
“Seseorang tolong panggilkan ambulans..!” teriak Desta namun tidak ada satu orang pun yang berani merespon, mereka tidak ingin terlibat dalam masalah tersebut.
Dengan hati yang sangat geram, akhirnya Desta sendiri yang akan menghubungi ambulan untuk memberikan pertolongan kepada pria tersebut.
“Dasar sampah..!” Desta mengutuk orang-orang yang hanya bisa mematung tidak berani berbuat apapun untuk sekitarnya.
“Terima kasih atas simpatimu, aku tidak akan melupakan wajahmu..!” ucap Desta saat ambulan akhirnya datang 10 menit kemudian untuk membawa pria tersebut dan keempat orang yang pingsan setelah dihajar oleh Desta.
“Oh aku lupa, masih ada satu orang lagi yang tidak pingsan” Desta melihat ke arah pria yang pertama kali menyerangnya tadi, masih terduduk di lantai dan sepertinya dia sudah mulai bernafas normal.
“Jadi, aku ingin berbicara serius denganmu..!” Desta menghampiri dan menarik kerah baju pria tersebut dan menghempaskannya ke kursi taman.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Desta dengan wajah yang masam.
“Hoo, tidak mau bicara ya?” Desta mengambil foto pria tersebut dengan ponsel miliknya dan mengirimkannya kepada Sebastian.
“Paman, tolong cari tahu informasi tentang keluarga orang di foto yang aku kirimkan padamu..!” ucap Desta dalam sebuah pesan singkat kepada Sebastian.
“Sebentar lagi aku akan mengetahuinya..!” Desta mengatakan hal tersebut tepat di depan wajah pria tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara yang tidak asing bagi Desta.
“Orang bodoh..!” teriak suara tersebut, dan ternyata itu adalah suara dari Imam.
__ADS_1
“Hoo, ternyata kau bosnya? Kau berbicara pada siapa?” tanya Desta saat berbalik melihat ke arah Imam yang berjalan mendekat.
“Kalian berdua..! Dia bodoh karena tidak bisa menghabisimu, padahal mereka ada 5 orang, dan kau bodoh karena sudah memukuli mereka..!” Imam berkata sambil tertawa kecil kesenangan.
“Hmm? Aku hanya membela diri, kenapa aku yang bodoh? Lagipula mereka itu siapa?” tanya Desta penasaran.
“Ya kau itu memang sangat bodoh, otak udang..! Memangnya kau tidak tahu siapa yang aku sewa?” tanya Imam sambil menunjuk ke arah pria tadi.
“Tidak tahu dan tidak mau tahu..! Yang aku tahu, mereka sangat bodoh karena sudah menyerangku” Desta mengangkat kedua bahunya.
“Benar, ‘kan? Kau itu benar-benar sangat bodoh sampai-sampai tidak tahu bahwa mereka itu adalah anggota dari gangster yang terkenal dengan kebengisannya di seluruh Jakarta yang bahkan kepolisian pun tidak ingin mencampuri urusan mereka..!” Imam tertawa senang karena dia pikir Desta sudah tamat saat dia memukuli mereka berlima dan anggota yang lainnya pasti akan datang untuk membalaskan dendamnya.
“Oh, maksudmu gangster Elang Hitam?” ucap Desta dengan ekspresi yang sangat santai.
“Tepat sekali..! Ternyata orang bodoh pun tahu tentang mereka ya? Haha..!” Imam mulai tertawa terbahak-bahak.
Pria yang menyerang Desta di awal tadipun berdiri di belakang Imam dan ikut menertawai Desta yang sebentar lagi akan tamat riwayatnya.
“Anak muda, sebaiknya kau mengikuti kemauannya..!”
“Ya, kau itu masih sangat muda, masih banyak jalan yang baik untukmu daripada harus mati mengenaskan oleh kelompok gangster..!”
“Lari saja tidak akan menyelamatkanmu, aku setuju jika kau menuruti kemauan orang itu, aku kasihan padamu..!”
__ADS_1
Semua orang memperingati Desta tentang kekejaman yang dimiliki oleh gangster Elang Hitam, mereka hanya tidak ingin melihat mayat ditengah taman kota seperti ini.
Namun Desta berjalan dengan santai dan duduk di kursi taman tempat awal dia datang tadi, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi Jefrey.
“Ada apa tuan muda?” tanya Jefrey yang sepertinya sedang dalam perjalanan karena terdengar mesin mobil yang lalu lalang didekatnya.
“Kau di mana?” Desta menanyakan itu dengan nada yang dingin dan membuat Jefrey merinding.
“A-aku sedang dalam perjalanan menuju taman kota tuan muda, aku mendengar laporan dari anak buahku yang katanya sudah dihajar oleh seseorang di sana dan sekarang aku sudah hampir tiba di sana dengan membawa 50 orang untuk menghukum orang itu” jawab Jefrey.
“Oh baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggumu dulu” jawab Desta dan langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
“Tuan muda kenapa ya?” Jefrey bertanya-tanya dalam hatinya, namun dia lebih berfokus kepada orang yang menghajar kelima anggotanya yang termasuk orang kuat didalam kelompoknya.
Tak lama dia pun tiba di taman kota dengan 50 orang di belakangnya, dia melihat ke arah kerumunan orang di tempat yang disebutkan oleh anggotanya yang sudah berada di rumah sakit.
Semua orang pun melihat ke arah kelompok Elang Hitam yang turun dari mobil mereka.
“Anak muda, sekarang sudah sangat terlambat jika kau ingin lari”
“Aduh, aku tidak sanggup melihat ini semua, aku harus pulang”
“Hei, kenapa sih kalian harus ribut-ribut di sini?”
__ADS_1
Semua orang sangat ketakutan dengan aura yang dikeluarkan oleh Jefrey dan kawan-kawannya.
“Cih, masih bisa bersikap santai seperti itu? Aku benar-benar salut dengan kenekatanmu..!” ucap Imam mencibir Desta yang masih tidak beranjak sedikitpun dari kursi taman yang dia duduki.