Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Hukuman Dan Pemecatan


__ADS_3

Desta yang ternyata belum pergi dari kantor polisi tersebut karena sedang berkeliling area sekitar situ untuk memastikan situasi saat ini hanya melihat ekspresi putus asa dari Rio setelah tahu bahwa yang ditantangnya tadi, adalah jenderal Winoto yang asli.


“Hehe, sekarang kau sepertinya sudah menyesal ya?” ucap Desta seraya berjalan mendekati Rio yang terduduk lesu di kursi.


“Terserah kau mau bicara apa..! Kalau saja bukan karena kau yang menelepon jenderal Winoto, aku tidak akan dipecat..!” Rio menjawab dengan nada yang sangat lemah.


“Bro, itu kan salahmu sendiri karena menganggap ucapanku hanya bualan saja..! Aku sudah berkata jujur dan memperingatkanmu dari awal bahwa yang aku hubungi adalah jenderal Winoto, tapi kau saja yang kurang pintar, malah sampai menantang pak jenderal, haha..!” Desta menertawakan kebodohan Rio.


10 menit kemudian, jenderal Winoto pun akhirnya benar-benar tiba dengan sebuah mobil anti peluru dan pasukan khusus sebanyak 20 orang yang mengawalnya.


“Ah, akhirnya pak jenderal tiba..!” ujar Desta menoleh ke arah luar.


“Tuan muda, maaf aku terlambat..!” ucap jenderal Winoto dengan penuh hormat.

__ADS_1


Sikap yang dilakukan oleh jenderal Winoto pun membuat semua orang yang melihatnya termasuk para pasukan khusus keheranan.


Seorang jenderal besar dengan pangkat tertinggi di kepolisian, bisa memberikan sebuah rasa hormat kepada seorang pemuda yang terlihat sangat biasa saja.


“Tidak masalah pak jenderal, yang terpenting sekarang aku mau mereka semua segera diurus..!” Desta menunjuk ke arah Rio dan semua orang yang tergeletak di lantai.


“Jadi, kalian yang sudah menyinggung tuan muda?” tatapan jenderal Winoto pun menjadi sangat tajam saat melihat Rio yang sedang duduk di kursi.


“Kau Rio? Coba, aku ingin melihat keangkuhanmu saat ditelepon tadi..!” tantang jenderal Winoto, tapi Rio hanya terus diam tak merespons apapun.


“Ya, itu sudah aku duga..! Kau hanya berani bicara saja..!” Rio pun dibawa oleh pasukan khusus dan dimasukkan ke dalam mobil tahanan.


“Tuan muda, aku ingin melihat surat kepemilikan tanah yang Anda bicarakan tadi untuk menguatkan bukti” ucap jenderal Winoto yang menghampiri Desta.

__ADS_1


“Tidak masalah” Desta mengambil dan menunjukkan surat kepemilikan tanah orang tua Febrianto yang diberikan kepadanya saat dalam perjalanan menuju kantor polisi sebelumnya dari bandara kepada jenderal Winoto.


“Ya, ini memang surat kepemilikan tanah yang asli karena ada cap dan tanda tangan dari notaris yang mengesahkan surat ini, dan kebetulan aku sangat mengenal notaris ini” jenderal Winoto menganggukkan kepalanya menandakan keabsahan surat tersebut.


“Baguslah, aku senang mendengarnya” jawab Desta sambil tersenyum kecil.


“Jadi, apa yang ingin Anda lakukan terhadap mereka semua, tuan muda?” tanya jenderal Winoto.


“Hmm, memangnya apa lagi yang bisa aku tambahkan selain hukuman pemecatan dan penjara sesuai dengan hukum?” Desta bertanya balik kepada jenderal Winoto sambil mengangkat bahunya.


“Baiklah, kalau begitu mereka akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku” ucap jenderal Winoto sambil memainkan kumisnya.


“Oh, aku baru ingat, tolong pastikan agar mereka tidak bisa ditebus oleh siapapun agar dibebaskan..! Orang-orang seperti ini hanya akan menyusahkan lingkungan saja” karena Desta mengatakannya dengan bersungguh-sungguh, jenderal Winoto pun mengiyakan tanpa pertanyaan sedikitpun dengan permintaan Desta tersebut.

__ADS_1


__ADS_2