
“Karena aku naik jabatan dengan sangat cepat, jadinya aku difitnah” ucap Debby terisak-isak.
“Fitnah apa? Siapa yang berani memfitnahmu?” ucap Desta yang menjadi kesal.
“Agung..! Dia mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan kenaikan jabatan ini karena aku sudah bermain belakang dengan manager Albert dan dia mengatakannya dengan sangat keras sehingga semua orang yang ada di dalam ruangan divisi pemasaran termakan oleh fitnahannya” ucap Debby dengan air mata yang semakin mengalir deras.
“Agung si kurang ajar itu..!” gumam Desta.
“Sudahlah, lagipula kan kau mengetahui yang sebenarnya, bagaimana kau bisa naik jabatan dan menggantikan posisi Agung” ucap desta yang mencoba untuk menenangkan Debby.
“Iya sih, tapi aku tetap saja tidak suka difitnah seperti itu..! Tidak ada yang suka difitnah..!” ucap Debby dengan nada kesal.
"Tapi jika difitnah menjadi orang kaya sih aku tidak menolak, hehe" ucap Desta yang sedikit bercanda agar Debby tidak terlalu bersedih.
"Bontet..!" bentak Debby.
“Iya maaf..! Sebenarnya aku bisa memikirkan beberapa cara untuk membuatnya meminta maaf padamu dan menghilangkan rumor akibat fitnahannya itu, tapi apakah kau akan setuju?” ucap Desta.
“Memangnya cara apa?” tanya Debby penasaran.
“Hehe, Nanti juga kau akan tahu” ucap Desta.
__ADS_1
“Memangnya apa sih?” Debby melihat Desta dengan tatapan yang curiga.
“Haha, tenang saja, bukan cara yang buruk kok” jawab Desta dengan wajah ketakutan kalau-kalau dia akan dicubit lagi oleh Debby.
“Sekarang jalani saja pekerjaanmu dengan santai, abaikan semua tatapan dan omongan jelek yang kau dapatkan nanti, aku yang akan mengurus semuanya dari belakang” ucap Desta dan menyuruh Debby kembali bekerja seperti biasa.
“Mmm, terima kasih bontet” Debby berdiri dan mengusap air matanya, lalu kembali ke ruangan kerjanya.
“Eh lihat, simpanan manager sudah kembali” teriak Agung yang membuat semua orang melihat ke arah Debby.
Namun seperti yang dikatakan Desta, dia tidak menghiraukan semuanya dan terus berjalan ke meja kerjanya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Kalau aku sih lebih baik jadi bawahan selamanya daripada harus menjual harga diriku”
“Memangnya dia bisa apa kalau sudah naik jadi atasan? Sudah lebih jelas pak Agung lebih kompeten untuk menjadi ketua tim divisi ini”
Semua orang jadi bergosip karena fitnahan Agung pada Debby, namun tetap saja Debby tidak akan menghiraukan itu semua seperti yang dikatakan Desta, karena dia percaya bahwa Desta tidak mungkin mengecewakannya.
Di sisi Desta..
“Haduh, memang kalau orang sudah gila jabatan, apapun akan dilakukan jika jabatannya diambil alih, termasuk cara kotor seperti itu” ucap Desta sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu saatnya beraksi” Desta berdiri dan berniat mengunjungi Hendra di ruangannya.
Setelah sampai di depan ruangan Hendra, Desta langsung saja masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu, dia ingin sesekali memberi kunjungan dadakan untuk Hendra.
“Tuan Desta, silakan masuk, aku pikir siapa yang berani masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu” ucap Hendra yang terkejut dan merasa Desta mulai hilang sopan santunnya, tapi dia tetap tidak bisa mengatakannya karena Desta adalah atasannya saat ini.
“Apa aku tidak boleh sesekali seperti itu?” tanya Desta sambil berjalan menuju sofa dan duduk.
“Haha, mana mungkin aku berani begitu tuan..! Ada apa tuan, Anda terlihat sangat kesal?” tanya Hendra yang sedari tadi melihat ekspresi Desta yang sangat tidak enak dilihat.
“Hmm, begini, Agung sudah membuat perkara di divisi pemasaran..!” ucap Desta yang mulai menjelaskan.
“Dia sudah berani membuat suatu fitnahan terhadap Debby, dan sekarang sudah menyebar menjadi rumor yang tidak enak didengar” sambung Desta.
“Rumor seperti apa memangnya tuan?” tanya Hendra.
“Kau tahu? Jenis rumor yang biasa terdengar di dunia politik, Debby difitnah sudah main belakang dengan manager Albert, makanya dia bisa naik jabatan menjadi ketua tim divisi pemasaran dan menyingkirkan Agung” Desta menghela nafasnya, dan Hendra tahu jika Desta sudah menghela nafasnya, berarti Desta sudah benar-benar kesal.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan tuan?” tanya Hendra.
“Bukan sekarang, tapi nanti ketika aku sudah berbicara pada paman Sebastian” ucap Desta yang membuat Hendra menaikkan alisnya.
__ADS_1