu yang buruk" ucap Desta yang bertanya-tanya, dengan kemampuan seperti itu bukankah seharusnya menjadi sangat cocok dengan yang dia mau.
"Tuan muda, yang jadi masalah saat ini adalah, mereka tidak bisa dengan mudah dilacak untuk diajak negosiasi karena memang mereka bekerja sebagai anonim, tapi jika Anda memang sangat menginginkan mereka berdua, aku bisa membantu melacaknya walaupun sangat kecil kemungkinan untuk menemukannya" ucap Sebastian.
"Oke, aku akan menyerahkan pencariannya pada paman saja, jika sudah ketemu, hubungkan aku padanya dan biarkan aku yang akan mengurus sisanya" jawab Desta.
"Baiklah tuan muda, aku akan segera melaksanakan keinginan Anda" Sebastian merunduk mengiyakan permintaan Desta.
"Kalau begitu aku pamit dulu paman, ada sekelompok orang yang kelaparan dan harus aku beri makan" ucap Desta, kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk pergi dari sana.
"Oh iya paman, kau ingat orang yang waktu itu memarahi aku di parkiran depan gedung para dewan?" ucap Desta yang menghentikan langkahnya.
"Aku masih ingat, namanya Candra, memangnya ada apa tuan muda?" tanya Sebastian.
"Hmm, aku mau paman pecat dia langsung, atau turunkan jabatannya dari petinggi di sini, dan beri dia pilihan di bagian keamanan atau staf di gudang perusahaan, lalu setelah dia memilih, pecat dia..! Aku tidak mau ada pekerja yang tidak memiliki etika, sopan santun, dan kepribadian yang merusak di perusahaan ini..!" ucap Desta dengan tegas.
"Alasannya bukan karena dia menghinaku, tapi dia sudah merendahkan martabat orangtua seseorang yang juga bekerja di sini, kalau paman ingin tahu kenapa, tanyakan pada karyawan bernama Rezky yang baru saja diangkat menjadi salah satu petinggi di sini..!" ucap Desta dengan tegas dan langsung melangkahkan kembali kakinya meninggalkan ruangan Sebastian.
__ADS_1
"Aku mengerti tuan muda, terima kasih sudah mengingatkanku" ucap Sebastian yang merunduk hingga pintu ruangan yang dibuka oleh Desta tertutup dan sosok Desta tak terlihat lagi di hadapannya.
"Aku selalu takut dengan nada bicara tuan muda Desta yang seperti itu, seolah aku sedang berbicara kepada sosok iblis yang sangat mengerikan" gumam Sebastian yang ternyata dia gemetaran saat menjawab permintaan Desta tadi.