
“Cukup atraksinya, cepat selesaikan tugasmu..!” ucap Desta yang sudah duduk di atas tubuh salah satu penyerang yang sudah dilumpuhkannya.
“Siap bos..!” Febrianto membuang patahan senjata tajam yang ada di tangannya dan segera berlari mengejar 2 orang sisanya.
“Bak.. Buk.. Buk.. Buk..” pukulan keras pun terdengar berkali-kali dan tak lama kemudian.
“Bruk...” tubuh kedua orang sisanya, berjatuhan ke lantai setelah dihantam oleh Febrianto tepat di wajah mereka dengan tinjunya yang sangat keras.
“Bagus..! Sekarang kondisinya masih belum bisa aku pastikan, tapi setidaknya sekarang sudah terlihat aman” Desta berasumsi bahwa masih ada beberapa orang lagi di luar ruangan yang menunggu.
“Aku akan memeriksanya bos” Febrianto berjalan perlahan menuju pintu keluar dan mendekati mobil van berwarna hitam yang terparkir tak beraturan di depan kantor polisi tersebut.
Febrianto memeriksa secara perlahan dan seksama, dia tidak menemukan siapapun yang sedang menunggu ataupun bersembunyi didalam mobil van tersebut.
Dia lalu melihat-lihat ke sekeliling kantor polisi untuk memastikannya lagi.
Tetap saja tidak bisa dia temukan siapapun, akhirnya dia kembali ke dalam dan memberikan informasi yang dia lihat tadi kepada Desta.
“Oke, sekarang kau bisa membawa kedua orang tuamu pulang” ucap Desta yang masih duduk di atas tubuh orang pingsan.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu bos?” Febrianto bingung dengan ucapan Desta.
“Aku akan menunggu jenderal Winoto di sini, tidak enak ‘kan jika beliau datang tapi aku tidak sedang berada di tempat” jawab Desta dengan santainya.
“Oke bos, aku akan mengantarkan kedua orang tuaku ke hotel untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman..! Aku akan kembali lagi ke sini setelah mengantarkan mereka” Febrianto merunduk meminta persetujuan kepada Desta.
“Mmm..” Desta mengangguk mengiyakan ucapan Febrianto.
“Tok.. Tok..”
“Ayah, ibu, bukalah pintunya, keadaan sudah aman” teriak Febrianto memanggil kedua orang tuanya.
“Feb, apa yang kau lakukan kepada mereka?” tanya ayahnya Febrianto.
“Ah itu...” Febrianto bingung harus menjelaskan apa kepada kedua orang tuanya.
“Mereka ini aku semua yang menghajarnya, Febrianto menjadi anak yang sangat penurut, dia tetap menjaga pintu ruangan agar tidak ada yang bisa masuk dan melukai kalian” Desta melindungi identitas Febrianto untuk sementara karena dia tahu suatu saat nanti pasti akan ada waktunya dia menjelaskan yang sebenarnya kepada orang tuanya dan itu bukan hari ini.
“Terima kasih banyak bosnya Febri, keluargaku berhutang banyak kepada Anda..! Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Tirta dan dia adalah Dewi, istriku” ucap ayahnya Febrianto.
__ADS_1
“Salam kenal paman..! Namaku Desta, kalau begitu cepatlah pergi dari sini sebelum yang lain berdatangan..!” Desta menyuruh mereka agar cepat meninggalkan kantor polisi terlebih dahulu.
“Baik bos..!” Febrianto pun pergi bersama keluarganya meninggalkan Desta di kantor polisi.
“Ah, kepalaku sakit sekali..!” Rio sudah mulai tersadar dari pingsannya.
“Yo, kau sudah sadar?” Desta menyapa Rio yang masih setengah sadar dan mengusap-usap kepalanya.
Pukulan di belakang leher akan sangat membuat orang merasa pusing seperti terbangun setelah mabuk-mabukan.
“Kau..” Rio tertegun saat melihat sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang jatuh pingsan.
“Ada satu hal penting yang ingin aku tanyakan padamu, dan kau tidak ada pilihan untuk tidak menjawabnya dengan jujur..!” Desta berdiri dan menghampiri Rio yang masih berbaring di lantai untuk memulihkan dirinya dari rasa pusing.
“Siapa yang menyuap kalian dan apa yang dia tawarkan untuk membuatmu melakukan hal kejam kepada orang tua temanku?” ucap Desta, tatapannya berubah menjadi sangat tajam saat mengatakan pertanyaan tersebut.
“Cih, untuk apa kau mengetahuinya? Kau bukanlah orang yang bisa menyentuh ataupun menyinggung pria seperti dia..!” Rio menolak memberikan informasi kepada Desta.
“Hei ayolah, aku sedang berusaha berbaik hati di sini, jika kau mengatakan yang sebenarnya, aku akan memberitahu jenderal Winoto untuk meringankan hukuman bagimu..!” ucap Desta dengan senyuman tipis.
__ADS_1