Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Denis Menyerah


__ADS_3

“Aarrrrghhh... Denis kau sialan..! Kenapa kau malah menembakku?” teriak Firman yang menahan sakit karena kakinya yang ditembak oleh Denis.


“Diam kau, diam kalian semua..!” Denis sudah benar-benar terlihat kehilangan pikiran sehatnya.


“Aku yang sudah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di Heir Group agar aku bisa menikah dengan Erlin, karena ayahnya yang selalu memandangku rendah dengan pekerjaanku sebelumnya yang biasa saja” Denis menceritakan kegelisahannya pada semua orang yang ada di ruangan itu.


“Lalu ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan sebagai manager di perusahaan itu, ayahnya sudah mulai memandangku dan mulai berbicara denganku seolah aku ini adalah anaknya” sambung Denis dengan air mata yang mulai bercucuran.


“Dan akhirnya ayahnya menyetujui lamaranku untuk menikahi Erlin, dan kami akan menikah 6 bulan lagi” Denis berjalan mendekati Andre dan mulai mengarahkan pistolnya kembali padanya.


“Aku sudah mulai merasakan hidupku menjadi lebih berarti” sambung Denis yang terus mengarahkan pistolnya kepada Andre.


“Tapi kemudian kau muncul dan dengan seenaknya memecatku, dan membuat semuanya berantakan..! Karirku, rencana pernikahanku yang terancam batal jika ayahnya tahu aku sudah menjadi pengangguran sekarang, dan semua itu gara-gara kau, dasar tuan muda sialan..!” teriak Denis histeris dengan semua amarah yang ada di dadanya.


“Dan aku akan membuatmu merasakan akibatnya karena sudah membuatku menderita seperti ini..!” Denis akan menarik pelatuk senjatanya dan dia berniat untuk melukai Andre, tapi dia tidak berencana untuk membunuhnya.


“Oi, itu semua terjadi kan karena ulahmu sendiri, tidak ada hubungannya denganku..!” ucap Desta yang membantah ucapan Denis.


“Dor..”


Tembakan Denis meleset karena disengaja, dia hanya berniat untuk mengancam Desta lalu membuatnya terluka parah, dia sama sekali tidak ada niatan untuk melukai Andre.


“Tidak ada hubungannya denganmu? Tentu saja ada, kau lah yang membuat Sebastian memecatku dengan tingkah aroganmu yang menjijikkan itu..!” jawab Denis yang semakin kesal.


Denis sudah semakin buta karena rasa emosi dan dendamnya, sampai-sampai dia bahkan tidak menyadari bahwa Desta sudah melangkah sedikit demi sedikit mendekat padanya.


Namun, karena Firman yang sudah berpikiran tenang setelah tertembak oleh Denis, dia pun menyadari yang dilakukan oleh Desta.


“Denis awas..! Dia berjalan mendekatimu..!” teriakan itu membuat Denis sadar akan jarak Desta yang semakin mendekat kepadanya.


“Berhenti..! Atau kuhancurkan kepalanya” ancam Denis yang kembali mengarahkan pistolnya ke kepala Andre.


Andre hanya bisa diam dan pasrah untuk apa yang akan terjadi selanjutnya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Denis akan membawa pistol bersamanya.

__ADS_1


“Tenanglah, aku akan melumpuhkan orang ini dan kau tidak akan terluka sedikitpun” Desta membentuk bahasa isyarat dengan tangan kanannya yang diangkat ke udara.


Andre mengangguk mengerti dan menggantungkan keselamatan dirinya pada Desta saat ini.


“Aku akan mencoba mematahkan tangannya” ucap Desta lewat bahasa isyarat yang dibuatnya.


“Denis, bagaimana jika aku menantangmu untuk berkelahi dengan tangan kosong? Yang kalah harus menuruti semua ucapan yang menang” ucap Desta yang berusaha membujuk Denis.


“Kau pikir aku bodoh? Setelah kau mengalahkan kesepuluh orang itu dengan tangan kosong, mana mungkin aku mau melawanmu” ucap Denis yang menolak tantangan Desta.


“Huh, Kau kan memang bodoh” ucap Desta pelan yang mengejek Denis.


“Kau bilang apa?” Denis mendengar ucapan Desta dan merasa terhina.


“Ah tidak, kau itu orang yang paling tampan dan jenius di seluruh galaksi ini..!” kilah Desta lalu menoleh ke arah lain.


“Jangan mengejekku..!”


“Dor.. Dor..”


