Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Seperti Di Dalam Film Aksi


__ADS_3

Siang harinya..


Ponsel Desta berbunyi oleh panggilan dari Jefrey yang sudah menunggunya di depan hotel Himalaya.


“Bos, pasukan sudah siap dan menunggu perintah dari Anda” ucap Jefrey saat panggilannya diangkat.


“Mmm, aku akan segera keluar” jawab Desta lalu mematikan panggilan teleponnya dan mengambil roti isi yang ada di meja makan untuk sarapan lalu berjalan menuju pintu.


Saat Desta membuka pintu, sudah ada Febrianto yang menunggunya sedari tadi.


“Tidak bisa tidur?” tanya Desta, dia tahu dengan masalah seperti ini mana mungkin Febrianto bisa tertidur.


“Aku tidak butuh tidur, bos..!” jawab Febrianto dengan wajah yang menunjukkan emosi membara.


“Plak..” Desta menampar wajah Febrianto dengan keras.


“Kenapa kau menamparku, bos?” Febrianto tidak mengerti apa yang dilakukan Desta karena tiba-tiba menamparnya seperti itu.


“Itu agar kau tidak mengantuk..!” jawab Desta, lalu mereka berdua pun berjalan menuju lift untuk segera turun ke bawah mengambil beberapa makanan untuk mengganjal perut mereka sementara.


Desta dan Febrianto segera menemui Jefrey yang sudah menunggu di depan.


“Berapa orang yang datang?” tanya Desta saat menghampiri Jefrey yang membukakan pintu mobil untuknya.


“50 orang termasuk 2 orang peretas yang sudah mengonfirmasi lokasi Widodo saat ini, tuan muda..!” jawab Jefrey.


“Bagus, ayo segera mulai perang ini..!” Desta sudah tidak bisa bersabar untuk segera memberi salam kepada Widodo.


“Baik, tuan muda..!” Jefrey langsung mengemudikan mobil menuju lokasi yang sudah diberikan oleh Widodo.


“Bos, si Widodol ini tadi bilang jangan bawa siapapun atau orang tuaku dalam bahaya” ucap Febrianto berbisik dari kursi belakang dengan nada yang sedikit cemas.


“Kau tenang saja, aku tidak akan menyuruh pasukan Elang Hitam masuk sebelum memastikan orang tuamu aman” jawab Desta.


“Tapi bos, dengan 50 orang yang ikut kita, bagaimana caranya agar tidak terlihat oleh mereka?” tanya Febrianto lagi.


“Feb, apa kau tidak tahu kemampuan pasukan Elang Hitam?” tanya Desta keheranan.

__ADS_1


“Aku hanya pernah mendengarnya saja, bos..! Tapi, aku belum pernah melihat mereka beraksi secara langsung” jawab Febrianto.


Jefrey dan Desta hanya tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Febrianto.


“Tenanglah..! Fokus saja untuk mengamankan orang tuamu nanti, biarkan pasukan Elang Hitam melakukan tugas mereka sendiri..!” ujar Desta dan Febrianto pun menganggukkan kepalanya karena percaya dengan ucapan Desta.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah pabrik yang terlihat masih aktif.


“Oke, sekarang kalian lakukan yang bisa kalian lakukan agar tidak terdeteksi tapi tetap berjaga di sekitar sini..!” ucap Desta sambil memasang sebuah headset tanpa kabel di telinganya sebelum membuka pintu mobil.


Headset tersebut adalah alat komunikasi dengan Jefrey untuk memantau situasi dalam melancarkan serangannya.


“Baik, tuan muda..!” jawab Jefrey, lalu dia mengambil walkie talkie yang ada di pintu mobil untuk berkomunikasi dengan pasukan Elang Hitam.


“Ksssssk.... Menyebar..!” ucap Jefrey saat menekan tombol untuk berbicara di walkie talkie tersebut.


Febrianto dan Desta pun turun dari mobil dan berjalan mengendap-endap ke dalam pabrik tersebut.


“Bos, aku dengar pabrik ini adalah sarang dari salah satu kelompok gangster di kota Jogjakarta..! Tapi aku tidak menyangka bahwa itu adalah kelompoknya Widodol” bisik Febrianto pelan agar suaranya tidak terdengar oleh seseorang yang mungkin sedang berjaga di dalam pabrik tersebut.


“Sudahlah, tidak usah kau bahas yang tidak perlu..! Fokus pada tujuanmu karena ini adalah orang tuamu, jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun..!” jawab Desta.


Setelah belajar dari pengalaman di kota Malang, Febrianto ternyata sudah membeli sebuah pistol untuk dibawa dalam misi seperti ini.


