
"Begini tuan, para petinggi maskapai ingin mengadakan rapat bulanan, dan mereka tidak akan bisa melakukannya tanpa persetujuan Anda" ucap Roni yang mengabarkan niatnya karena rapat bulanan akan memakai anggaran maskapai untuk pertemuan antar cabang daerah.
"Ya sudah kalau begitu aku setujui rapat bulanan dan hasilnya harus bagus" jawab Desta yang tidak ingin mengarahkan obrolan yang berujung dia harus ikut serta dalam rapat tersebut karena Desta benar-benar butuh istirahat dari semua kegiatannya untuk beberapa hari.
"Apakah Anda tidak akan menghadiri rapat bulanan ini?" tanya Roni untuk memastikan.
"Tidak perlu, aku akan mempercayakannya padamu..!" jawab Desta dengan santai.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih tuan" ucap Roni.
"Ya, sama-sama" lalu Desta mematikan panggilan teleponnya.
"Huh, benar-benar melelahkan, aku kagum pada ayah, dia bisa mengurus semua itu" ucap Desta kagum.
Desta sudah mulai merasa lelah dengan semua kejadian yang dilaluinya.
"Huh, kenapa juga selalu ada saja kejadian penculikanlah, penganiayaanlah, dan aku selalu harus datang untuk menyelesaikannya" Desta mengeluh dan menyandarkan tubuhnya di sofa berwarna hitam yang ada di dalam kamar apartemennya.
"Belum lagi disetiap kejadiannya, kenapa selalu di tempat-tempat tua atau yang sudah ditinggalkan? Apakah mereka tidak bisa memilih tempat yang lebih bagus?" ucap Desta yang benar-benar merasa bosan dengan perkelahian yang tak berarti.
__ADS_1
"Disetiap perkelahian juga aku selalu menang, bahkan dengan kak Danu sekalipun" Desta menggelengkan kepalanya dan membanggakan kemampuan berkelahinya.
"Ah biarlah, yang penting aku masih bisa melakukan apa yang aku mau dengan leluasa, itu saja sudah cukup" ucap Desta.
Tak lama kemudian ponsel Desta berbunyi, dan itu adalah panggilan dari Sebastian.
"Paman, ada apa?" jawab Desta.
"Tuan muda, jendral polisi Winoto ingin bertemu dengan Anda" ucap Sebastian yang membuat Desta terkejut.
"Wah ada masalah apa ya paman, sampai-sampai jendral polisi sendiri yang mendatangimu untuk memanggilku?" tanya Desta, dia berpikir mungkin karena yang dia lakukan pada Denis atau Herman.
"Oke, aku akan segera ke sana..! Eh tapi, aku harus ke mana?" tanya Desta karena dia belum menanyakan lokasi pertemuannya.
"Di ruang utama gedung para dewan di Heir Group, tuan muda" jawab Sebastian.
"Sip, aku akan segera ke sana, paman" Desta menutup panggilannya dan segera berangkat menuju Heir Group dengan mobil barunya.
Setelah sampai..
__ADS_1
"Tuan muda..!"
"Tuan Desta..!"
Sebastian dan Winoto berdiri memberi hormat pada Desta saat masuk ke dalam ruangan.
"Paman, pak jenderal" Desta menyapa pada keduanya.
"Jadi, ada masalah apa di sekolah pak jenderal?" tanya Desta yang langsung menanyakannya.
"Haha, anak muda memang tidak sabaran ya, baiklah kalau begitu duduk dulu tuan" ucap jenderal Winoto dan mereka bertiga pun duduk.
"Jadi, ada apa dengan sekolah?" Desta bertanya kembali.
"Haha, baiklah, maksudku sekolah di sini adalah sekolah beladiri yang Anda dirikan" jawab Winoto.
"Hoo, kenapa dengan sekolah beladiriku?" ucap Desta sambil menaikkan alisnya.
"Begini, bisakah sekolah beladirimu diasosiasikan dengan kesatuan kepolisian? Karena aku mendengar guru yang mengajar beladiri di Heir Group adalah guru tingkat dunia, dan aku belum menemukan orang yang berkompeten untuk mengajarkan pertahanan diri di kepolisian" ucap jenderal Winoto.
__ADS_1