
“Bos, apakah ada maksud dibalik pemberian emblem ini?” Febrianto bertanya karena rasa penasarannya yang sudah memuncak dan dia berpikir mungkin Desta mengetahui sesuatu.
“Ya, untuk sementara ini sih aku berpikir 2 kemungkinan” jawab Desta dengan santai.
“Wow, apa itu bos?” tanya Febrianto, dan sesuai dengan dugaannya, Desta memang sudah mengetahui sesuatu.
“Yang pertama, Lisna sengaja memberikan emblem ini karena tidak mempercayai kita, dan dia bermaksud untuk membereskan kita berdua ketika berada didalam kandang musuh” jelas Desta.
“Hah? Maksudmu bagaimana bos?” Febrianto masih belum paham dengan alasan yang pertama Desta.
“Maksudku, kau dengar penjelasan soal asli atau palsunya emblem ini dari wanita tadi, ‘kan?” tanya Desta.
“Ya, aku mendengarkannya dengan jelas bos..! Oh, aku mengerti sekarang..!” Febrianto menghentikan pertanyaannya karena sudah mulai paham dengan penjelasan Desta.
“Tepat sekali, karena dia curiga dengan penyamaran kita, dia ingin melenyapkan kita dengan emblem ini..! Jika kita akan terbukti tidak memiliki uang, mereka akan merasa ditipu, dan di situlah saat emblem ini bisa dituduh sebagai emblem palsu meskipun ini sangat asli” ucap Desta dengan penjelasan kemungkinan pertama yang dia pikirkan.
“Hmm, kalau begitu, apa kemungkinan yang kedua, bos?” tanya Febrianto kembali.
“Yang kedua adalah, dia memang mempercayai kita dan ingin membantu kita untuk bisa bertemu dengan bos Widodo tanpa hambatan sedikitpun, tapi, untuk urusan ada uang atau tidaknya, dia tidak akan memikirkan hal itu” ucap Desta melanjutkan pemikirannya.
“Dengan kata lain, Lisna hanya membantu kita untuk sampai ke ruang VIP ini saja, setelah kita masuk ke dalamnya, itu tergantung dari kita sendiri..! Atau setidaknya begitulah yang bisa aku simpulkan” ucap Desta menyelesaikan penjelasannya kepada Febrianto.
“Hmm, keduanya ada benarnya juga, bos..! Tapi, untuk berjaga-jaga, aku akan setuju dengan pendapat yang pertama” Febrianto menganggukkan kepalanya dan memutar badannya kembali ke arah arena.
“Kalau begitu, untuk saat ini kita ikuti saja permainan ini dengan anggapan bahwa Lisna ingin menjebak kita, tapi tanpa dia duga, kita memiliki uang untuk bertaruh di sini” ucap Desta.
“Ah, apakah maksud dari rencana yang kau jelaskan di awal tadi, adalah untuk memancing Widodo keluar dengan cara terus mengalahkannya dalam taruhan ini, bos?” tanya Febrianto, dia sudah mulai mengerti pemikiran Desta yang sejak awal merencanakan ini.
“Tepat sekali, karena ruang VIP hanya ada 2 dan peraturan taruhan khusus ruang VIP adalah tidak bisa memilih petarung yang sama, aku akan memiliki kesempatan untuk mengalahkannya berturut-turut dengan memasang taruhan lebih awal..!” Desta tersenyum licik dengan rasa percaya diri yang luar biasa.
__ADS_1
“Bos, kau benar-benar orang yang mengerikan..! Kau bahkan bisa mengetahuinya sampai sejauh ini? Orang yang mau berurusan denganmu bisa dipastikan hanya orang yang tidak waras saja..!” gumam Febrianto yang mengagumi intuisi dan insting tajam yang dimiliki oleh Desta.
Sesi taruhan selanjutnya pun dimulai, Desta dan Febrianto kembali memasukkan kertas-kertas taruhan ke dalam meja taruhan.
Sesi demi sesi berlalu dan Desta tidak pernah kalah taruhan satu kalipun, dia pun kini sudah memenangkan uang sebesar 50 miliar rupiah dan akhirnya sesi taruhan pun berakhir karena waktu sudah menunjukkan jam 12 tengah malam.
“Bos, dengan begini aku sangat yakin sebentar lagi pintu itu akan digedor oleh seseorang yang sangat marah” ucap Febrianto sambil tertawa.
