
Debby sudah tahu bahwa Imam akan menunjukkan sesuatu yang tidak baik tentang Desta di pertemuan itu, dan kini dia menyesal karena sudah membuang waktunya yang berharga dan Debby pun segera pergi dari tempat itu bersama Roger.
Di sisi Imam..
"Sialan..! Memangnya apa kelebihan dari si satpam itu sehingga Debby lebih memilihnya daripada aku yang kaya raya ini? Apakah dia sudah benar-benar buta?" Imam mengutuk dalam hatinya dengan tangan yang tergenggam keras.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk menyusun rencana kembali karena bagaimanapun, dia sudah tidak bisa mundur lagi sampai Debby pun berpaling padanya.
Di sisi Debby..
"Huh, seharusnya aku tidak membuang waktuku di sini" gerutu Debby.
Roger yang melihat itu pun menanyakannya, "Kalau boleh aku tebak, orang tadi pasti orang yang menyukai Anda?" ucap Roger sambil tetap memfokuskan pandangannya ke depan karena dia sedang menyetir.
"Sangat terlihat ya? Haha, entah apa yang membuatnya berpikir untuk terus mengejarku disaat dia sudah tahu bahwa aku sudah bertunangan dengan Desta" Debby mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Haha, aku yakin sekali orang seperti itulah yang sering dihadapi oleh tuan muda..!" ucap Roger sambil tertawa kecil.
"Mengapa begitu?" Debby menoleh ke arah Roger.
"Ya, menurutku saja sih, karena tuan muda selalu berpenampilan sangat biasa saja ke manapun dia pergi, tentu orang-orang yang melihatnya akan merendahkannya dan jika memang orang itu adalah seperti yang barusan, mereka pasti akan berusaha bagaimanapun caranya untuk menyigkirkan tuan muda agar mereka bisa mendekati nona Debby karena mereka merasa lebih pantas untuk Anda" jawab Roger.
Debby pun menganggukkan kepalanya karena memang benar seperti itu kejadian sebelumnya.
"Haduh, jika begitu aku hanya akan kasihan kepada mereka, karena tidak bisa dibandingkan dengan Desta dan hanya akan menyakiti diri mereka sendiri..!" ucap Debby.
Di sisi Imam..
Bagaimanapun, dia masih tidak terima dengan perlakuan Debby kepadanya.
“Cih, bisa-bisanya aku merasa terhina seperti ini hanya karena dia lebih memilih seorang satpam..! Lihat saja, jika aku tidak bisa membuat si satpam itu menderita, aku tidak akan berhenti..!” keberanian itu muncul karena belum lama ini dia berhasil membangun sebuah supermarket di daerah dekat dengan perusahaan Gloria.
__ADS_1
Saat dibuka 2 minggu yang lalu dan dengan promosi besar-besaran untuk meningkatkan penjualan di supermarket tersebut, Imam dengan cepat menjadi seorang bos besar dari sebuah supermarket yang laris.
Dengan cepat Imam meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tidak dituliskan namanya.
“Ini aku..!” dia pun berbincang dan menegosiasikan sesuatu dengan orang di ujung telepon.
10 menit kemudian panggilan telepon pun dimatikan, “Saatnya pembalasan..!” ucap Imam dengan tatapan sinis dan dia pun beranjak pergi dari kedai kopi tersebut.
Di sisi Desta..
“Mobil baru, hari baru..!” dengan kecepatan tidak lebih dari 40 kilometer per jam, Desta membawa mobil barunya tersebut ke untuk berkeliling kota Jakarta karena untuk saat ini dia sama sekali belum ada kegiatan lain.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
Itu adalah notifikasi lamaran pekerjaannya sebagai guru di sekolah yang berlokasi tak jauh dari perusahaan Gloria.
__ADS_1
“Hmm, padahal aku kira ini sekolah yang berdekatan dengan Heir Group, tapi ya sudah aku coba dulu saja” Desta melihat isi dari notifikasi tersebut dan betapa terkejutnya dia saat membacanya.