
Setelah kejadian itu, Desta langsung menutupi jejaknya dengan menyuruh para peretas membuat berita tentang pabrik yang meledak seolah-olah sebuah kecelakaan arus pendek listrik yang menyebabkan kebakaran hebat.
“Dengan ini, setidaknya aku sudah bisa sedikit merasa tenang untuk mengurus pernikahanku dengan Debby” ucap Desta menghela nafas pendek.
Tadinya dia ingin menyusul Tirta dan Dewi yang membawa Febrianto untuk dirawat di rumah sakit, tapi, dengan kekuatan fisik yang dimilikinya, Desta yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Febrianto.
“Lebih baik aku segera pulang ke kota Jakarta sebelum Debby melontarkan banyak pertanyaan..!” ucapnya, lalu dia meminta Jefrey untuk mengantarkannya ke bandara karena akan memakan waktu lama jika ikut dengan pasukan Elang melalui jalur darat.
Desta pun membeli tiket dengan jadwal penerbangan jam 7 malam dari Jogjakarta menuju kota Jakarta.
Dengan tubuh yang sangat lelah, Desta tertidur pulas di dalam pesawat seperti telah dibius dengan obat tidur.
Dengan menempuh perjalanan udara selama 1 jam 15 menit, akhirnya Desta tiba di bandara Soekarno Hatta dan segera memesan taksi online untuk pulang ke apartemen.
Desta meraih saku celana untuk mengambil ponsel miliknya dan berencana untuk menghubungi Debby.
Tapi, belum sempat dia melakukan itu, perhatiannya teralihkan kepada keributan yang terjadi tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Banyak orang berkerumun di sana meneriakkan nama seseorang yang sepertinya sangat terkenal.
“Oh ada artis? Sampai membuat kegaduhan seperti itu, dia benar-benar seorang artis yang terkenal” Desta tidak menanggapi hal itu lebih jauh karena dia masih ada urusan yang lebih penting.
Tak lama kemudian, taksi yang dipesannya pun tiba dan segera mengantarkannya menuju apartemen.
“Deb, baru saja aku ingin menghubungimu” ucap Desta saat menjawab panggilan telepon dari Debby.
“Apa kau sudah pulang?” tanya Debby.
“Mmm, aku baru saja tiba di jakarta” jawab Desta.
“Lia.. divonis oleh dokter akan mengalami kelumpuhan pada kedua kaki seumur hidupnya” ucap Debby.
Desta sedikit tertegun mendengarkan berita tersebut, dia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa melindungi anggota keluarga Debby yang mana akan menjadi keluarganya juga.
“Deb, aku minta..” tidak sempat Desta melanjutkan perkataannya karena Debby memotong.
__ADS_1
“Dokter bilang, kelumpuhan Lia disebabkan oleh virus yang masuk ke sumsum tulang kakinya, dan kini Lia sedang menjalani operasi pengangkatan sumsum tulang dan menggantikannya dengan cairan khusus yang sudah pasti mengakibatkan kelumpuhan jika tidak segera menggantikannya dengan sumsum tulang lain yang asli dan cocok” lanjut Debby.
“Sudah, tenang saja, aku akan meminta bantuan paman Sebastian untuk segera mencarikan sumsum tulang yang cocok untuk Lisna” ucap Desta berusaha menenangkan Debby.
“Lia..! Siapa Lisna?” Debby bertanya dengan nada menyelidik dan pipi yang digembungkan.
“Iya itu maksudku, Lia.. Lia..! Siapa itu Lisna? Aku tidak tahu” jawab Desta canggung, dia malah teringat nama istri simpanan Widodo saat berada di kota Jogjakarta sebelumnya.
Debby menerima ucapan Desta begitu saja karena dia percaya bahwa Desta tidak akan berbuat sesuatu yang aneh-aneh di belakangnya.
“Mmm, terima kasih, Bontet” ucap Debby yang sudah mulai terdengar tenang.
Panggilan telepon pun dimatikan, Desta segera mencari nomor Sebastian untuk dihubungi.
“Paman, bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencarikan sumsum tulang kaki yang cocok untuk adiknya Debby dalam waktu dekat?” tanya Desta.
“Akan segera aku lakukan, tuan muda” jawab Sebastian dengan sigap.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, paman” ucap Desta, lalu panggilan telepon pun dimatikan.