
Sebelum Desta meninggalkan ruangan rapat dia mengatakan, "Aku menyerahkan pekerjaan sebagai direktur utama kepada Hendra untuk sementara waktu, perintah Hendra adalah perintahku, dan aku minta kepada semua yang hadir di sini untuk merahasiakan identitasku, itu saja yang perlu kalian tahu..! Rapat dibubarkan" lalu Desta keluar dari ruangan rapat.
"Pak Hendra, apakah ini sebuah lelucon? Kenapa bocah itu bisa menjadi pemegang saham terbesar perusahaan ini? Dia hanya seorang satpam..!" Albert protes tentang Desta dan membuat para manager yang lain juga merasa demikian.
"Jangan begitu, aku juga tadinya berpikiran yang sama denganmu, tapi tak kusangka ternyata yang ada di belakangnya adalah Sebastian si pemilik Heir Group" Hendra menjelaskan kembali dan tentu saja membuat semua orang membuka mulutnya dengan lebar.
"Jika dia mau, perusahaan ini sudah ditutup olehnya dan membuat kita semua tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan bahkan untuk posisi pencuci piring sekali pun..!" Hendra menambahkan, semua yang dikatakannya adalah kebenaran karena Heir Group saat ini adalah perusahaan terbesar dengan aset 10 kali lipat dari perusahaan terbesar sebelumnya.
Albert pun terperanjak dan kemudian menyesali semua rencana yang telah dibuatnya untuk mencelakai Desta, dia takut jika Desta masih merasa dendam kepadanya.
"Sesuai perintah darinya, rapat dibubarkan..!" ucap Hendra dan semua manager menganggukkan kepalanya kecuali Albert, dia masih larut dalam lamunannya yang masih berusaha mencerna semua ini.
__ADS_1
Semua orang telah meninggalkan ruang rapat, disusul oleh Albert yang sudah kembali tersadar.
Desta langsung menuju kantin dan menunggu Debby datang, dia mengirim pesan singkat kepada Erdi si kepala satpam untuk memberitahukan bahwa dia akan sedikit terlambat karena ada urusan.
Tak lama kemudian Debby datang ke menghampiri Desta dengan wajah yang cerah dan senyuman yang sangat manis.
"Desta, bukankah sebentar lagi adalah jam kerjamu? Mengapa kau masih di sini?" Debby bertanya.
"Kau ini.. Ada apa memangnya?" Debby duduk di sebelah Desta dan bersandar padanya.
"Ah tidak, aku hanya ingin mencoba ilmu ramalanku yang baru saja aku pelajari" Debby mengerutkan alisnya dan menatap Desta dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Haha, kenapa kau melihatku seperti itu? Baiklah, aku akan mulai meramal, aku meramalkan kau akan menjadi ketua tim divisi pemasaran dalam waktu dekat" Desta memegang dahinya dan menutup matanya sambil berkata demikian.
"Bontet..! Jangan bercanda soal itu, kau kan tahu sendiri bahwa sekarang sudah ada Agung yang menempati posisi itu, lagipula dia baru 6 bulan menjabat, tidak mungkin aku bisa mendapatkan jabatan itu..!" Debby cemberut dan memalingkan wajahnya.
"Hahaha, kau ini memang sangat manis jika cemberut seperti itu" Desta tertawa sambil mengacak-acak rambut Debby.
"Tenang saja, ramalanku 100 persen akurat..!" Desta berbisik pelan.
"Sudahlah, aku akan kembali ke kantorku dan kau bisa melanjutkan ramalan-ramalan konyolmu itu, huh..!" Debby berdiri dan meninggalkan Desta dengan pipi yang digembungkan, dia tidak marah, hanya saja dia tidak percaya dengan ramalan, karena menurutnya itu sangat konyol untuk menebak masa depan.
"Memangnya aku salah ya?" Desta bergumam dalam hati namun tingkah Debby justru membuatnya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ya sudahlah, aku berangkat ke kantor dulu kalau begitu" Desta berdiri dan berjalan ke arah luar gerbang perusahaan untuk memesan taksi menuju perusahaan Dahlia.