Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Sulit Menemukan Lahan Untuk Investasi Pt.2


__ADS_3

Dia tidak ingin melibatkan Debby dalam setiap kegiatannya agar bisa bertindak sesuai dengan keinginannya,tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Debby tanpa perlindungan setelah insiden malam itu, dan sekarang semuanya sudah dia selesaikan.


Dia sudah mendapatkan pengawal yang hebat untuk Debby, dan kini dia bisa menjalankan kegiatannya sesuka hati tanpa beban pikiran.


2 jam kemudian mereka tiba di kontrakan Debby dan setelah memastikannya masuk ke dalam, Desta pun kembali ke apartemennya dengan taksi yang dipesannya.


“Roger, aku mengandalkanmu..!” ucap Desta sebelum dia pergi.


“Siap Bos..!” jawab Roger sambil memberi hormat.


Setelah sampai di apartemen, Desta tidak langsung kembali ke kamarnya, dia lebih memilih untuk berkeliling apartemennya karena memang dia tidak pernah melakukan itu selama tinggal di sana.


“Wah, ternyata luas juga gedung ini, aku bahkan baru tahu kalau di sini ada bar dan hiburan seperti karaoke dan diskotiknya” gumam Desta sambil terus berkeliling.


Sampai di suatu ruangan dia berhenti dan melihat dengan jelas tulisan di atas ruangan tersebut, ruang investasi.


Untuk sesaat Desta tertarik dengan ruangan tersebut, “Karena namanya ruang investasi, kupikir ini adalah ruangan di mana orang-orang yang ingin menginvestasikan uangnya dengan apartemen ini” gumamnya yang kemudian dia menarik minatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


“Kalau investasi kepada apartemen memang bagus sih, tapi aku masih ingin melihat lahan investasi yang lainnya terlebih dahulu” ucap Desta, karena sebentar lagi dia akan menikah, dia harus mencari sesuatu bahan investasi untuk menutupi kekayaannya yang sebenarnya dari orang-orang awam, agar tidak menimbulkan masalah lain lagi bagi dirinya dan juga Debby.


Akhirnya Desta memutuskan untuk berkeliling Jakarta untuk melihat lahan investasi lainnya besok hari karena sekarang sudah hampir malam dan dia sangat tidak ingin kemalaman di jalan.


Setelah tiba di kamarnya dan baru saja ingin merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah, panggilan dari Febrianto pun masuk.


“Feb, bagaimana?” tanya Desta yang bermaksud menanyakan masalah yang menimpa orang tuanya Febrianto.


“Sudah beres bos, dan aku berencana akan kembali ke Jakarta 2 hari lagi, aku sudah terlalu lama tidak menjalankan tugasku sebagai pengawalmu” ujar Febrianto dengan nada bicara yang gugup.


“Oke, kalau begitu sampaikan salamku kepada keluargamu” jawab Desta dan dia mematikan panggilan teleponnya untuk segera mandi.


Desta berkeliling kota Jakarta dengan sepeda motornya, dan dia tidak menemukan lahan investasi apapun kecuali rasa lelah yang menghampirinya untuk saat ini.


“Huh, ternyata lumayan sulit juga menemukan apa yang aku inginkan, ya sudahlah, aku menyerah saja hari ini” keluh Desta yang kemudian menancap gas penuh menyusuri jalan yang sangat ramai dengan pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan.


Sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sejenak untuk makan siang di sebuah restoran sederhana yang menyediakan masakan-masakan tradisional khas Indonesia.

__ADS_1


“Sepertinya restoran ini boleh juga” gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam restoran setelah memarkirkan sepeda motornya.


Dia pun duduk di pojokan yang terdapat sebuah meja lagi di sebelahnya dan di situ ada seseorang yang duduk sambil memainkan laptopnya, sepertinya dia orang kantoran yang bekerja di daerah sini.


“Ya sudahlah, memang hanya meja ini yang tersisa, karena yang lain sudah penuh” gumam Desta lalu dia duduk dan melihat menu yang ada dan terlihat bingung karena dia tidak pernah memakan makanan yang ada di daftar menu.


“Aku sarankan kau memesan empal gentong dan kikil sapi, karena kedua menu itu adalah yang terbaik di sini” ucap pria dengan laptop tadi ketika melihat Desta yang kebingungan dengan menunya.


“Ah terima kasih tuan, aku akan mencobanya” ucap Desta, sebenarnya dia tidak tahu apa yang dia pesan, tapi dia tahu bahwa kikil itu adalah kulit dari kaki sapi, dan membayangkannya saja dia sudah mual, tapi karena merasa tidak enak, dia pun akhirnya memesan kikil sapi juga di dalam menunya.


“Kau sepertinya bukan orang di daerah sini?” ucap pria berlaptop tersebut.


“Haha, memangnya sangat terlihat ya?” jawab Desta dengan tertawa kecil.


“Tentu saja, karena daerah ini merupakan daerah yang terbilang kumuh dan mana mungkin bisa memiliki kendaraan seperti yang kau kendarai” ucapan pria tersebut tentu saja mengejutkan Desta, bagaimana dia bisa mengetahuinya sedangkan pria itu sudah terlebih dahulu ada di dalam restoran.


“Haha, tidak masalah kan jika aku makan di sini?” ucap Desta.

__ADS_1


“Tidak masalah, hanya saja, aku mengingatkan kau untuk makan dengan cepat, karena kendaraanmu sudah pasti menjadi incaran para pencuri dan perampok di daerah sini” ujar pria berlaptop itu yang memperingatkan Desta.


“Hmm, baiklah, terima kasih peringatannya tuan, aku akan segera pergi dari sini secepatnya” jawab Desta walaupun dia tidak yakin dengan ucapan orang itu, terlebih lagi dia masih sangat penasaran bagaimana caranya pria berlaptop itu mengetahui kendaraan apa yang dibawa oleh Desta.


__ADS_2