Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Heir Group Adalah Milikku


__ADS_3

Desta pun kembali ke dalam kantor, dia melihat Ferry yang berjalan ke arahnya dengan tatapan kemarahan.


"Hei bocah, kau apakan Agung?" Ferry meraih kerah baju Desta dan menariknya.


"Agung? Agung siapa ya? Kau sendiri siapa?" jawab Desta.


"Sialan, jangan berlagak bodoh..! Agung mengikutimu ke toilet dan saat kau keluar, dia tidak ikut keluar..!" ucap Ferry.


"Ah ternyata kalian bekerjasama..! Hmm.. Mungkin dia sedang buang air besar, makanya lama di kamar mandi" Desta menjawab sambil tersenyum.


"Jangan menyangkal, aku menemukannya pingsan di lantai toilet, kau apakan dia?" tatapan Ferry sudah semakin geram melihat respon Desta yang begitu santai.


"Ah mungkin dia pingsan setelah mencium aroma kentutnya sendiri saat buang air besar, haha" Desta tertawa terbahak-bahak dan membuat Ferry semakin berang.


Saat Ferry hendak memukulnya, Desta berkata "Jika kau tidak ingin berakhir menjadi pengemis di jalanan, singkirkan tanganmu dariku sekarang juga..!" Desta menatap sinis.


"Sialan, memangnya kau siapa berani mengancamku seperti itu?" Ferry tidak percaya dengan omongan Desta dan tetap saja akan memukulnya.

__ADS_1


"Hei kalian berdua, jangan membuat keributan" Hendra menghentikan Ferry dari nasib buruknya jika dia benar-benar memukul Desta.


"Pak direktur, Desta telah memukul Agung tanpa alasan hingga pingsan, dia sudah kubawa ke ruang kesehatan" ucap Ferry sambil tersenyum licik karena mengira Desta akan mendapatkan masalah.


"Kau menuduh seperti itu apakah kau ada bukti?" Hendra menjawab.


"I-itu aku.. tidak.." Ferry terbata-bata, dia memang tidak punya bukti untuk menuduh Desta sembarangan karena di toilet tidak ada cctv.


"Jika kau tidak punya bukti, aku sarankan kau diam saja dan jangan membuat keributan, atau aku yang akan membuatmu diam" ancam Hendra dengan tatapan tajam.


"B-baik pak, maaf telah membuat keributan" Ferry merunduk meminta maaf pada Hendra dan segera kembali ke ruang kerja.


"Ah tenang saja aku masih segar bugar, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu" Desta memegang pundak Hendra dan dia pun mengangguk.


Mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan direktur untuk membicarakan tentang Agung.


"Setelah kuperhatikan, jabatan ketua tim divisi pemasaran sangat tidak cocok untuk Agung, aku akan menggantikan dia dengan yang lain..!" Desta berkata sambil menarik kursi direktur dan duduk.

__ADS_1


"Tapi tuan, Agung telah berkontribusi besar untuk bagian pemasaran selama 6 bulan ini, bahkan dia berhasil menjalin hubungan kerjasama dengan Heir Group yang mustahil itu" Hendra masih mencoba berpikir dari sisi baiknya Agung.


"Di sini yang mengatur kau atau aku?" Desta harus bersikap sedikit tegas walaupun terlihat sombong, karena dia tidak ingin orang seperti Agung merusak mental bawahannya.


"Maafkan aku tuan" Hendra tertunduk meminta maaf.


"Kau pikir Heir Group mau menerima kerjasama dengan perusahaan ini jika tidak ada yang membantu mempermudahnya?" Desta melanjutkan perkataannya dan membuat Hendra terkejut, dia berpikir jangan-jangan Desta kenal dengan pemilik Heir Group.


"Apakah tuan Desta kenal dengan orang besar di dalam Heir Group?" Hendra mencoba mendapatkan jawaban.


"Tidak hanya kenal, Heir Group adalah milikku..!" tentu saja Hendra sangat terkejut saat mendengarkan pernyataan Desta.


"Hah?" Hendra berteriak tapi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tuan Desta, jika itu benar, aku tidak akan berani melawan perintahmu..!" Hendra sedikit meragukan Desta.


"Hmm, baiklah agar kau lebih yakin lagi" Desta langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sebastian.

__ADS_1


"Paman, tolong beritahu siapa pemilik Heir Group..!" Desta meminta Sebastian untuk menjelaskannya lewat telepon, dan sepertinya Sebastian mengerti maksud Desta, dia langsung menjelaskannya.


__ADS_2