Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kau Akan Berakhir


__ADS_3

“Oi, apa kau mengerti bahasa isyarat?” tanya Desta kepada Febrianto agar mereka bisa berkomunikasi tanpa suara sedikitpun.


“Iya aku sangat paham dengan bahasa isyarat” Febrianto malah menjawab dengan bahasa isyarat, orang ini benar-benar suka pamer kemampuannya.


“Oke, kalau begitu apakah ruangan ini memiliki pintu keluar lain selain di sini?” tanya Desta.


“Ada 1 pintu lagi yang bisa digunakan untuk mengakses ke dalam” jawab Febrianto.


“Aku ingin kau jaga pintu keluar itu, jangan sampai Herman lolos..!” Desta memikirkan kemungkinan saat Herman terpojok, dia pasti akan melarikan diri lewat jalan lain.


“Oke” Febrianto mengangguk mengerti dan segera memutar gedung melalui jalan yang aman.


“Baiklah, kalau begitu saatnya beraksi” Desta menarik pelatuk senjatanya dan bersiap untuk melumpuhkan semua orang yang ada di dalam.


Lalu dia pun melompat ke dalam dan langsung menuju tiang beton terdekat.


“Dorr.. Dorr”


Suara tembakan pertama terdengar dari pistol bawahan Harianto yang menembak ke arah Desta, namun peluru-peluru itu meleset dan menghantam tembok.


“Dorr.. Dorr.. Dorr”


Suara pistol yang ditembakkan secara bertubi-tubi ke arah tiang beton tempat Desta bersembunyi.


Desta menunggu momentum yang tepat untuk melumpuhkan mereka semua, yaitu saat mereka kehabisan peluru.

__ADS_1


“Dorr.. Dorr”


Suara tembakan seperti tidak pernah berhenti dan Desta pun mulai kehabisan kesabaran, dia tidak punya cara lain untuk mendekat selain nekat.


“Hehe, jadi begini rasanya terpojok, seru juga..!” Desta bergumam dalam hati, kemudian dia melompat keluar dari persembunyiannya sambil menembakkan ke arah bawahan Harianto.


Sekali melompat, 4 orang lumpuh terkena tembakan di dahinya, tembakan Desta mengenai kepala dan langsung membunuh mereka semua.


“Oke, 4 jatuh, 29 sisanya” Desta sangat menikmati pertarungan ini, di sepanjang kegiatan tembak menembak ini dia selalu tersenyum karena baru ini dia berhadapan langsung dengan situasi hidup dan mati.


“Dorr.. Dorr.. Dorrr”


“Dorr.. Dorr.. Dorrr”


“Dorr.. Dorr.. Dorrr”


Namun dia menyadari ada sesuatu yang mengalir dari bahunya, itu adalah darahnya, Desta tertembak di bagian bahu sebelah kanan, walaupun tidak mengenai syaraf ataupun otot yang bisa membuat kejang, darah yang dia keluarkan sangat banyak.


“Hmm, sakit juga, ada sensasi rasa panas yang mendera di bahu kananku..! Ini semakin menyenangkan” bukannya takut kehabisan darah, Desta merobek bajunya dan mengikat luka tembakannya agar menghentikan pendarahan untuk sementara.


“Bocah, kau benar-benar hebat bisa membunuh sebagian besar pasukanku seorang diri, aku sangat meremehkanmu” Harianto berkata dengan nada yang bergetar karena takut jika Desta berhasil mengalahkan semua pasukannya, dia mungkin tidak akan bisa menghadapinya.


Lalu dia mengeluarkan sebuah bom tangan atau dikenal dengan granat dan menarik pelatuknya, lalu melemparkannya ke arah tempat Desta bersembunyi.


“Duarrr..” ledakan dari granat tersebut sangat besar di dalam ruangan yang sangat terbatas luasnya.

__ADS_1


“Ah, ini ledakan dari granat, pasti Harianto yang menggunakannya, apakah bos akan baik-baik saja?” Febrianto sangat bingung, dia merasa harus membantu Desta, tapi dia diperintahkan untuk menjaga pintu ini agar Herman tidak bisa kabur.


“Mmm, aku yakin bos bisa mengatasinya” Febrianto sangat percaya dengan kemampuan Desta, dia pasti bisa mengatasi ini.


Di sisi Desta..


“Wow, itu sangat mengejutkanku, untung aku pernah melihat granat sebelumnya, jadi aku sempat menghindar” ternyata Desta selamat, dan dia berpura-pura mati dengan cara tidak menimbulkan suara untuk mengelabui Harianto.


“Hahaha, sehebat apapun kau tidak akan bisa melawan granat” Harianto memerintahkan anak buahnya untuk mencari jasad Desta karena dia berpikir bahwa Desta tidak akan bisa mengelak dari granat itu.


Namun, begitu mereka mendekat..


“Dorr.. Dorr.. Dorrr”


Tembakan dari pistol yang digunakan Desta mengenai mereka semua, kini hanya tinggal Harianto dan Herman yang tersisa.


“Hmm, sepertinya peluruku habis, aku akan mengambil pistol orang itu saja kalau begitu” Desta langsung berlari dengan cepat untuk mengambil pistol dari anak buah Harianto yang sudah tergeletak di lantai, dan kembali bersembunyi di balik tiang beton.


“Tuan Herman, sebaiknya Anda segera pergi dari sini, situasi ini sudah tidak menguntungkan bagi kita” Harianto menyuruh Herman untuk melarikan diri sementara dia mengulur waktu untuknya.


“Febrianto, aku mengandalkanmu..!” Desta bergumam dalam hati dan membiarkan Herman pergi karena dia percaya dengan kemampuan yang dimiliki Febrianto.


“Baiklah, sekarang tinggal kau dan aku, sepertinya waktu itu aku terlalu lembut kepadamu ya” Desta mengingatkan kejadian saat di rumah Debby, dia menumbangkan tubuh besar Harianto hanya dengan 3 pukulan.


“Sepertinya begitu, dan akan aku buat kau menyesal telah berbaik hati kepadaku” Harianto segera mengambil sebuah senapan mesin dan menembakkan ke arah tiang beton tempat Desta bersembunyi.

__ADS_1


Desta terpojok dan Harianto merasa pistol tidak bisa menang melawan senapan mesin miliknya, dia tertawa terbahak-bahak dan mengatakan sesuatu dengan penuh percaya diri.


“Haha, bocah, ini akibatnya jika kau berani menggangguku, hidupmu akan berakhir hari ini” ucap Harianto dengan sangat bangga.


__ADS_2