“Yep, dan itu adalah sekarang..!” tak lama Desta mengatakan itu, terdengar suara ketukan di pintu masuk.
“Tok.. Tok..” suara ketukan pintu terdengar berkali-kali dan tidak berhenti sampai sekarang.
Desta pun berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu tersebut, “Ada apa ya?” ucap Desta kepada seorang pria yang terlihat sudah berumur 40 tahunan dengan 5 orang yang menjadi pengawal di belakangnya.
“Kau yang dari tadi bertaruh melawanku?” ucap pria tersebut.
“Hajar dia..!” teriak pria tersebut tanpa berbasa-basi menyuruh orang-orang yang berdiri di belakangnya untuk menghajar Desta.
“Hei, hei, tunggu dulu..! Apa salahku?” Desta berpura-pura tidak tahu dan melangkah mundur dari pintu dan memancing mereka semua masuk ke dalam.
“Kau tidak perlu tahu apa salahmu, yang perlu kau tahu hanya kau sudah menyinggung perasaan bos Widodo dan kau akan segera kehilangan kaki dan tanganmu..!” ucap salah satu orang suruhan yang ingin menghajar Desta sambil menutup pintu setelah pria tadi masuk ke dalam.
“Oh, begitu? Tapi, dari sisi yang kulihat, kalianlah yang akan kehilangan tangan dan kaki” jawab Desta sambil tersenyum licik.
Febrianto langsung keluar dari persembunyiannya yang memanfaatkan pencahayaan yang remang-remang.
“Buk.. Buk.. Buk..” 2 orang langsung berjatuhan sekaligus saat dihantam oleh Febrianto dengan tinju yang sangat keras.
“Halo bos Widodo, masih ingat denganku?” Febrianto berbalik ke arah Widodo dengan memasang wajah seram, dia sangat ingat dengan wajah yang membuat kedua orang tuanya masuk ke dalam penjara untuk tuduhan palsu.
__ADS_1
“Kau..! Siapa?” ucap Widodo sambil memicingkan matanya.
“Oh, mungkin ini bisa mengingatkanmu..!” Febrianto menarik kerah baju Widodo dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga wajahnya pun terlihat dengan jelas oleh Widodo.
“Kau, anak dari dua sampah yang menghalangi proyek pembangunan supermarketku..!” ucap Widodo saat tubuhnya sudah terangkat tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit ruangan.
“Akhirnya muncul juga, bos sampah yang hanya bisa menindas orang kecil..! Karena kau sudah ingat siapa aku, sekarang aku akan memberi salam untukmu..!” ucap Febrianto.
Febrianto melempar tubuh Widodo ke udara dengan mudah seperti melempar sebuah bantal.
Ditengah lemparannya yang mengarah ke langit-langit, Febrianto mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menhantam wajah Widodo dan menghempaskannya ke lantai dengan sangat keras.
“BOOM..” Seperti mendengar sebuah ledakan bom, Widodo pun sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai setelah dihantam oleh Febrianto yang melepaskan seluruh kekesalannya dalam satu serangan.
Lantai ruangan tersebut terasa bergetar ketika tubuh Widodo menyentuh lantai dengan keras.
“Kau..! Beraninya kau lakukan itu pada bos Widodo, kau benar-benar cari mati..!” teriak salah satu orang suruhan Widodo yang masih berdiri dan berbalik ke arah Febrianto sambil mengeluarkan pisau lipat dari balik saku.
“Oi, kalian benar-benar tidak sopan ya? Kenapa aku tidak dihiraukan?” ucap Desta.
“Hah? Memangnya bisa apa kau?” salah satu pria yang menoleh kembali ke arah Desta, meremehkan kemampuan Desta karena melihat tubuhnya yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Febrianto yang baru saja membuat bos mereka tidak sadarkan diri.
“Oh percayalah, kau tidak akan mau tahu jawaban dari pertanyaanmu itu..!” Desta menyiapkan kuda-kuda untuk langkah sunyi.
Namun, belum sempat dia melancarkan serangannya, Febrianto maju dan menghabisi mereka semua tanpa ampun.
“K-kau..! Arrhh...” dan akhirnya semua orang pun pingsan setelah dihajar oleh Febrianto yang mengamuk.
“Kalian tidak pantas dan tidak ada hak untuk berhadapan dengan bos yang sebenarnya..!” ucap Febrianto yang masih menggenggam kedua tangannya dengan kuat dan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1