Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Berapa?


__ADS_3

“Cih, memangnya kau pikir kau siapa? Temanmu saja seperti ini, apa yang kau punya sampai kau bisa bilang ingin membuatku bangkrut?” ucap Widodo sambil menunjuk ke arah Febrianto.


“Tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kau tahu hanya sebentar lagi kau akan tidur di bawah jembatan” jawab Desta.


Dia mengambil ponsel dari celananya dan mencari nomor Sebastian untuk dihubungi.


“Tuan muda, apakah terjadi sesuatu?” jawab Sebastian yang khawatir karena Desta menghubunginya selarut ini.


“Mmm, Paman, apa kau masih ingat dengan detail orang yang aku minta sebelumnya?” tanya Desta.


“Widodo? Ada apa tuan muda? Apakah dia berani mengancam Anda?” wajar saja Sebastian menghujani Desta dengan banyak pertanyaan, karena dia sudah beberapa hari tidak ada kabar.


“Tenanglah paman, aku dan Febrianto baik-baik saja..! Aku hanya ingin si Widodol ini pelajaran dengan menjadi orang dari kalangan bawah” ucap Desta sambil melihat ke arah Widodo yang masih bersikap arogan dan meremehkan Desta.

__ADS_1


“Oh, satu hal lagi, tolong berikan hadiah kepada yang memerlukan, paman..!” sambung Desta dengan maksud untuk menyalurkan semua aset yang dimiliki Widodo ke panti asuhan dan yayasan sosial lainnya.


“Aku mengerti tuan muda..! Kalau begitu, berikan aku waktu 10 menit” ucap Sebastian dengan penuh hormat.


“Mmm, terima kasih, paman..! Aku akan menunggu 10 menit” jawab Desta dan panggilan telepon pun dimatikan.


“Hehe, bocah, kau pikir bisa menakut-nakutiku dengan akting jelek seperti itu?” Widodo masih tidak sadar bahwa seluruh asetnya sebentar lagi akan lenyap dan dia masih saja bersikap arogan seperti itu.


“Orang ini benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa” gumam Febrianto yang kasihan dengan nasib Widodo nanti akibat ulahnya sendiri.


“Kau tahu? Sangat disayangkan kau malah berteman dengan penipu seperti ini..! Kau itu bisa memiliki masa depan yang cerah jika bekerja denganku” ucap Widodo kepada Febrianto, tapi Febrianto tidak menanggapinya sama sekali.


“Maksudku, ayolah..! Kau pasti ingin melihat kedua orang tuamu bahagia, ‘kan? Memangnya apa yang dijanjikan orang itu sampai kau mau mempertaruhkan nyawamu? Aku bisa membayarmu 20 miliar per tahun jika kau mau bekerja sama denganku, dan itu adalah jumlah yang sangat besar dibandingkan bawahanku yang lain..!” Widodo masih sangat berusaha untuk membujuk Febrianto agar berpindah ke sisinya dan membantunya lari dari sana.

__ADS_1


“Begini saja, berapa yang dibayarkan oleh orang ini kepadamu agar kau mau mengikutinya? Aku akan memberikan 5 kali lipat bayaran yang kau terima darinya..!” dengan sangat percaya diri, Widodo menawarkan hal tersebut kepada Febrianto.


“Memangnya berapa banyak uang orang ini? Jika dilihat dari latar belakang orang ini, paling-paling hanya dengan uang beberapa ratus juta saja sudah mau menyerahkan nyawa miliknya” gumam Widodo dengan wajah yang meremehkan Febrianto.


“Kau yakin dengan ucapanmu itu?” tanya Febrianto sambil tersenyum kecil.


“Sebutkan saja, berapapun akan aku penuhi..!” jawab Widodo, dia mengira Febrianto mulai termakan rayuannya.


“Baiklah, kalau begitu aku ingin tahu apa benar kau bisa membayar 5 kali lipat bayaranku yang senilai 200 miliar setiap 5 bulan?” ucap Febrianto.


“Tuh, benar ‘kan? Hanya 200 jut... tunggu dulu..” Widodo terkejut dan ingin mendengarkan lagi ucapan Febrianto barusan.


“Berapa?” tanya Widodo.

__ADS_1


__ADS_2