
Debby pun langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulans, mobil yang Desta kendarai pun ditinggal di butik tersebut karena dia ikut naik di ambulans untuk memastikan keadaan Debby.
“Deb, bertahanlah..! Sebentar lagi kita sampai” ucap Desta dengan nada yang panik.
“A..ku baik-baik saja” jawab Debby terbata-bata.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sudah tiba di rumah sakit dan Debby langsung dibawa ke ruangan ICU.
“Korban tusukan, butuh kantung darah..!”
“Ruang ICU siap digunakan, hubungi dokter Ali segera..!”
Teriak paramedis yang membawa Debby dengan menggunakan kasur roda, pemandangan itu sangat memilukan bagi Desta, dia pernah merasakan ketakutan seperti ini saat kehilangan ibunya dulu, dan dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali pada Debby.
“Maaf, Anda siapanya?” tanya paramedis itu.
__ADS_1
“Aku tunangannya..!” jawab Desta yang terlihat semakin panik karena melihat Debby tidak bergerak sedikitpun dan wajahnya terlihat semakin pucat.
“Kalau begitu silakan tunggu di luar ruangan, Anda tidak boleh ikut ke dalam” ucap paramedis tersebut dan Desta pun berhenti mengikuti saat mereka membawa Debby masuk ke dalam ruang ICU.
“Deb, aku tahu kau bisa melewati ini..!” ucap Desta seraya berdoa atas keselamatan Debby.
Desta pun duduk dengan wajah yang lemas tanpa mengatakan apa pun, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Debby dan balas dendam.
“Keparat kau Yanto..! Aku akan membuatmu merasakan neraka dunia..!” ucap Desta dan wajahnya pun berubah sangat dingin, tatapan yang seolah bisa membunuh hanya dengan melihat.
“Paman, aku ingin kau menghubungi jenderal polisi Winoto dan beritahu dia untuk jangan ikut campur dengan apa yang akan aku lakukan nanti..!” ucap Desta dengan nada yang sangat dingin.
“Baiklah tuan muda, aku akan memberitahukan beliau pesan Anda” Sebastian tidak ingin menanyakan apa pun karena dia sudah mengerti yang dimaksud oleh Desta hanya dengan mendengarkan nada bicaranya saja.
“Mmm, terima kasih paman..!” Desta pun menutup panggilan teleponnya dan kembali menunggu kabar dari dokter yang menangani Debby.
__ADS_1
1 jam 30 menit dia menunggu dan akhirnya seseorang keluar dari ruang ICU.
“Tuan..!” teriak orang itu kepada Desta, dia adalah dokter bedah yang akan mencabut pisau dari perut Debby, dan Desta pun langsung berdiri dan berjalan mendekat.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Desta.
“Kondisinya saat ini masih dalam keadaan kritis, namun pisau yang menancap pada perut bagian kanannya sudah berhasil kami cabut, tapi..” dokter itu terhenti saat akan mengucapkan sesuatu, dan tentu saja Desta sudah deg-degan menunggu kata selanjutnya yang akan diucapkan olehnya.
“Tapi apa dok?” tanya Desta yang merasa panik.
“Tapi saya harus istirahat dulu, lapar mas dari tadi siang saya belum makan” ucap dokter tersebut sambil mengusap-usap kepala bagian belakangnya.
“Dok..!” wajah Desta berubah masam dan menatap dokter itu dengan tatapan yang sinis.
“Hehe maaf, saya bercanda mas, kondisinya memang saat ini sedang sekarat karena kehilangan banyak darah, dan walaupun ususnya ikut sobek akibat tusukan pisau, tapi sudah kami atasi dan seharusnya tidak lama lagi kondisinya akan membaik, tapi untuk malam ini hingga besok pagi tidak ada yang boleh mengunjunginya karena masih dalam tahap observasi” ucap dokter itu.
__ADS_1