Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Masalah Pada Mesin Perusahaan


__ADS_3

"Kalau begini aku tidak perlu khawatir tentang keamanan perusahaan ini..!" ucap Desta sambil terengah-engah dan mengatur nafasnya.


Lalu semua orang yang menonton pertarungan tadi langsung berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri mereka.


Ada pula yang mendatangi Desta karena mengira Destalah yang akan mengajar di sekolah beladiri ini.


"Haha, bukan aku, tapi kak Danulah yang akan menjadi guru kalian, aku hanya seorang murid darinya" ucap Desta sambil menunjuk ke arah Kamandanu.


"Omong kosong..! Mana ada guru yang kalah dari murid..!" ucap salah satu karyawan yang rebutan untuk mendaftar.


"Itu benar..! Orang itulah yang akan menjadi guru kalian" Sebastian berbicara dan tidak ada yang berani menyangkalnya.


"Eh.. Pak Sebas-tian, sejak kapan ada di sini pak?" sontak para karyawan yang lain juga melihat ke arah Sebastian, karena pertarungan tadi terlalu sengit, mereka jadi tidak menyadari kehadiran Sebastian di antara mereka.


"Sejak awal aku sudah berada di sini" jawab Sebastian.


"Ah, kalau pak Sebastian yang bicara aku percaya..!" Dan semua orang pun berlarian ke arah Kamandanu untuk mendaftar dan mendapatkan hadiahnya.


"Mulai hari ini, Danu's Martial Art telah resmi dibuka" ucap Desta sambil mengacungkan jempol pada Kamandanu dan dia pergi meninggalkan gedung olahraga bersama Sebastian.


"Tuan muda, bagaimana kondisimu?" ucap Sebastian yang mengkhawatirkan keadaan Desta karena dia menerima cukup banyak pukulan keras dari Kamandanu.


"Aku baik-baik saja paman, meskipun aku hanya sedikit bermain-main tadi, lain kali aku akan lebih serius" jawab Desta dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Haha, ternyata menjadi muda memang sangat menyenangkan" ucap Sebastian yang mengagumi semangat Desta.


"Baiklah paman, aku akan menyerahkan sisanya padamu" ucap Desta.


"Oh iya, aku tidak melihat kehadiran Andre ataupun Denis, aku jadi sedikit khawatir, bisakah paman tunjukkan padaku di mana ruang teknis?" Desta teringat perseteruan antara Denis dan Andre sebelumnya, dan dia punya firasat yang tidak enak tentang itu.


"Baiklah tuan muda, lewat sini..!" Sebastian menunjukkan jalan pada Desta.


Di sisi Denis..


"Firman, sudah dihapus?" ucap Denis kepada seorang satpam yang sedang berjaga di ruang kamera pengawas.


"Sudah pak Denis, Anda bisa cek sendiri" ucap Firman si satpam.


"Mantap..! Terima kasih pak Denis" ucap Firman.


"Ya, kerja bagus..!" Denis menepuk pundak Firman dan meninggalkan ruangan pengawas.


Tak lama kemudian Desta dan Sebastian tiba di ruang teknis dan melihat sekeliling.


Tak ada tanda-tanda Denis ataupun Andre di sana.


"Yah, mungkin hanya perasaanku saja" Desta mengangkat bahunya dan berbalik menuju pintu keluar.

__ADS_1


Karena masih merasakan sesuatu yang tidak beres, Desta akhirnya memutuskan untuk menghubungi ponsel Andre dan memastikannya sendiri.


"Oi, kenapa bro?" saat Andre menjawab telepon Desta, barulah dia merasa lega.


"Ah tidak, aku hanya iseng, sudah ya" Desta menutup panggilannya dan langsung berjalan keluar ruangan teknis.


"Ya, itu pasti hanya firasatku saja" ucap Desta pelan.


"Mungkin tuan muda hanya kelelahan setelah berlatih tanding dengan Kamandanu" ujar Sebastian.


"Hmm, mungkin saja" Desta mengangguk setuju dengan pendapat Sebastian.


Keesokan harinya.


Andre memulai pekerjaannya seperti biasa, absen seperti biasa, bekerja seperti biasa, semuanya normal tak ada yang aneh.


Namun tidak seperti biasanya, Denis tidak datang dan mengganggu pekerjaannya hanya untuk menyuruh Andre memberi hormat padanya.


Tapi itu adalah hal yang bagus bagi Andre, dia jadi bisa tetap fokus bekerja tanpa gangguan sedikit pun oleh atasannya.


“Huh, tumben sekali dia tidak mengacau saat aku sedang bekerja, apa jangan-jangan dia sudah taubat? haha” Andre bergumam sambil tertawa kecil.


Tak lama kemudian, sebuah mesin terdengar berhenti bekerja, mesin itu adalah yang menjadi inti dari produksi perusahaan Heir group, itu adalah mesin genset dengan harga 2 miliar.

__ADS_1


__ADS_2