Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Hormati Aku Sebagai Atasanmu


__ADS_3

"Besok aku dan Debby akan kembali ke Jakarta, aku akan menitipkan ini padamu" Desta memberikan kartu VIP restoran Poseidon pada Retno.


"Ini.." Retno terhenti karena tidak tahu kartu apa yang dipegangnya itu.


"Ini adalah kartu anggota VIP untuk makan gratis di restoran Poseidon" jawab Desta santai.


"Hah? Poseidon yang terkenal itu? Bukankah itu restoran termahal di kota Malang? Bagaimana bisa kau dapatkan kartu itu?" Retno terkejut dengan yang dibilang Desta.


"Untuk mendapatkan kartu VIP itu saja harus dengan minimal total pembayaran 200 juta, tapi ini makan gratis, berapa banyak yang dia keluarkan? Tidak, lebih tepatnya berapa banyak uang yang dia miliki?" gumam Retno yang penuh dengan pertanyaan dalam kepalanya.


"Yah bisa dibilang aku sangat beruntung, kemarin kebetulan saja aku sedang makan di sana dan ada penawaran dari pelayan restoran, lalu dengan keberuntungan yang maksimal, aku mendapatkan hadiah makan gratis selama 1 tahun penuh dengan membawa kartu VIP ini" jawab Desta sambil bertingkah seolah baru saja memenangkan undian lagi.


"Apa kau yakin memberikan ini padaku?" tanya Retno yang ingin memastikan lagi.


"Iya, bagaimanapun paman akan segera menjadi ayah mertuaku, jadi aku tidak akan ragu" jawab Desta sambil tersenyum, lagipula Poseidon berada di Malang, tidak mungkin dia akan bolak-balik hanya untuk makan di sana.

__ADS_1


"Oke, aku akan menyimpan dan menggunakan ini baik-baik" jawab Retno dengan wajah yang sangat senang, dia akhirnya bisa makan di restoran bergengsi tanpa harus memikirkan biayanya.


"Tapi aku hanya memperbolehkan paman menggunakannya untuk makan bersama keluarga..!" ucap Desta yang mempertegas maksudnya memberikan kartu itu pada Retno.


"Tenang saja, aku juga tidak mungkin makan gratis sendirian" jawab Retno mengangguk mengerti maksudnya Desta, dia baru bisa menggunakan itu ketika Lia sudah sembuh.


Sementara itu di Heir Group..


"Andre, kau mengerti kenapa aku panggil ke ruanganku?" ucap Denis dengan wajah yang arogan.


"Oh jadi kau tidak merasa bersalah sudah membuatku kesal? Aku selalu melihatmu bekerja sambil mengobrol dengan rekan kerjamu, dan kau sering mengabaikan kehadiranku sebagai atasanmu itu sama saja seperti kau tidak menghormatiku sebagai atasanmu..!" ucap Denis dengan nada yang keras karena emosi.


"Ya itu salahmu sendiri pak, kenapa juga datang ditengah pekerjaan yang sangat padat, bukankah seharusnya pak Denis tahu pekerjaan teknisi di perusahaan ini tidak bisa diganggu bahkan oleh atasan sekalipun" jawab Andre yang sudah terlanjur emosi.


"Oh, jadi kau menganggap mengobrol saat jam kerja itu tidak mengganggu pekerjaanmu?" jawab Denis yang sama-sama terpancing emosi.

__ADS_1


"Jelas tidak pak..! Aku mengobrol dengan rekan kerjaku juga tidak menghentikan kerjaanku, berbeda ketika aku harus meladeni atasan yang hanya datang untuk melihat keadaan dan kami harus menghentikan aktivitas hanya untuk menyapamu, itu baru mengganggu pekerjaan namanya..!" jawab Andre yang menjelaskan semua kekesalannya karena selalu dikambing hitamkan oleh Denis sebagai pengganggu kinerja rekannya.


Padahal tidak ada satupun rekan kerja Andre yang merasa terganggu karena mereka juga menikmati bekerja sambil mengobrol.


"Pak Denis, aku beritahu kau satu hal, ada yang namanya CCTV atau kamera pengawas jika Anda tidak tahu artinya, dengan itu Anda bisa mengawasi kami dari ruangan Anda yang sangat nyaman ini..! Tidak perlu datang hanya untuk mengganggu lalu mencari-cari alasan untuk membuat laporan ke atasan Anda tentang kinerja bawahan Anda..!" sambung Andre.


"Anda hanya tahu tentang membuat laporan dan tidak pernah turun tangan sendiri untuk mencoba mengerjakan apa yang kami kerjakan, jadi Anda tidak punya hak untuk menilai kinerja dari aku mengobrol atau tidaknya, karena yang aku tahu, pekerjaanku selama ini selalu sempurna..!" Andre sudah terlalu emosi hingga dia menyalurkan semua energinya untuk memarahi Denis yang terlalu seenaknya saja.


"Oh jadi kau berani menyalahkan atasan untuk kinerja jelekmu? Baiklah baiklah, aku sudah tahu sekarang bagaimana harus melaporkanmu kepada direktur" ancam Denis dengan tatapan licik kepada Andre.


"Silakan saja..! Aku yakin jika direktur perusahaan ini punya yang namanya otak, pasti dia tahu siapa yang bodoh di sini..!" Andre sudah tidak peduli lagi apakah Denis atasannya atau bukan, yang dia inginkan saat ini adalah memukul wajah arogannya Denis.


Sejak awal Andre selalu merasa ditindas oleh Denis, semua pekerjaannya selalu dibilang salah dan bahkan tidak layak untuk bekerja di Heir Group.


Karena itulah sekarang Andre sudah sampai puncaknya dan mengatakan semua yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2