
“Jika memang nekat datang ke sini, mereka hanya berdua dan tidak mungkin bisa melawan pasukan bersenjata sebanyak ini..!” pikir Widodo sambil tersenyum mengira dirinya sudah menguasai situasi karena para sandera masih berada di dalam ruangan ini.
10 orang bawahannya pun keluar untuk memeriksa apa yang terjadi barusan dengan membawa lampu senter bersama mereka.
Febrianto yang sudah menunggu di luar, bersiap untuk melumpuhkan mereka dengan bersembunyi dibalik sebuah kotak besi berukuran besar yang ada di lorong sambil memegang senjata yang sudah diambilnya dari 2 orang tadi.
Meskipun dalam keadaan gelap Febrianto bisa melihat mereka dengan jelas karena lampu senter yang dibawa oleh pasukan tersebut.
Febrianto melempar selongsong peluru yang sudah kosong ke arah berlawanan dari arahnya bersembunyi.
Pasukan tersebut langsung merespons dan mengarahkan lampu senter mereka ke sumber suara.
Dalam kesempatan itu, Febrianto langsung menembakkan senjatanya ke arah mereka dan melumpuhkan lebih dari setengahnya dengan beberapa tembakan yang mendarat di leher mereka setelah saling tembak.
“Sisa 3 orang, ini akan lebih mudah..!” gumam Febrianto.
Namun tanpa terasa, darah mengalir dari bagian bahu Febrianto, dia tertembak dengan 2 peluru yang bersarang di bahunya.
__ADS_1
“Kurang ajar..! Sejak kapan aku tertembak?” kutuk Febrianto.
Ketiga orang sisanya berjalan perlahan sambil menodongkan senjata mereka ke arah kotak besar tempat Febrianto bersembunyi.
“Sial, tangan kananku mulai mati rasa..!” dalam keadaan hidup dan mati seperti ini, Febrianto merasa sedikit ketakutan tapi berhasil diredamnya saat teringat kedua orang tuanya yang masih disandera oleh Widodo.
“Cih, mana bisa aku mati sekarang..!” dengan bertaruh dengan kemampuan tangan kirinya yang buruk, dia berencana menghabisi sisa pasukan itu dalam satu serangan.
“Ayah, ibu, tunggu aku..!” Febrianto melompat keluar dari persembunyiannya dan segera menembakkan senjata ke arah lampu senter yang dilihatnya.
Tapi, yang dia tembak adalah angin karena ketiga orang tersebut sudah dilumpuhkan oleh pasukan penembak jitu yang sedang mengawasi dari luar gedung.
“Wah, aku tidak menyangka senjata ini sangat kuat” ucap salah satu penembak jitu.
“Tentu saja, kau bisa menembus kendaraan lapis baja setebal 10 milimeter dari jarak 2 kilometer dengan senjata itu” jawab Jefrey.
Senjata itu adalah SPR-2 Pindad produksi Indonesia yang sempat membuat kekuatan militer luar negeri gempar karena daya tembak yang luar biasa.
__ADS_1
“Tetap pantau situasi di dalam..!” sambung Jefrey.
“Siap..!” Seluruh penembak jitu menjawab serentak.
Di sisi Febrianto..
“Wow, apakah tangan kiriku memang sehebat itu?” ucap Febrianto sambil membuka matanya.
Lalu dia berdiri dan berjalan mendekati tubuh para bawahan Widodo untuk memastikan lagi.
“Oke, mereka semua mati..!” ucap Febrianto, dia sudah bisa bernafas lega lalu menyandarkan tubuhnya di tembok karena kesadaran yang sudah mulai hilang akibat darah yang terus mengalir dari bahunya.
“Setelah ini, aku akan membuat ayah dan ibuku bahagia..! Bos, aku mengandalkanmu..!” sesaat kemudian Febrianto pun pingsan.
Sementara itu, posisi Desta sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Febrianto yang dijaga oleh Widodo dan beberapa sisa bawahannya.
“Sudah tidak ada suara tembakan, mungkin mereka semua sudah dibereskan oleh Febrianto..! Kalau begitu sekarang giliranku untuk mengisi acara ini..!” kata Desta, lalu dia menyiapkan diri untuk serangan dadakan.
__ADS_1