
"Tapi kak, aku takut jika dia akan datang membalas dendam" ucap Yanto yang ketakutan.
"Haha, memangnya dia berani melakukan hal itu? Kau saja menjatuhkannya dengan mudah dengan tinjumu, kalau dia berani datang ke sini, sama saja cari mati..!" ucap kakaknya Yanto.
"Wah, aku memang bisa mengandalkanmu kak" jawab Yanto yang merasa tenang setelah kakaknya yang bernama Tora itu berkata demikian.
"Tentu saja, aku kan pemenang kejuaraan karate se-Jakarta, pasti aku bisa mematahkan kakinya dengan mudah..!" sambung Tora dengan kepercayaan diri yang tinggi melebihi tinggi badannya sendiri.
Di sisi lain..
Desta pun tiba di butik dan masih melihat kerumunan orang yang tadi sedang berfoto-foto dengan jejak darah Debby.
"Dasar orang-orang aneh, darah saja diajak berfoto" Desta menggelengkan kepalanya.
Tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu, dia kembali memfokuskan tujuannya tadi.
"Yanto, bersiaplah..!" gumam Desta sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya, dan dia pun pergi meninggalkan butik menuju kediaman Yanto.
__ADS_1
Tak lama kemudian ponsel Desta berdering dan itu adalah panggilan dari jenderal polisi Winoto, Desta menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan telepon.
"Pak jenderal, ada apa?" tanya Desta.
"Tuan Desta, aku mohon apapun yang akan Anda lakukan nanti, jangan berhenti hingga tuntas" ucap Winoto di ujung telepon, dia ternyata malah mendukung apa yang akan dilakukan Desta.
"Tenang saja, aku akan membuat semuanya berjalan mulus tanpa membuatmu dalam masalah" jawab Desta dengan santainya.
"Baiklah terima kasih tuan" ucap Winoto, lalu panggilan telepon pun dimatikan dan Desta kembali melihat ponselnya untuk mencari nomor Febrianto.
“Aku akan meminta Febrianto membantuku kali ini” gumam Desta sambil menekan tombol panggil di ponselnya setelah menemukan nomor Febrianto.
“Feb, apakah kau ada teman di Jakarta?” ucap Desta.
“Aku punya satu tapi tidak bisa diandalkan bos” jawab Febrianto yang paham dengan maksud Desta.
“Mmm, baiklah, terima kasih Feb” Desta mematikan panggilan telepon dan akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Sebastian.
__ADS_1
“Tuan muda, ada yang bisa kulakukan untukmu?” ucap Sebastian.
“Paman, bisakah kau menyediakan sekiitar 30 orang untuk ikut bersamaku malam ini? Dan aku mau setiap orang membawa 5 liter bensin” ucapan Desta terdengar sangat serius dan Sebastian langsung mengerti yang dimaksud olehnya.
Desta berencana untuk membakar kediaman Yanto setelah dia puas menghukumnya.
“Aku bisa menyediakan 300 orang dengan masing-masing membawa 10 liter bensin jika tuan muda mau” jawab Sebastian.
“Tidak perlu paman, aku hanya butuh seperti yang aku bilang tadi” ucap Desta.
“Baiklah kalau begitu aku mengerti tuan muda, di manakah aku harus mengirim mereka?” tanya Sebastian.
“Aku akan mengirimkan titik temu dengan mereka, dalam 1 jam aku akan tiba di sana dan aku mau mereka tidak terlambat” Jawab Desta dengan nada serius.
“Dimengerti, aku akan segera menghubungi mereka, tuan muda” ucap Sebastian yang langsung menghubungi ketua gangster yang berada di bawah pimpinannya selama berada di Jakarta.
“Oke, terima kasih paman” jawab Desta dan langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
1 jam perjalanan akhirnya Desta pun sudah hampir sampai, lalu dia berhenti sejauh 2 kilometer dari kediaman Yanto dan Tora untuk menunggu orang-orang yang dimaksud Sebastian.
5 menit kemudian segerombolan mobil pun terlihat dari kaca spion dan berhenti tepat di belakang mobil Desta, dia pun keluar dari mobilnya.