
“Aku tidak tahu mereka itu terlalu peduli dengan bosnya, atau hanya sekumpulan orang-orang bodoh, haha..!” Febrianto menertawakan kejadian yang sangat langka ini lalu dia dan Widodo kembali ke dalam tanpa perlu baku tembak.
“Apa kalian sudah puas? Sekarang lepaskan bos Widodo..! Kami tidak akan menyerang karena sudah tidak punya senjata apapun lagi” ucap pria yang mengancam akan meledakkan rumah Febrianto tersebut.
“Pak ketua, menurutmu apakah mereka akan menyerahkan bos begitu saja?” tanya bawahan pria tersebut.
“Tenang saja, aku sudah menuruti permintaan mereka, seharusnya sekarang mereka akan melepaskan bos..!” jawab pria tersebut.
“Aku harap juga begitu pak, tapi sekarang sudah lebih dari 15 menit semenjak salah satu dari mereka mengambil beberapa senjata yang kita lempar” ucap bawahan pria tersebut dengan rasa cemas yang tidak karuan, takut jika bosnya akan terluka.
“Kita tunggu saja..!” ucap pria tersebut dan bawahannya pun hanya mengangguk lalu kembali ke posisi mereka masing-masing.
Di sisi Desta dan Febrianto..
“Jadi, apa kau akan melepaskanku sekarang?” ucap Widodo memelas.
“Hanya jika kau bersumpah atas nama tuhanmu dan nyawamu untuk tidak mengganggu keluarga Febrianto di manapun kau berada dan apapun alasannya..!” ucap Desta sambil mengangkat bahunya.
“Selebihnya aku akan menyerahkan hal ini kepada Febrianto sebagai orang yang menjadi korbanmu..!” Desta mengayunkan tangannya mengisyaratkan kepada Febrianto untuk memproses atau mengakhiri kegiatan malam ini.
“Aku bersumpah..! Demi tuhanku dan nyawaku, aku tidak akan mengganggu siapapun yang berhubungan dengan Febrianto dan keluarganya..!” Widodo berlutut lalu bersujud kepada Desta dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Widodo sangat menyesal sudah terlalu meremehkan kekuatan yang dimiliki oleh Desta dan Febrianto hanya karena penampilan mereka yang tidak begitu elegan.
“Bagus, aku akan memegang ucapanmu..! Febrianto, apakah begini sudah cukup?” ucap Desta lalu menoleh ke arah Febrianto.
“Sebenarnya aku ingin sekali membunuh orang seperti ini, bos..! Tapi, aku tidak akan membuat dosaku bertambah hanya untuk sampah seperti ini..!” jawab Febrianto, lalu dia berjalan ke pintu keluar bermaksud untuk menyuruh Widodo pergi.
“Mmm, kalau begitu kau sudah mendapatkan maaf dariku dan Febrianto..! Tapi ingat ini baik-baik..! Jika aku mendapati kau mengganggu atau menyentuh keluarga Febrianto lagi, bukan hanya seluruh asetmu yang kau kumpulkan lagi, seluruh orang yang kau sayangi akan ikut bersamamu ke neraka..!” ancam Desta kepada Widodo sebelum dia melepaskannya kembali.
“Kau bisa memegang ucapanku, aku tidak akan pernah berbohong dengan nyawaku..!” jawab Widodo yang sudah duduk dari sujudnya dan tersenyum bahagia saat mengetahui dia akan segera bebas dari cengkeraman iblis di depannya ini.
“Sekarang pergilah..!” Febrianto membukakan pintu agar Widodo bisa pergi dan Desta menyuruh Febrianto mengambil seluruh senjata yang masih berserakan di depan.
“Bos, entah mengapa aku merasa lega walaupun tidak jadi membunuh orang itu” ucap Febrianto saat duduk di sofa dan meletakkan seluruh senjata yang dibawanya ke lantai.
“Sekarang aku ingin kau mengubur senjata-senjata ini di tempat yang hanya kau dan aku yang mengetahuinya..!” perintah Desta kepada Febrianto.
“Oke bos..!” Febrianto berdiri dan memungut semua senjata dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak plastik yang kemudian ditutup rapat-rapat olehnya.
“Kalau bisa cepat..! Lalu, kita tinggalkan rumah ini, aku masih punya perasaan yang tidak enak” perintah Desta sama sekali tidak dimengerti oleh Febrianto, yang dia tahu hanyalah melaksanakan semua yang diminta oleh Desta.
Dia tahu, jika Desta sudah memerintahkan sesuatu pasti ada maksud yang tidak akan merugikan dirinya.
__ADS_1
20 menit kemudian, Febrianto selesai menguburkan semua senjata dan mereka bersiap untuk pergi ke hotel tempat kedua orang tua Febrianto menginap.
Baru saja mereka akan pergi, Desta melihat sebuah mobil van berwarna hitam persis seperti yang datang ke kantor polisi saat itu untuk membunuhnya.
“Feb, sembunyi..!” lalu Desta dan Febrianto pun sembunyi dibalik rerumputan tinggi yang bisa menutupi tubuh mereka berdua.
Karena lampu penerangan sudah dimatikan oleh Febrianto, tidak ada cahaya yang menampakkan diri mereka saat lari untuk bersembunyi.
Tak lama kemudian, turun 4 orang berbaju hitam dan mengenakan helm berwarna hitam menembakkan begitu banyak granat ke dalam rumah Febrianto, dan..
“Boom.. Boom.. Boom”
Ledakan dari granat tersebut meruntuhkan setengah dari rumah Febrianto dan ditambah dengan senjata pelontar api yang digunakan mereka untuk meratakan seluruh rumah.
Tidak butuh waktu lama, Rumah Febrianto pun sudah ludes dilahap si jago merah.
“Itu akibatnya jika kalian macam-macam dengan bos Widodo..!” teriak salah satu penyerang tersebut.
“Kurang ajar..!” Febrianto hendak berdiri namun ditahan oleh Desta agar tidak melakukan tindakan gegabah.
Saat ini mereka hanya bisa melihat dan mengawasi saja karena tidak sedang memegang senjata apapun di tangan mereka.
__ADS_1
“Widodo, dengan ini kau sudah menggali kuburanmu sendiri..!” ucap Desta dengan tatapan yang sangat tajam ke arah mobil van berwarna hitam tersebut.