
Mita kembali ke dalam, "Ada bingkisan untukmu" Mita memberikan bingkisan dari Desta pada Joni.
"Ini teh mahal..! Siapa yang memberikannya?" Joni terkejut, jarang sekali ada yang memberikan hadiah semahal itu untuknya.
"Hah? Tapi itu terlihat seperti teh murahan saja, apanya yang istimewa?" Dina berkata demikian karena dia tidak mengerti soal teh yang berkualitas.
Mita hanya tersenyum tipis mendengar ibunya berkata seperti itu, seolah dia sudah tahu itu pasti sesuatu yang biasa saja.
"Teh murahan katamu? Kau pikir berapa harga teh ini untuk 1 kilogramnya?" Joni menaikkan alisnya dan bertanya pada Dina yang meremehkan penilaiannya soal kualitas teh tersebut.
"Yah, paling-paling tidak lebih dari 100 ribu saja" Dina menaikkan bahunya.
"Oh begitu? Jika aku bilang harganya hampir 90 juta per kilogramnya, apa kau percaya?" Joni berkata seperti menantang Dina untuk mengetahui harga yang sebenarnya.
"Mana mungkin..! Dia terlihat sangat biasa, tak ada yang istimewa dari penampilannya, tidak mungkin dia mampu mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk teh..!" Mita berteriak memungkiri omongan ayah tirinya itu dan Dina mengerutkan alisnya karena tidak percaya ada teh semahal itu.
__ADS_1
"Hoo, jadi kalian tidak percaya?" Joni meraih ponselnya dan segera mencari nomor teman lamanya yang juga ahli dalam dunia teh.
"Fandi, aku ada barang bagus, datanglah ke rumahku secepat yang kau bisa..!" Joni berkata dengan nada pelan, dan menutup panggilannya.
10 menit kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Mita kembali membukakan pintu dan terdiam, dia melihat seorang pemuda dengan wajah yang tampan berumur sekitar 25 tahun dan berpenampilan selayaknya orang kaya.
"Maaf, paman Joni ada di rumah? Aku Fandi, tadi paman meneleponku untuk menunjukkan sesuatu yang bagus" laki-laki itu berkata dengan nada yang menawan di telinga Mita.
"Terima kasih" Fandi baru pertama kali melihat Mita, karena selama ini Joni tidak pernah menyuruhnya datang ke rumahnya, biasanya mereka akan bertemu di sebuah kedai teh untuk berbincang-bincang seputar teh.
"Ah, Fandi kemari lah, coba lihat ini" Joni memperlihatkan teh pemberian Desta yang sudah dipindahkan ke dalam sebuah stoples kaca.
"Ini..!" Fandi terperanjat melihatnya dan mengambil stoples kaca itu dari Joni untuk melihatnya lebih jelas, lalu mencium aroma yang dikeluarkan teh itu.
__ADS_1
"Tidak salah lagi, ini adalah teh Narcissus..! Ini termasuk teh langka dari China yang per kilogramnya seharga hampir 90 juta..!" Fandi baru pertama kali melihat teh ini secara langsung, karena selama ini dia hanya mengonsumsi teh yang harganya tidak lebih dari 20 juta per kilogramnya.
"Paman, aku akan membelinya darimu dengan harga 100 juta per kilogramnya..!" Fandi langsung menawarkan untuk membeli teh itu dari Joni.
Mendengar hal itu, mulut Dina dan Mita terbuka lebar karena terkejut dan tidak percaya harga untuk sebuah teh bisa semahal itu dan kini Fandi menawarkan untuk membelinya dengan harga 100 juta per kilogramnya, Mita menyesal telah meremehkan Desta yang memberikannya secara cuma-cuma pada mereka.
Dia berpikir Desta pastilah salah satu teman kakak tirinya yang termasuk golongan atas, tapi dia juga bingung, jika memang desta orang kaya, mengapa dia bekerja sebagai seorang kurir sebelumnya.
"Haha, aku tidak akan menjualnya, ini adalah pemberian dari temannya Andre, tapi aku menghargai niatmu." Joni menolak penawaran Fandi yang akan membelinya.
"Aku sudah tahu paman akan begitu" Fandi hanya tertawa dan dia selalu salut kepada Joni yang selalu menghormati sebuah pemberian dan tidak pernah tergiur oleh uang untuk menjualnya kembali.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita nikmati saja teh ini bersama-sama?" Joni menawarkan Fandi untuk meminum teh itu bersama keluarganya.
"Aku sangat menghargainya, paman." Fandi menjawab dengan penuh hormat walaupun dia adalah seorang ahli teh nomor 1 di Jakarta, dia selalu merendah di hadapan Joni karena menurutnya dengan pengetahuan dan penilaian yang dimilikinya, Joni adalah ahli teh yang sebenarnya.
__ADS_1