
Di sisi Debby..
"Bu, aku sebentar lagi tiba, ibu menunggu di mana?" Debby menghubungi ibunya untuk segera menemuinya setelah dia tiba di depan lorong perumahan menuju kontrakannya.
"Aku dan ayahmu sedang membeli minuman dingin di seberang kontrakanmu, adikmu sedang menunggumu di depan kontrakan" Ibunya menjawab.
"Baik bu, aku temui Lia dulu kalau begitu" Debby berniat menemui adiknya terlebih dahulu kemudian masuk ke kontrakannya.
Setelah sampai di depan kontrakannya, Debby melihat Lia yang sedang mengobrol dengan seseorang di ponselnya, dan dia melambaikan tangannya kepada Debby.
"Sudah dulu ya, kak Deb sudah datang" Lia menutup panggilannya lalu mendatangi Debby.
"Kak, bagaimana kabarmu? Kau masih ingat kan dengan hari ini?" Lia menatap dengan tatapan menyelidik.
"Ah anu.. Itu.. Tentu saja aku masih ingat dasar adik bodoh..!" Debby hampir melupakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ibunya karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Lalu kau sudah menyiapkan kado apa, kak?" Debby terdiam sesaat dan kemudian teringat dengan baju pemberian Desta.
"Maafkan aku Bontet, tapi ini darurat" Debby bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
"Bicara apa kau? Tentu saja aku sudah membelikan kado untuk ibu..!" Debby tersenyum pahit, tapi Lia masih menatapnya dengan tatapan curiga.
"Eh itu ayah dan ibu..!" Debby mengalihkan pembicaraan dan melambaikan tangan kepada orang tuanya.
Ayah Debby bernama Retno, dia adalah seorang insinyur yang sekarang bekerja di perusahaan yang memproduksi mesin pesawat terbang di Malang.
Ibu Debby bernama Anna, adalah seorang ibu rumah tangga yang mulai membuka bisnis perhiasan kecil-kecilan namun penghasilan bersihnya bisa mencapai 30 juta per bulan.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam kontrakan.
Setelah merapihkan semua barang bawaan keluarganya dan selesai makan malam, mereka pun berbincang-bincang sebelum tidur sambil menonton televisi.
"Ibu, selamat ulang tahun..! Semoga ibu suka hadiah ini" Debby menyerahkan baju itu kepada Anna.
Dengan segera Anna membuka hadiah dari anaknya dan betapa terkejutnya dengan isinya.
"Debby, berapa gajimu yang kau habiskan untuk membeli baju ini?" Anna memang tidak mengetahui harganya, tapi dia tahu persis baju ini adalah merek yang mahal.
"Ah anu, itu, tidak banyak, hanya 30 juta saja bu" Debby tidak mengatakan harga yang sebenarnya karena dia tidak ingin ibunya berpikir yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Ternyata benar, ini memang terlihat seperti baju dengan harga segitu, terima kasih Debby kecilku" Anna pun percaya dengan omongan Debby lalu langsung mencobanya dan kebetulan ukuran bajunya muat dengan Anna.
"Huh, untung saja ibu percaya, maafkan aku bu, ini demi kebaikan kita semua, hehe" Debby bernafas lega.
"Bagaimana karirmu di sini, Deb?" Retno bertanya.
"Sangat baik yah, sepertinya aku akan sangat betah di sini" Debby tersenyum manis menanggapi pertanyaan ayahnya.
"Baiklah, selama kau merasa nyaman, aku tidak akan memaksamu kembali ke Malang" Retno melanjutkan.
"Tapi, apakah kau tidak memikirkannya kembali tentang tawaran dari Herman untuk bekerja di Malang? Gajinya akan sangat besar." Anna mencoba untuk meyakinkan Debby untuk menerima tawaran dari teman kuliahnya sewaktu di Malang.
Herman adalah teman kuliah Debby di Malang, dia menyukai Debby sejak semester 2 dan selalu mengejarnya hingga sekarang.
Saat ini dia berhasil mendirikan sebuah perusahaan ekspor impor di Malang dan sudah memiliki 3 kantor cabang di sana.
Namun Debby malah merasa risih dengan kepribadian Herman yang selalu merasa lebih benar dan congkak.
"Hmm, kita sudah pernah membahas ini bu..! Aku tidak ingin membicarakannya lagi" Debby memasang tatapan masam dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1