
“Jadi, sekarang masa depanmu berada di tangan keluarga ini” ucap Desta dengan senyuman tipisnya.
Herman masih merasa berat hati untuk meminta maaf, dia masih memikirkan gengsinya kepada keluarga ini.
“Yang benar saja, mana mungkin gelandangan ini punya kekuatan seperti itu di belakangnya” gumam Herman dalam hatinya.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu” Herman mencoba mencari tahu.
“Kau tidak punya hak untuk bertanya..!” Desta meletakkan gelas tehnya di atas meja kaca, lalu dia berdiri dan mendekati Debby yang masih duduk di lantai.
“Coba kau lihat ini, apakah menurutmu aku akan memberikanmu hak untuk bertanya?” ucap Desta sambil menunjuk ke arah wajah Debby yang jadi sedikit lebam akibat tamparan Herman.
Herman pun terdiam dan tidak berani menatap wajah Debby ataupun Desta, dia hanya berpikir bagaimana caranya untuk bisa keluar dari sini hidup-hidup, badannya gemetaran saat ini.
__ADS_1
“Bro, aku masih menunggu kau berlutut dan meminta maaf” Desta memapah Debby untuk duduk di sofa.
Saat ini Anna sangat stress dengan perlakuan Desta terhadap Herman, karena dia masih mengira bahwa Herman masih memiliki kekuasaaannya.
Sedangkan untuk Retno, dia sudah tidak peduli lagi apakah Herman masih memiliki kekuasaannya, yang penting dia sangat senang saat Desta menghajarnya, apalagi ketika dia melihat Desta menghempaskan Harianto sejauh 10 meter seperti melempar seorang anak kecil.
“Kau memang calon menantu idaman” Retno bergumam dalam hatinya, dia sangat bangga dengan Desta.
“Deb, tenang saja aku akan membuatnya menyesal seumur hidup karena telah menyakitimu dan keluarga ini” Desta menggenggam tangan Debby dengan sangat erat.
“Sudahlah, aku sudah memaafkannya, biarkan dia pergi, aku rasa dia tidak akan berani mengusik lagi, lagipula kau sudah memberinya hukuman” Debby tetap memaksa Desta untuk berhenti.
“Herman, aku sudah memaafkanmu, dan aku yakin kedua orang tuaku dan juga adikku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah dari sini dan jangan pernah kembali lagi” ucap Debby yang ingin melepaskan Herman dari hukuman Desta.
__ADS_1
“Ba-baik nona Debby, terima kasih atas pengampunanmu, aku akan segera pergi dari sini” herman mencoba berdiri tapi sangat kesulitan karena satu kakinya sudah dipatahkan oleh Desta.
Dia pun berjalan ke arah mobilnya dengan tergopoh walaupun menjadi pincang, dia tidak peduli karena yang dia pikirkan hanya untuk keluar dari kandang singa ini.
“Herman..!” ucap Desta dan seketika membuat Herman berhenti dan keringat dingin.
“Ingat ini, jika kau mengganggu keluarga Debby bahkan sehelai rambutnya, aku tidak akan berhenti hingga kau dan keluargamu lenyap sepenuhnya” Desta mengatakan itu dengan nada dingin dan tatapan yang sangat menakutkan, lalu Desta melemparkan sebuah amplop yang berisikan kartu ATM yang dijanjikannya jika semua orang telah memaafkan Herman.
“Ambillah, di dalamnya sudah aku tuliskan nomor pin kartu ATM itu, cepat pergi dari sini sebelum Debby berubah pikiran..!” Desta lalu duduk di sofa bersama Debby untuk memeriksa memar di wajahnya.
“Te-terima kasih sudah memberikan kesempatan kepadaku” ucap Herman dan dia segera berbalik ke arah pintu luar.
Herman berjalan ke luar rumah dan melewati Anna dan Retno, dia tidak berani melihat wajah mereka dan langsung saja dia menyeret Harianto yang sedang tergeletak di tanah masuk ke dalam mobilnya dengan sangat bersusah payah.
__ADS_1