“Feb..!” panggil Desta saat melihat Febrianto memegang pistol.


“Ada apa, bos?” tanya Febrianto.


“Kenapa kau tidak memberikan aku pistol juga?” tanya Desta.


“Bos, aku bermaksud untuk memberikanmu yang lebih baik lagi” jawab Febrianto sambil melihat ke arah beberapa penjaga yang sedang bermain kartu judi sambil jongkok di pinggir gedung.


“Tapi ini masih terang, jika ingin mengambil senjata dari salah satu penjaga, aku harus membuat sebuah keributan..!” ucap Desta.


“Masalah itu serahkan kepada kami, tuan muda..!” ucap Jefrey di dalam headset yang dikenakan oleh Desta.


“Oh, kalian bisa melakukannya untukku?” tanya Desta sambil menekan tombol yang ada di headset tersebut untuk berbicara.

__ADS_1


“Penembak jitu sudah bersiap di posisi mereka, dan siap untuk memberikan jalan masuk untuk Anda” ucap Jefrey.


“Kalau begitu cepat lakukan..!” perintah Desta kepada Jefrey.


“Dimengerti..!” lalu sebuah tembakan yang teredam terdengar dari arah belakang Desta.


“Cep.. cep..” suara peluru yang bersarang di tubuh para penjaga itu langsung melumpuhkan mereka.


“Jef, peluru apa yang kalian tembakkan?” tanya Desta karena dia tidak melihat darah yang keluar dari para penjaga yang sudah dilumpuhkan.


“Itu adalah peluru bius, tuan muda” jawab Jefrey.


“Mantap..! Kali ini aku sepertinya benar-benar bisa meminimalisir korban..! Kalau begitu, apakah sekarang sudah aman untuk mendekat?” tanya Desta.


“Pasukan mengonfirmasi bahwa semua penjaga di luar gedung dan kamera CCTV sudah dilumpuhkan..!” jawab Jefrey meyakinkan Desta.


“Bagus, sekarang waktunya pembalasan..!” jawab Desta.


Mereka berdua pun langsung berlari kecil menuju penjaga yang sudah tidak sadarkan diri untuk mengambil perlengkapan mereka mulai dari rompi anti peluru hingga senjata dan amunisinya.


“Dengan ini setidaknya bisa mengurangi kemungkinan tertembak dengan luka yang fatal” ucap Desta sambil menyerahkan rompi anti peluru kepada Febrianto.


Namun, karena tubuhnya yang begitu besar dan kekar, rompi tersebut hanya bisa digunakan seperti jaket yang tidak ditutup resletingnya.


Mereka bergegas menuju pintu masuk terdekat dan melihat ke dalam untuk memastikan tidak ada yang menunggu mereka untuk ditembak.


“Bos, sejauh ini aku sangat terkesan dengan cara kerja pasukan Elang Hitam..! Benar-benar seperti pasukan elite militer..!” ucap Febrianto sambil tersenyum senang karena dia bisa maju dengan sangat mudah oleh bantuan Elang Hitam.


“Sudah aku katakan padamu sebelumnya bukan? Sekarang fokuskan terhadap kemungkinan serangan mendadak dari musuh..!” ucap Desta sambil menodongkan senjata yang diambilnya dari penjaga ke seluruh area seperti yang ada di dalam film aksi.


Dalam suasana hening dan sedikit tegang, “Aku hanya ingin menginformasikan bahwa para peretas mendeteksi adanya sekumpulan orang di lantai 3 yang sedang memegang senjata dan 2 orang duduk di kursi yang tangan dan kakinya diikat”.


Informasi mendadak seperti itu membuat Desta terkejut dan hampir saja menembakkan senjatanya.


“Jefrey kau kurang ajar..! Tidak bisakah kau berbicara dengan volume suara yang lebih kecil?” bisik Desta menjawab Jefrey.


“Ah maafkan aku, tuan muda..! Aku tidak bermaksud mengagetkan Anda, tapi informasi tersebut harus segera disampaikan agar Anda tidak membuang waktu dengan melumpuhkan satu per satu pasukan yang ada di dalam gedung untuk menemukan lokasi yang Anda cari” ucap Jefrey.

__ADS_1


“Mmm, baiklah..! Kerja bagus, aku akan segera menuju ke sana..!” jawab Desta.


Desta memberikan bahasa isyarat kepada Febrianto untuk menjaganya dari belakang, lalu mereka bergegas menuju lantai 3 seperti yang dikatakan Jefrey sebelumnya.


__ADS_2