Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Andre Diculik Pt.2


__ADS_3

"Ikat dia..!" ucap Denis sambil menyerahkan tali tambang kepada Firman untuk mengikat Andre di tiang kayu.


"Firman, hubungi temanmu yang bisa berkelahi, tapi suruh mereka jangan membawa pistol atau apapun yang bisa ditembakkan..! Aku tidak ingin mereka mati, itu hanya akan membuat balas dendam kita sia-sia..!" ucap Denis sambil berjalan ke sudut ruangan dan duduk untuk menghisap sebatang rokok filter miliknya.


"Huh, jika saja orangtuanya Erlin menerimaku dengan pekerjaanku sebelumnya, aku tidak harus melakukan ini semua" Denis menyandarkan tubuhnya di dinding dan merenungkan semua yang terjadi padanya.


"Denis, aku sudah menghubungi 10 temanku yang bersedia membantu kita dengan bayaran 10 juta masing-masingnya" ucap Firman.


"Ya sudah, aku yang akan membayarnya, asalkan mereka berdua jadi cacat, uang segitu tidak ada apa-apanya..!" jawab Denis yang menyetujui persyaratan dari teman-temannya Firman.


"Baiklah, aku akan memberitahukan mereka bahwa kau menyetujuinya" Firman kembali berbicara di ponselnya dan diakhiri dengan kesepakatan.


Jam 8 malam..


Denis dan Firman menyambut kedatangan 10 orang yang akan membantu mereka untuk membuat Desta dan Andre cacat.


"Baiklah, karena semuanya sudah ada di sini, aku akan menjelaskan rencananya” Denis mengumpulkan semua orang untuk membicarakan rencana pengepungan Desta.

__ADS_1


Mereka berkumpul dan berdiskusi selama hampir 1 jam, dan kebetulan Andre terbangun lalu tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka yang menyebutkan untuk mencelakai Desta.


“Sial, gara-gara aku Desta akan mengalami hal buruk” Andre bergumam dalam keadaan setengah sadar.


“Mengerti?” teriak Denis saat mengakhiri penjelasannya, lalu dia berbalik dan melihat ke arah Andre yang menatap mereka.


“Oh kau sudah bangun rupanya” Denis tersenyum licik dan berjalan mendekati Andre.


“Plak.. Plak..”


Tamparan yang cukup keras dilayangkan ke wajah Andre sebagai bentuk kekesalan Denis padanya.


“Huh, kau ini sungguh bisa melucu, yang mencari gara-gara itu ya kau sendiri, kenapa aku yang kau salahkan?” jawab Andre.


“Plak.. Plak..”


“tertawalah selagi kau masih bisa, karena sebentar lagi kau akan menangisi keadaanmu dan berharap kau tidak pernah dilahirkan” Denis menampar wajah Andre lagi dan bahkan hampir menghantamnya dengan sebuah pukulan.

__ADS_1


“Haha, kalian hanyalah sekumpulan pengecut..! Kau tidak berani menghadapi kenyataan yang kau buat sendiri dan malah menyalahkannya pada orang lain” jawab Andre.


“Orang ini memang sangat banyak bicara, apa perlu kita selotip mulutnya?” ucap salah satu teman Firman yang terlihat garang karena bekas luka yang ada di wajahnya dan dia sedang memegang pipa besi yang akan digunakannya untuk menghajar Desta nanti.


“Tidak usah, aku ingin mendengarkan teriakan kesakitannya ketika tangan dan kakinya kita patahkan nanti” ucap Denis yang tersenyum licik.


“Oh benar juga, kebetulan aku juga sangat suka mendengar teriakan kesakitan ketika aku sedang menghajar seseorang” jawab teman Firman yang lainnya.


Sekarang sudah menunjukkan jam 11 lewat 30 malam dan belum ada tanda-tanda dari Desta akan datang, Denis dan Firman pun mulai merasa khawatir akan kemungkinan Desta tidak akan datang.


“Tapi Sebastian sendiri yang mengatakan bahwa Andre adalah sahabat si tuan muda sialan itu yang bahkan sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri, jadi mana mungkin dia tidak akan datang menyelamatkannya” gumam Denis yang mulai tampak gelisah.


Tak lama kemudian terdengar suara klakson dari sebuah kendaraan yang parkir di halaman depan rumah tua itu.


Suara itu berasal dari mobil Desta yang akhirnya tiba bahkan sebelum tengah malam.


“Bersiap..!” Denis mengisyaratkan kepada seluruh anak buahnya untuk bersembunyi agar bisa menyergap saat Desta masuk ke dalam perangkap mereka.

__ADS_1


“Nah di saat begini, baru boleh kita selotip mulut kotornya ini” Denis mengambil sebuah selotip dan memotongnya untuk menutup mulut Andre agar dia tidak bicara dan membocorkan bahwa ini adalah sebuah perangkap.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah ruangan mereka, dan karena ruangan itu sangat minim pencahayaan, mereka tidak akan bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Desta saat berhadapan nanti.


__ADS_2