“Firman, kau sudah ditembak olehnya, kenapa masih kau bantu orang gila itu?” ucap salah satu teman Firman yang sudah dikalahkan oleh Desta, tapi karena urat kakinya sudah diputuskan oleh Desta, jadi dia hanya bisa melihat sambil terbaring.


“Bagaimanapun aku sudah terlanjur kesal bahkan dendam dengan tuan muda itu, jadi aku akan membantu Denis walaupun aku sudah ditembak olehnya” jawab Firman.


“Jawaban yang pintar..!” ucap Denis yang tersenyum sinis.


“Hah, ini sudah terlalu lama, aku tidak tahan lagi berpura-pura takut seperti ini, lagipula jarak yang dibutuhkan sudah terpenuhi” gumam Desta yang akhirnya memutuskan untuk melumpuhkan Denis dengan cepat, dia sudah sangat lelah karena seharian ini belum sempat beristirahat.


“Denis, bagaimana jika aku memaksamu bertarung melawanku?” Desta mulai menurunkan tangannya dan membuat kuda-kuda untuk bertarung.


“Kau.. Mau apa kau?” ucap Denis kemudian mengarahkan pistolnya kepada Desta.


“Tidak ada, aku hanya ingin mempercepat ini semua” jawab Desta yang sudah siap untuk maju untuk menghajar Denis.

__ADS_1


Desta merunduk dan berlari maju mendekati Denis dengan kecepatan tinggi, Denis pun menembakinya hingga peluru di dalam pistol itu habis, namun tidak ada satupun tembakan yang mengenai Desta.


Setelah pertempuran senjata api di Malang, Desta sudah berlatih untuk menghindari peluru dengan pistol asli namun dengan peluru karet, sehingga kalaupun dia terkena tembakan tidak akan melukainya.


Pergerakan Desta yang sangat cepat tidak sempat dibaca oleh Denis hingga akhirnya Desta pun berada tepat di hadapannya tanpa bisa bereaksi.


“Ka-kau ini sebenarnya apa? Tidak mungkin manusia biasa bisa menghindari peluru seperti itu..!” ucap Denis dengan suara yang bergetar dan tak bisa berbuat banyak karena pergelangan tangannya sudah digenggam oleh Desta dan diangkat ke atas.


“Aku ini apa? Jahat sekali, aku kan juga manusia biasa, hanya saja pelatihanku jauh lebih berat dari manusia biasa lainnya” jawab Desta dengan senyuman kecil lalu mengepalkan tangannya.


“Buk.. Buk.. Buk.. Buk..”


Pukulan yang difokuskan ke ulu hati Denis membuatnya benar-benar berusaha mati-matian untuk bisa bernafas, dan jika Desta melanjutkannya, bisa-bisa Denis meninggal.


Lalu Desta melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Denis dan membiarkannya terjatuh di lantai dengan keras.


Denis kini tak bisa berkata apa-apa, dia hanya memfokuskan untuk menarik nafas karena untuk beberapa detik dia tidak bisa menarik ataupun menghembuskan nafasnya.


“Lihat itu, kau sekarang malah terlihat seperti cacing kepanasan, haha” teriak Desta dengan tawa yang lepas.


Lalu Desta berjalan ke arah Andre yang sudah dari tadi menunggunya untuk diselamatkan.


“Sraaaak..”


“Aduh..!” Teriak Andre ketika selotip yang menempel di mulutnya dicabut begitu saja oleh Desta.


“Aku dari tadi ingin memperingatkan mereka semua agar tidak berhadapan denganmu, tapi mereka tidak bisa mendengarkanku karena selotip bodoh ini” ucap Andre yang mengasihani semua orang yang tumbang.


“Terima kasih sudah datang menyelamatkanku, bro..!” ucap Andre karena bersyukur Desta adalah temannya.


“Sudahlah, pokoknya setelah ini, kau yang menyetir, aku sangat lelah dan juga sangat lapar” jawab Desta yang mengeluh.


“Aku akan memaksamu untuk belajar beladiri di sekolah beladiri milik kak Danu di gedung olahraga milik perusahaan, agar kau bisa melindungi dirimu sendiri” ucap Desta menyarankan Andre.

__ADS_1


“kak Danu? Sekolah beladiri? Gedung olahraga milik perusahaan? Astaga, memangnya sudah berapa banyak aku ketinggalan informasi?” teriak Andre karena dia bahkan tidak mengetahui bahwa perusahaan Heir Group punya gedung olahraga sendiri, apalagi tentang sekolah beladiri yang baru saja dibuka oleh Kamandanu.


__ADS_2