
“Siapa yang kau panggil bocah, bocah?” Tora berbalik dan kembali berlari menyerang Desta, namun Desta terus menghindari serangan demi serangan yang dilayangkan Tora kepadanya, mereka malah terlihat seperti sedang menari.
“Ada apa? Tadi siapa sih yang bilang kalau aku cari mati tapi memukul dahiku saja tangannya langsung terkilir? Payah..!” ucap Desta yang semakin membuat Tora kesal.
Lalu Tora akhirnya berhenti dan dia pun menjadi sedikit lebih tenang.
“Hoo, kuda-kuda itu, aku tidak menyangka ternyata kau seorang seniman bela diri karate, akhirnya ada lawanku yang mengerti bela diri..!” Desta memahami setiap kuda-kuda dan gerakan bela diri karena dia sudah dilatih oleh 30 master bela diri yang berbeda.
“Oh ternyata kau juga tahu soal karate? Baguslah kalau begitu aku tidak akan merasa bersalah jika mematahkan kakimu..!” ucap Tora yang langsung menyerang.
“Hehe, mematahkan kakiku? Aku ingin tahu bagaimana caramu melakukan itu..!” jawab Desta yang masih bersikap biasa saja menghadapi serangan tora.
Desta masih bisa menghindari serangan demi serangan dari Tora dengan sangat mudah, karena jika dibandingkan dengan gerakan Kamandanu ataupun 29 master lain yang melatih Desta, kecepatan gerakan Tora sangatlah lambat.
10 menit mereka beradu dan serangan Tora tidak ada satupun yang mengenai Desta.
“Hoaam, aku jadi mengantuk nih..! Apa benar kau itu seniman bela diri karate? Kok tidak ada yang bisa mengenaiku sih?” ucap Desta sambil memasang wajah yang lesu karena bosan.
“Diam kau..! Kau pun hanya bisa menghindar, apa hanya itu yang kau bisa, hah?” teriak tora yang sangat kesal dengan ekspresi Desta yang mengejeknya.
“Aku bukannya tidak ingin membalas seranganmu, takutnya nanti kau terkejut jika aku melakukannya” jawab Desta.
“Cih, apa yang bisa mengejutkan dari pengecut sepertimu?” ucap Tora meremehkan Desta.
“Wow, ini sudah terlalu lama, sekarang aku harus menghukum Yanto, jadi urusan di sini aku selesaikan saja deh” ucap Desta saat dia melihat arlojinya sudah menunjukkan jam setengah 1 pagi, kemudian Desta membentuk kuda-kuda untuk menyerang.
“Haha, itu yang kau sebut kuda-kuda?” Tora menertawakan formasi kuda-kuda Desta yang memang terlihat aneh, kaki kiri ke depan dan kaki kanannya ke belakang dengan sedikit ditekuk, dengan posisi badan yang condong ke belakang, siapapun yang melihatnya pasti tidak akan mengira bahwa itu adalah sebuah formasi kuda-kuda.
“Sebelum aku memulainya, aku ingin kau mengingat nama gerakan ini, aku menyebutnya langkah sunyi” ucap Desta yang kemudian merunduk untuk memulai gerakannya.
__ADS_1
Setiap langkah yang terdapat di dalam gerakan langkah sunyi sangatlah membingungkan lawannya, sehingga menjadi ragu apakah mereka harus menyerang atau bertahan.
Ketika Tora larut dalam kebingungannya, dia berkedip sebentar dan saat membuka matanya, Desta sudah hilang dari pandangannya.
Itu karena Desta yang berjongkok dan bersiap untuk melakukan pukulan pukulan atas atau yang sering dikenal dengan uppercut.
Setiap gerakan yang dilakukan oleh Desta sama sekali tidak menimbulkan suara langkah ataupun suara nafas, yang bisa dilihat hanyalah serangkaian langkah yang membingungkan, dan saat lawannya tertipu dalam kebingungan, saat itulah Desta menyerang, dan itu juga alasan yang membuat Desta menamai gerakan ini dengan langkah sunyi.
Dengan telak, Tora terkena uppercut dari tangan kiri Desta membuatnya terangkat beberapa puluh sentimeter di udara dan Desta melanjutkan serangannya dengan pukulan telak dari tangan kanannya ke arah ulu hati yang membuat Tora tidak bisa bernafas untuk beberapa detik.
Serangan itu membuat Tora terpental sejauh 5 meter dan tergeletak di tanah tanpa membuat gerakan sedikitpun.
