Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Herman Mati


__ADS_3

"Iya tenang saja, nanti pasti akan kubunuh, tapi sekarang aku sedang ingin menghukummu dulu, ya" Desta benar-benar terdengar seperti seorang psikopat, dan itu membuat Febrianto merasa takut tapi sekaligus kagum pada Desta.


"Mulai saat ini, kau adalah idolaku" Febrianto bergumam dalam hatinya, dia mengagumi Desta karena kekejamannya.


"Dorr.." suara tembakan terdengar kembali.


"Wah aku meleset, aku ingin sekali mengincar kepalamu, tapi karena tanganku sedang terluka, jadi hanya mengenai telingamu" Desta mengatakan itu dengan senyuman yang sangat jahat.


"Hoaaaam, aku mulai bosan dengan hal seperti menghukummu, baiklah kalau begitu" Desta menempelkan pistolnya di dahi Herman, dan Herman pun sudah sangat pasrah akan keadaannya.


"Oke, sampai jumpa Herman, semoga kau tidak membenciku ya" Desta tersenyum dan menarik pelatuknya.


"Dorr.."


Sebuah tembakan terakhir yang merenggut nafas terakhir Herman dan akhirnya dia tergeletak di tanah sudah tak bernyawa.


"Wah, aku benar-benar menunjukkan sisi jahatku padamu, sebaiknya kau diam tentang ini atau itu akan menjadi mayatmu" Desta menunjuk ke arah tubuh Herman yang berlumuran darah, dia benar-benar terlihat seperti iblis.

__ADS_1


"Ba-ba-baik tu-tuan" jawab Febrianto dengan suara yang terbata-bata karena gugup.


Lalu mereka segera meninggalkan tempat itu dan membiarkan semua mayat-mayat yang berserakan di sana, karena bagaimanapun itu adalah gedung tua yang sudah sangat lama ditinggalkan, jadi tidak akan ada orang yang menemukannya untuk sementara ini.


"Sekarang aku bisa merasa lega" Desta berjalan sambil meregangkan tubuhnya dan bergegas kembali melalui jalur awal mereka datang agar tubuh Desta yang berlumuran darah tidak terlihat oleh seseorang.


Mereka pun meninggalkan area gedung tua itu tanpa melihat ke belakang lagi, Febrianto melihat Desta sebagai orang yang mengerikan dan dia tidak akan pernah satu kali pun untuk menyinggungnya.


"Malam ini kita akan menginap di hotel yang dekat dengan bandara, karena jadwal kita akan kembali ke Jakarta adalah besok pagi" ucap Desta sambil bersandar di bangku belakang.


"Oke bos, tapi apa kita tidak segera pergi ke rumah sakit? Lukamu terlihat serius" Febrianto menjawab dengan sigap.


Kini Desta sudah tidak punya kekhawatiran tentang Herman, dia hanya memikirkan tentang rencana pernikahannya dengan Debby yang akan berjalan dengan damai.


Mereka pun berhenti di depan sebuah hotel, tapi sebelum keluar dari mobil, Desta mengganti pakaiannya terlebih dahulu agar tidak terlihat mencurigakan dan menarik perhatian karena bersimbah darah.


"2 kamar untuk 1 malam" ucap Desta kepada resepsionis yang sedang bertugas.

__ADS_1


Proses administrasi dan pembayaran pun sudah selesai, mereka segera pergi ke kamar masing-masing.


"Bos, jika kau perlu sesuatu, panggil saja aku" ucap Febrianto.


"Mmm.." Desta hanya menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar.


"Ah, luka ini lumayan membuatku susah, harus cepat kuobati" Desta langsung membuka baju dan celananya dan bercermin untuk melihat luka tembakan yang dia dapat.


Dia melihat ada 2 luka di kakinya dan 1 luka di tangan kanannya, Desta pun segera membersihkan lukanya dengan alkohol, membakar sumbu lilin untuk mensterilkan pinset yang akan digunakannya mencabut peluru yang masih bersarang di tangan dan kakinya.


Dengan perlahan dia basuh alkohol pada lukanya, dan segera merasakan sensasi perih luar biasa ketika lukanya tersapu oleh cairan itu.


Satu per satu dia mengeluarkan semua peluru itu dan kemudian menjahit luka yang menganga dengan penuh kesakitan.


Setelah proses pengobatan selama hampir 2 jam, akhirnya dia pun selesai dan bisa bernafas lega.


"Hu, tidak kusangka akan sesakit ini, aku tidak akan mau terkena tembakan seperti ini lagi" Desta merasa tidak ingin melalui proses yang menyakitkan itu lagi.

__ADS_1


Karena tenaganya sudah terkuras banyak, akhirnya Desta pun tertidur pulas dengan perban yang melingkar di tangan dan kakinya.


__ADS_2