Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Pengakuan Febrianto


__ADS_3

“Masih saja kau membual tentang itu? Aku sudah muak dengan ucapanmu itu..! Sekarang pergilah sebelum kau menyesalinya” Rio masih bersikeras untuk tidak mempercayai ucapan Desta tentang kedekatannya dengan jenderal Winoto.


“Hmm, kalau kau tidak mau berbicara, aku akan memaksamu..!” Desta berbalik dan mengambil senjata tajam yang tergeletak di lantai, lalu kembali mendekati Rio dengan senyuman psikopat.


“Mau apa kau?” Rio bergidik merinding melihat ekspresi wajah Desta yang tiba-tiba berubah.


“Oh percayalah kau tidak akan mampu membayangkan apa yang akan aku lakukan kepadamu..!” Desta merunduk dan mengayunkan senjata tajam tersebut ke arah Rio.


“Tu-tunggu dulu..! Aku akan memberitahukan apapun yang kau ingin tahu” Rio berteriak sekeras mungkin untuk menghentikan Desta mengenai tubuhnya dengan senjata tajam tersebut.


“Anak pintar..!” Desta menepuk-nepukkan sisi parang ke pipi Rio dan dia melihat ada yang mengalir dari celananya.


“Oi, apa kau serius mengompol sekarang ini?” Desta mundur beberapa langkah untuk menghindari sepatunya dari air kotor yang mengalir itu.


“Aku juga cepirit gara-gara kau..!” Rio mengatakan yang sebenarnya.


“Aih, jorok..!” Desta mundur menjauh dari Rio sambil menutup hidungnya.


“Jadi, apa yang ingin kau tahu?” tanya Rio yang terlihat sangat malu dengan kejadian ini.


Dia benar-benar semakin merasa dendam kepada Desta, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun untuk membalasnya.

__ADS_1


“Sudah, jawab saja pertanyaanku tadi..!” jawab Desta.


“Tentang itu, aku hanya mengetahui sedikit detailnya karena yang berhubungan langsung dengan pria itu adalah atasanku, Patrick...! Dia ada didalam ruangan itu, tapi aku rasa temanmu tadi, sudah membuatnya pingsan” jawab Rio seraya menunjuk ke arah ruangan Patrick.


“Hmm, lalu apa yang ditawarkannya untuk kalian agar mau melakukan apa yang dia mau?” Desta melanjutkan pertanyaannya.


“Dia menjanjikan kami semua 10 persen keuntungan dari mall yang akan didirikannya di tanah yang akan dibelinya dari temanmu itu” Rio menjawab dengan jujur juga kali ini.


“Mall? Bukankah itu terlalu besar untuk tanah yang hanya berukuran 40 ribu meter saja?” Desta menaikkan alisnya karena kebingungan.


“Oh untuk itu, dia sudah membeli tanah dari para tetangga temanmu itu, dan hanya tanah itu saja yang masih belum dia dapatkan, makanya dia sampai melakukan hal-hal seperti ini” lagi-lagi Rio menjawab dengan jawaban yang jujur.


“Bagus, kau benar-benar sudah sangat jujur dan bekerja sama dengan baik..!” Desta berkata sambil tersenyum seperti seorang psikopat.


“Bagaimana aku bisa tidak jujur? Leherku saja kau todong dengan parang setajam itu..!” Rio mengutuk kesal dalam hatinya.


Di sisi Febrianto..


Karena jarak antara kantor polisi dan rumahnya tidak terlalu jauh, dia dan kedua orang tuanya memilih untuk berjalan kaki untuk mengambil kendaraan di rumahnya yang akan digunakan untuk mengantarkan Tirta dan Dewi menuju hotel.


“Ayah, ibu, maafkan aku karena tidak bisa membantu kalian tepat waktu, jadinya sampai dikurung bahkan disiksa seperti ini” Febrianto merunduk murung dan tidak bisa melihat wajah kedua orang tuanya karena merasa malu, sebagai anak dia merasa tidak bisa diandalkan.

__ADS_1


“Tidak usah kau pikirkan..! Yang terpenting sekarang masalah ini harus diselesaikan terlebih dahulu, dan mudah-mudahan bos Desta bisa membantu kita dalam masalah ini” ucap Tirta sambil menarik tubuh Febrianto agar berhenti dari posisi merunduknya.


“Setelah masalah in selesai, mungkin aku akan menggunakan seluruh tabunganku untuk merenovasi rumah kita menjadi lebih bagus agar tidak terlalu memalukan jika ada bos seperti bos Desta datang mampir berkunjung” ucap Tirta dengan senyuman yang membuat Febrianto merasa tenang.


Mendengar ucapan ayahnya, Febrianto akhirnya memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya tentang pekerjaan yang dia lakukan selama ini.


“Ayah, ibu, aku ingin mengatakan yang sebenarnya kepada kalian berdua” Febrianto berdiri di depan mereka berdua.


“Katakanlah..!” Tirta dengan tenang menanggapi Febrianto.


“Ayah, ibu, sebenarnya aku adalah seorang tukang pukul bayaran dan bos Desta adalah orang yang membayarku untuk menjadi pengawalnya” Febrianto mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Febrianto..! Apa maksudmu adalah kau itu seorang preman?” tanya Tirta yang nada bicaranya terdengar dikeraskan.


“Iya ayah, aku memang tidak berguna dan sudah mengecewakan kalian berdua, maafkan aku..!” Febrianto tertunduk malu.


“Haha, anak bodoh..! Kau pikir kami berdua tidak tahu? Hal seperti pekerjaan apa yang kau pilih itu bukan terserah pada kami berdua” ucap Tirta, dia dan istrinya memang tidak pernah ingin mencampuri pilihan hidup anaknya tersebut.


“Mmm, lagi pula kau kan sudah dewasa, kau bisa menjaga dirimu sendiri dan menilai apa yang baik untukmu..!” sambung Dewi.


“Ya sudah, dari pada berlama-lama di sini, lebih baik kita bergegas pulang dan mengambil kendaraan” ucap Tirta sambil lanjut berjalan mengajak yang lainnya mempercepat langkah mereka.

__ADS_1


__ADS_2