
"Kau akan..."
"Kraak.."
Sebuah suara dari tulang yang patah membuat Debby yang berada di dekatnya menjadi ngilu.
"Aaaarrrrgggghhhh....!" Herman menjerit kesakitan setelah kakinya dipatahkan oleh Desta.
"Hah, kau bilang mau apa tadi?" Desta kembali duduk dan menanyakan pertanyaan yang sama.
Herman tidak mendengarkan pertanyaan Desta karena rasa sakit yang dia terima, dia hanya bisa berkonsentrasi untuk menahannya.
"Jika hanya ini kemampuanmu, jangan pernah berpikir untuk mengancamku..!" Desta mendorong wajah Herman dengan kakinya.
"Jika kau tidak memukul Debby, mungkin aku hanya akan menamparmu" ucap Desta dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Sebastian.
__ADS_1
"Paman, lakukanlah..!" ucap Desta memerintahkan Sebastian.
"Seperti yang anda minta, tuan muda" Sebastian mengiyakan dan segera melancarkan rencananya.
10 menit kemudian ponsel milik Herman berbunyi, ada panggilan masuk dari pengurus keuangan yang bekerja perusahaannya.
"Angkat dong..! Siapa tahu panggilan penting" Desta memasang senyuman jahatnya dan menyuruh Herman mengangkat panggilan telepon itu.
"Pak Herman, perusahaan kita mengalami kebangkrutan, dan semua aset perusahaan termasuk klien tetap kita telah beralih ke perusahaan lain, bahkan seluruh sertifikat tanah termasuk rumah anda telah beralih nama menjadi Candra, maafkan aku tidak bisa melacak pelakunya, pak" ucap orang di ujung teleponnya dengan menyebutkan situasi yang sedang menimpanya dengan suara yang terdengar sangat panik.
Dia sudah mengecek seluruh akun rekening tabungannya, dan semua uangnya menghilang tanpa jejak, begitu juga akun kartu kreditnya yang sudah terblokir.
Dia kini hanya memiliki uang 5 juta rupiah yang disimpannya di dalam koper di bawah kursi mobilnya.
Herman melihat ke arah Desta dan berkata, "Kau.. apa yang kau lakukan?".
__ADS_1
"Hah? Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku dari tadi hanya duduk manis di depanmu, kan kan punya mata, masa tidak bisa lihat?" jawab Desta dengan santai.
"Kurang ajar..." Herman ingin marah pada Desta, namun dia tak bisa melakukannya, dia takut bagian tubuhnya yang mana lagi yang akan dipatahkan oleh Desta nanti.
"Aku akan laporkan ini kepada polisi" Lagi-lagi Herman mengancam Desta.
"Silakan saja, aku juga akan melaporkanmu dengan tuduhan percobaan pembunuhan dengan semua hal yang keluarga ini terima darimu, mobil yang hancur, Debby yang kau tampar hingga mimisan, hingga menyuruh pengawal untuk menghancurkan kediaman keluarga ini" Desta membalas dengan fakta yang ada.
"Sedangkan tuduhan yang akan kau laporkan? Aku bisa memastikan tidak akan ada yang mau menerima laporanmu walau kau laporkan hingga ke ujung Indonesia sekali pun" sambung Desta.
"Itu hanya sebagian kecil kekuatan dariku, aku bisa dengan mudah menjungkir balikkan kesombonganmu itu, tapi aku ingin memberikan kau 1 kesempatan lagi" Desta membuat angka 1 dengan jari telunjuknya.
"Berlututlah kepada setiap orang di keluarga Debby dan minta maaf pada mereka, jika semua orang memafkanmu, aku akan memberikanmu kartu ATM yang berisi uang 50 miliar yang mungkin bisa kau gunakan untuk membuka usaha baru" Desta mengeluarkan kartu ATM dari saku celananya.
"Tapi jika ada 1 orang saja yang tidak memaafkanmu, kau bisa tinggal di bawah kolong jembatan atau di rel kereta api, itu terserah padamu" Desta menunggu jawaban dari Herman sambil meminum teh manis yang sudah mulai dingin.
__ADS_1