“Huh, aku kira kau sedikit lebih kuat dari yang lain karena mengetahui beberapa gerakan bela diri, tapi kau ternyata sama saja, sangat lemah..!” ucap Desta yang kembali bersikap biasa.
“Baiklah, karena sekarang sudah waktunya hukuman, aku masuk ya..!” teriak Desta ke dalam rumah Yanto dan Tora, dan dia pun sekarang sudah berada di dalam.
Yanto bersembunyi di dalam kamarnya dengan sebilah pisau di tangannya yang bersiap untuk menikam Desta jika dia masuk ke dalam.
“Yanto, aku tahu kau ada di sini” ucap Desta, dia yakin dengan ucapannya karena melihat mobil yang dikendarai Yanto dengan plat nomor yang sama berada di halaman depan rumah ini.
“Sialan, dia benar-benar mengalahkan kak Tora..! Padahal aku sudah bilang padanya agar tidak membukakan pintu” gerutu Yanto yang semakin merasa ketakutan.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamar Yanto.
“Yanto, aku tahu kau ada di dalam, keluar sekarang terima hukumanmu atau aku masuk dan terima hukumanmu..! Intinya, kau akan tetap aku hukum tidak peduli yang manapun kau pilih” ucap Desta.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Yanto, akhirnya Desta memutuskan untuk mendobrak pintu kamar tersebut.
Dengan ancang-ancang yang kokoh, Desta melayangkan tendangan lurus ke depan atau yang dikenal dengan tendangan sodok dalam bela diri pencak silat yang ditambahkan dengan tenaga dalam, pintu itu pun terbuka dan melayang ke arah Yanto yang berdiri tepat di belakang pintu tersebut.
__ADS_1
“Arrhh..!” Yanto menjerit karena terhempas oleh pintu tersebut dan secara tidak sengaja melukai dirinya karena kakinya tertusuk oleh pisau dapur yang dibawanya.
“Nah, benar kan perkataanku, kau memang ada di dalam sini” ucap Desta dengan senyuman jahatnya.
“Tidak..! Pergi..! Bukan salahku jika Debby terluka, tapi kaulah yang membuatku mengeluarkan pisau” teriak Yanto yang semakin ketakutan saat Desta berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Haha sudahlah, itu semua sudah tidak jadi masalah lagi..!” ucap Desta sambil tertawa terbahak-bahak.
Lalu dia berjongkok di sebelah yanto yang kesulitan untuk bergerak karena selain terhimpit pintu yang lumayan berat, kakinya pun tidak bisa digerakkan karena tertusuk pisau.
“Sini, aku bantu” ucap Desta, namun tentu saja tidak ada niat membantu yang datang dari Desta, jika memang berniat untuk berbaik hati, dia tidak akan membawa begitu banyak orang dengan bensin yang sangat banyak.
Benar saja, sesaat kemudian Desta menghantam pisau yang masih menancap di kaki Yanto dengan sekuat tenaga hingga mata pisau tersebut menembus kaki bagian belakangnya dan hanya menyisakan gagang pisau di bagian depan kaki Yanto.
“Arrrrrhhhhh..! Bajingan..! Apa yang kau lakukan?” teriak Yanto dengan menahan rasa sakitnya.
“Sssshh, jangan berisik, kakakmu sedang tidur di depan, nanti dia terbangun” ucap Desta yang menutup mulut Yanto dengan tangannya.
“Oke, sekarang bagusnya kau ini aku apakan ya” ucap Desta yang melihat sekelilingnya.
“Tidak, aku mohon, ampuni aku..! Aku bisa mati jika seperti ini terus” Yanto memohon ampun dari Desta, namun ucapan itu justru membuat Desta semakin emosi.
“Hah? Kau bilang kau bisa apa? Coba ucapkan sekali lagi?” Desta meletakkan tangannya di telinganya.
“Kalau begini aku bisa ma..” tak sempat Yanto menyelesaikan ucapannya, Desta menginjak kakinya dengan pisau yang masih menancap sekeras-kerasnya.
Desta membuat kaki Yanto patah seketika dan karena pisau yang menancap itu sangat tajam, bagian dalam kaki Yanto pun mulai terpotong karena kakinya yang terus menerus diinjak oleh Desta.
“Iblis..! Kau bukanlah manusia..! Dasar Iblis bajingan..! Arrrrrhhhh” Yanto hanya bisa berteriak dengan perkataan yang semakin kasar dan air mata yang bercucuran.
__ADS_1