
“Target sudah beres, bos..!” ucap seseorang dalam sebuah percakapan di walkie talkie.
“Bagus, sekarang kembali berkumpul dan pergi dari sini..! Aku sudah bisa bernafas lega dendamku sudah dibalaskan..!” ucap Widodo menjawab informasi yang disampaikan oleh bawahannya tersebut.
Lalu mereka pun pergi setelah melihat 2 buah sosok yang mirip seperti manusia yang terbakar.
“Bos, jadi itu maksudmu menyuruhku untuk membungkus beberapa guling dan meletakkannya di sudut rumah?” tanya Febrianto yang akhirnya mengerti dengan perintah Desta sebelum mereka keluar dari rumah tersebut.
“Mmm, aku sudah memiliki firasat buruk tentang orang itu..! Tapi, tidak kusangka dia masih memiliki pengikut yang setia walaupun sudah tidak memiliki uang untuk membayar” jawab Desta dengan tatapan sangat tajam kepada mobil van yang kemudian meninggalkan lokasi tersebut.
Desta dan Febrianto berjalan ke arah puing2 rumah yang masih terbakar, lalu Desta mengambil ponselnya dan menghubungi Sebastian.
“Paman, persiapkan pasukan Elang Hitam dan berangkatkan malam ini juga ke lokasi yang aku kirimkan setelah panggilan ini kumatikan..! Kita akan berperang besar-besaran..!” ucap Desta saat panggilan teleponnya diangkat oleh Sebastian.
“Aku mengerti, tuan muda..! Pasukan akan berangkat secepatnya” jawab Sebastian.
“Mmm, aku akan menunggu” lalu panggilan telepon pun dimatikan oleh Desta.
__ADS_1
“Feb, sepertinya kita tidak akan bisa beristirahat untuk sementara..! Kita akan memberi salam terakhir kepada bos Widodo..!” Desta menatap kobaran api yang menyala-nyala dengan raut wajah yang menunjukkan amarah yang bahkan membuat Febrianto tidak berani untuk berkata apapun.
“Untuk sementara, kita pastikan kedua orang tuamu aman..! Jadi, kita akan berkunjung ke hotel sekarang juga” ucap Desta.
“Baik bos..!” Febrianto hanya bisa mengiyakan ucapan Desta tanpa bertanya satu patah kata pun.
Walau ini adalah rumah keluarganya Febrianto yang terbakar, Desta sangat tidak menoleransi tindakan vandalisme, terlebih lagi yang dirusak adalah tempat tinggal keluarga temannya.
Tanpa menggunakan kendaraan apapun, mereka berdua berlari menuju jalan raya yang membutuhkan waktu 20 menit.
Namun, dengan kemampuan mereka berdua, perjalanan tersebut dapat ditempuh hanya dalam 10 menit.
“Mmm, aku mengandalkanmu..!” Desta mengiyakan ucapan Febrianto lalu dia duduk bersila di pinggir jalan.
“Gila, stamina seperti apa yang dimilikinya? Lari dengan kecepatan seperti itu, tapi sama sekali tidak tampak kelelahan di wajah..” Febrianto menghentikan gumamannya lalu wajahnya berubah menjadi datar.
“Hah.. Hah.. Hahh..!” ternyata Desta juga merasa kelelahan setelah berlari begitu cepatnya selama 10 menit tanpa henti dan kini wajahnya terlihat pucat dengan nafas yang berat.
__ADS_1
“Sudahlah..!” Febrianto kembali melihat ponsel miliknya lalu memesan taksi online.
10 menit kemudian taksi pesanan Febrianto pun tiba dan mereka berdua segera menaikinya.
“Jika sesuai tujuan yang tertulis di aplikasi, kita akan menuju Hotel Himalaya ya?” tanya sopir taksi tersebut.
Tanpa jawaban yang berbasa-basi, Febrianto hanya menjawab, “Mmm.. sesuai aplikasi”.
Waktu sudah menunjukkan jam 2 malam, perjalanan mereka pun sangat lancar dan cepat karena tidak ada satupun kendaraan yang terlihat selain taksi yang mereka tumpangi.
45 menit kemudian, mereka tiba di depan sebuah hotel yang sepertinya bukan menjadi tujuan mereka.
“Feb, kau yakin sudah memasukkan nama hotel Himalaya yang benar?” tanya Desta saat dia melihat tampilan hotel yang sangat berbeda dengan hotel tempat orang tua Febrianto menginap.
“Aku yakin sudah benar bos..! Kalau tidak perca..” ucapan Febrianto terhenti saat dia melihat kembali alamat hotel yang mereka datangi saat ini.
“I-ini..!” Febrianto terlihat sangat bingung.
__ADS_1
“Ada apa?” Desta mendekati Febrianto untuk melihat apa yang dia lihat di ponselnya.
“Ah i-ini..!” Desta pun memberikan ekspersi yang sama seperti Febrianto sebelumnya.