
Sungguh, kekuatan dan kekuasaan benar-benar bisa membeli segalanya.
"Sekarang, aku harus apa, tuan?" tanya Febrianto.
"Pertama-tama, kau ikat mereka yang tidak sadarkan diri ini ke tiang yang di sana" Desta menunjuk tiang listrik yang berada di halaman gedung.
"lalu bantu aku untuk menghabisi sisa orang yang berjaga di gerbang depan" jawab Desta dengan sangat detail.
"Dimengerti..!" Febrianto segera mengikat semua kawanannya yang tergeletak di tanah ke tiang listrik.
"Baiklah, sekarang kita habisi sisanya..!" ajak Desta dan Febrianto hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh tunggu dulu, kenakan baju satpam ini, gunakan topi dan masker agar kau tidak dikenali oleh mereka" Desta mencoba menyelamatkan Febrianto dari incaran Harianto karena telah berkhianat.
Setelah selesai persiapan, mereka langsung berjalan menuju gerbang depan.
Ketika hampir sampai, mereka mendengar suara sirine polisi dan Desta melihat itu adalah pasukan khusus yang dijanjikan Sebastian dari Jenderal Polisi Winoto.
__ADS_1
"Ah akhirnya mereka datang juga" gumam Desta.
"Tuan, dengan ini sepertinya kita tidak perlu ikut campur dulu, sebaiknya kita perhatikan sebentar, jika mereka terlihat membutuhkan bantuan, kita akan maju." Febrianto tidak ingin berurusan dengan polisi karena dia punya pengalaman buruk dengan mereka.
"Oke, aku akan mendengarkanmu" jawab Desta pelan.
Ternyata mereka sama sekali tidak perlu membantu pasukan khusus itu, karena dalam sekejap saja kelompok orang yang menunggu di gerbang depan dikalahkan dengan mudah.
Desta tersenyum kecut karena dia tidak mengira ternyata mereka selemah itu, sangat jauh perbedaannya dengan Febrianto.
"Untunglah yang masuk ke area dalam ini adalah dirimu, jadi aku bisa sempat mencoba kemampuan berkelahimu" ujar Desta dengan nada pelan.
Lalu Desta menyuruh Febrianto untuk segera meninggalkan tempat itu agar dia tidak terlihat oleh yang lainnya.
"Aku akan membantu kalian" teriak Desta yang berlari dari dalam agar terlihat seolah dia sedang menunggu pasukan khusus itu datang.
"Ah sudah tidak perlu pak, mereka sudah dibereskan" ucap salah satu pasukan khusus itu.
__ADS_1
"Namaku Idris, aku kapten dari pasukan ini, apakah anda pak Desta?" ucapnya dengan perkenalan terlebih dahulu, benar-benar kapten yang sopan.
"Wow, syukurlah kalau begitu, aku jadi lega sekarang..! Benar, namaku Desta, dan aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Desta sambil mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga Idris.
"Kalian Sangat Lama..! Apa yang menjadi hambatan? Kemacetan?" Desta berbisik pelan walaupun dia masih merasa kesal, tapi dia mencoba untuk menahannya.
"Maaf pak, perjalanan menuju lokasi ini sangat dipenuhi kendaraan lain, jadi bisa dibilang benar kalau kami terjebak macet, terlebih lagi orang-orang pengguna jalan raya di Jakarta belum semuanya mengerti dengan sirine darurat." Idris menceritakan semua kendalanya hingga dia terlambat tiba di Gloria.
"Oke, aku mengerti kondisinya kalau seperti itu, sekarang tolong bawa mereka dan beberapa orang yang terikat di tiang listrik halaman gedung belakang" ucap Desta sambil menunjuk ke arah belakangnya.
"Dimengerti..!" Idris membawa 5 anggota lainnya untuk membantunya.
Setelah semua orang sudah dimasukkan ke dalam mobil tahanan, Idris dan pasukannya pun pergi meninggalkan perusahaan Gloria.
"Huwaaah, akhirnya masalah ini selesai juga" Desta bersiap untuk pulang ke apartemennya dan berjalan ke tempat dia memarkirkan motornya.
"Paman, masalah di sini terselesaikan, terima kasih atas bantuanmu" Desta mengirim pesan singkat kepada Sebastian dan bergegas pulang.
__ADS_1
"Herman, Herman, sepertinya aku kurang jahat kepadamu hingga kau berani membuat onar seperti ini" Desta berencana untuk menghukum Herman sekali lagi, dan kali ini dia akan melakukannya tanpa sepengetahuan Debby, karena dia tidak akan bisa leluasa menyiksanya.