Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Cepat Bunuh Aku


__ADS_3

Dalam situasi seperti ini, Desta tidak bisa panik dan tetap tenang seperti biasanya.


Dia memikirkan cara untuk melawan senapan mesin milik Harianto yang sedang ditembakkan secara membabi buta ke arahnya.


“Hmm, kalau tidak salah aku pernah melihat kelemahan senjata tipe itu, aku coba saja kalau begitu” Desta mencoba untuk menghancurkan senapan mesin Harianto dengan menembak ke arah pelatuknya.


“Dorr.. Dorr..”


Percobaan pertama tidak berhasil, tembakannya meleset dan hanya mengenai tembok di belakang Harianto, dia malah mendapatkan luka tembakan di betis kanannya dan membuatnya sedikit berjalan pincang karena peluru yang bersarang di otot kakinya.


“Bocah, apa yang sedang kau lakukan? Apakah itu yang namanya tembakan keputusasaan?” Harianto tertawa terbahak-bahak dan tetap menembakkan senapan mesinnya ke arah Desta.


Hingga kesempatan pun tiba bagi Desta, senapan mesin Harianto macet dan tidak bisa ditembakkan lagi karena terlalu panas.


“Ah, senjata sialan..! Aku sudah ditipu olehnya, senapan mesin ini tidak bisa bertahan lama” Harianto membuang senjatanya lalu mengambil pistol yang ada di saku celananya.


“Baiklah bocah ayo kita selesaikan urus...”


“Dorr.. Dorr.. Dorrr”

__ADS_1


Harianto tidak bisa menyelesaikan ucapannya, ketika sebuah peluru sudah bersarang tepat di dahinya yang membuatnya terjatuh di lantai, tembakan itu membunuhnya seketika.


Tembakan yang barusan adalah peluru terakhir yang dimiliki Desta, jika dia tidak mengenainya, kemungkinan Desta akan benar-benar tamat di tempat itu.


“Huh, aku sangat beruntung kali ini, baiklah saatnya menyusul Febrianto, aku yakin dia sudah menangkap Herman” ucap Desta sambil berjalan terpincang-pincang ke arah pintu yang satunya untuk menyusul Febrianto.


Dia merasa sangat kesakitan dengan semua luka yang dia dapat saat pertarungan tadi, tapi dengan cepat dia merasa terbiasa dengan rasa sakit itu dan melangkah seperti berjalan normal.


“Bos, aku sudah melakukan tugasku, aku menangkap Herman dan sekarang di sedang terduduk di sana” Febrianto menunjuk ke arah sebuah taman yang digunakannya untuk meletakkan Herman yang sedang terluka karena dia tembak kedua kakinya.


“Kerja bagus Feb, aku akan memberimu hadiah nanti” jawab Desta dan langsung menuju ke arah Herman yang sedang kesakitan.


“Wah wah, coba lihat siapa ini, apa kabarmu Herman? Kau baik-baik saja kan?” Desta menyapa Herman sambil tersenyum kecil dan menodongkan pistol yang diberikan Febrianto kepadanya.


"Plak.." sebuah tamparan keras mendarat di wajah Herman hingga membuat hidungnya mimisan.


"Bagaimana rasanya tamparanku, manis bukan?" Desta tersenyum seperti seorang psikopat.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa tidak kau bunuh saja aku daripada kau siksa perlahan seperti ini..!" teriak Herman yang sudah terlihat sangat putus asa.

__ADS_1


"Oh tenang saja, aku pasti akan membunuhmu, tapi aku ingin menghukummu terlebih dahulu" tidak ada ekspresi yang menunjukkan belas kasihan di wajah Desta, dia sudah sangat geram dengan orang yang seperti ini.


"Kau tahu? Kau harus merasa terhormat karena membuatku melakukan hal sejauh ini..! Kau orang pertama yang ingin aku habisi dengan sungguh-sungguh" ucap Desta yang bahkan membuat Febrianto ikut bergetar ketakutan.


"Sialan, aku akan membuatmu menyesal telah melakukan semua ini..!" ancam Herman, dia telah lupa bahwa Desta paling tidak suka diancam.


"Dorr.."


Sebuah tembakan ke tangan kiri Herman dan seketika membuatnya lumpuh.


"Hah? Tadi kau bilang apa?" Desta menempelkan tangannya di telinga dan berpose seperti sedang ingin mendengarkan omongan Herman.


"Kau akan menye.."


"Dorr.."


Desta menembakkan pistolnya kembali ke tangan kanan Herman yang membuatnya berteriak tapi langsung cepat ditutup mulutnya oleh Febrianto.


Kini dia sudah lumpuh total, benar-benar tidak ada ampun bagi Herman.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang, aku sangat benci diancam tapi kau sepertinya benar-benar menganggap remeh ucapan dari seorang gelandangan sepertiku" Desta mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya.


"Ce..pat bunuh A..ku..!" Herman sudah tidak sanggup dengan siksaan yang diberikan oleh Desta, dia ingin segera mengakhirinya, namun Desta tidak akan memberikan jalan kabur semudah itu untuknya.


__ADS_2