Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Kenapa Kau Berpikir Begitu?


__ADS_3

Sekarang sudah jam 2 siang, Debby dan Desta bergegas untuk berangkat ke bandara.


Jarak dari rumah Debby ke bandara hanyalah 30 menit saja, tapi untuk menempuh ke sana harus menggunakan kendaraan pribadi, karena di daerahnya tidak ada kendaraan umum yang lewat.


Desta tidak bisa memesan taksi online karena memang di Malang belum ada didirikan cabang perusahaan itu.


Akhirnya Desta meminta bantuan dari Retno untuk mengantarkan mereka dengan meminjam mobil tetangganya dan mengantarkan mereka ke bandara.


Setelah berhasil meminjam mobil, mereka segera melaju dengan kecepatan penuh.


"Paman, jika kau membutuhkan bantuanku, aku pasti akan segera menjawabnya" ucap Desta sambil memegang bahu Retno yang sedang menyetir karena dia duduk di bangku belakang.


"Mmm, aku pasti akan mengingat itu" jawab Retno dengan menganggukkan kepalanya.


"Bontet, aku ingin meyakinkan sesuatu dan aku ingin menanyakannya langsung padamu" ucap Debby.


"Katakanlah..!" jawab Desta yang lalu mengusap pipi Debby.


"Aku hanya ingin tahu, apakah itu kau yang membantuku untuk mendapatkan jabatan sebagai ketua tim divisi pemasaran?" tanya Debby.

__ADS_1


"Hoo, kenapa kau berpikir aku yang membantumu?" Desta tersenyum kecil.


"Sebelumnya kau mengatakan ramalan-ramalan yang tak masuk akal, terlebih lagi aku tidak pernah percaya dengan ramalan, jadi aku pikir karena kau berani berkata seperti itu, maka kau lah yang membantuku naik jabatan" ucap Debby yang membiarkan cubitan Desta menempel di pipinya.


"Haha, nanti saja saat di pesawat akan aku ceritakan semuanya, tapi aku tidak tahu kau akan percaya atau tidak" Desta menaikkan alis kanannya lalu melihat Debby dengan tatapan mengejek.


"Kau ini.. itu tergantung penjelasanmu nanti, aku percaya atau tidak itu kau yang menentukan" ucap Debby yang menggembungkan pipinya.


"Haha, ya sudah, kita lihat saja nanti" jawab Desta.


30 menit kemudian mereka telah tiba di bandara dan bergegas untuk check in tiket mereka agar tidak ketinggalan pesawat.


Dari tadi Debby terlihat sangat gelisah, entah apa yang membuatnya begitu.


Karena Desta agak risih melihatnya yang tidak mengatakan apapun soal kegelisahannya itu, dia pun menanyakannya langsung.


"Deb, kau kenapa? Dari tadi kau gelisah sekali" tanya Desta dengan nada penasaran.


"Eh ini, anu, itu, aku lapar" jawab Debby.

__ADS_1


"Krooook..." suara perut lapar Debby terdengar jelas di telinga Desta, dan tentu saja membuatnya langsung tertawa terbahak-bahak.


"Haha, ya ampun kau ini, kenapa tidak bilang? Tunggu di sini, aku akan membeli sesuatu untuk kau makan" ucap Desta.


"Kita..!" Debby menyahut dengan sedikit membentak.


"Haha, iya kita" Desta mengacak-acak rambut Debby sambil tertawa kecil melihat tingkahnya.


Desta berdiri dan melihat sekitarnya, dia melihat sebuah toko roti yang terlihat menggugah selera.


Dia berjalan menghampiri toko roti tersebut dan melihat menu yang disediakan.


"Paman, aku ingin pesan 2 roti isi daging sapi, 2 roti cokelat, dan 2 jus jambu ya" Desta memesan roti yang menurutnya enak.


"Baik, mohon tunggu sebentar" jawab pemilik toko sambil mengambil roti yang dipesan oleh Desta dan menghitung total harganya.


"Semuanya jadi 135 ribu rupiah" pemilik toko memberikan bungkusan yang berisi pesanan Desta.


"Oke, kembaliannya ambil saja buatmu paman" Desta menyerahkan uang 200 ribu lalu mengambil bungkusan itu dan kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


__ADS_2