
“Feb, karena sekarang sudah terlalu malam, apa kau masih mau melanjutkan?” tanya Desta saat dia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan jam 9.30 malam.
“Bos, apakah wajahku menunjukkan bahwa aku ingin berhenti? Aku tidak akan berhenti sampai masalah ini selesai..!” Febrianto sudah menunjukkan niat sungguh-sungguh dan Desta pun hanya tersenyum melihatnya.
“Oke, kalau begitu ayo kita selesaikan dengan cepat..!” Desta mengoper transmisi dan mempercepat laju kendaraannya.
1 jam kemudian mereka pun tiba di sebuah distrik yang penuh dengan jajanan lokal dan banyak sekali orang yang masih berlalu-lalang walaupun sudah selarut ini.
“Bos, kalau suasana seperti ini sih aku yakin siapapun akan tetap terjaga sampai pagi” ucap Febrianto saat melihat area tersebut seperti sedang menyambut pergantian tahun dengan kembang api yang meledak-ledak dan memekakkan telinga.
“Mmm, dan seharusnya bos Widodo ini masih ada di sini” Desta menunjuk ke arah sebuah gedung yang sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Lisna.
Di depannya berdiri 4 orang penjaga dengan setelan jas berwarna hitam sedang memeriksa setiap tamu yang akan masuk.
“Bos?” ada sedikit keraguan didalam hati Febrianto, dia takut jika penyamaran mereka terbongkar.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Febrianto merasa seperti itu, mereka hanya berdua dan akan masuk ke dalam sarang penyamun yang jumlah pasukannya belum diketahui oleh mereka.
“Tenanglah..! Dengan emblem ini, seharusnya kita tidak akan langsung ketahuan selama tidak melakukan gerakan yang mencurigakan” Desta mengeluarkan 2 emblem yang disimpan di saku bajunya.
“Oke bos..!” Febrianto menganggukkan kepalanya, lalu Desta menghentikan mobil van hitamnya di halaman depan gedung tersebut dan mereka berdua pun turun.
“Berhenti..! Apa urusan kalian di sini?” ucap salah satu dari penjaga yang mencegat mereka berdua.
“Oh, tidak ada, aku datang untuk bertemu dengan bos Widodo” Desta menjawab sambil memperlihatkan emblem yang diberikan oleh Lisna.
“Hmm? Kenapa mereka bersikap seperti itu? Bukankah ini hanya emblem anggota biasa?” Desta penuh dengan tanda tanya di kepalanya.
“Oke terima kasih..!” Desta dan Febrianto pun berjalan masuk ke dalam gedung tersebut.
“Bos, sebenarnya emblem apa itu?” Febrianto juga memikirkan hal yang sama dengan Desta.
__ADS_1
“Kalau aku tahu jawabannya, aku pasti akan mengatakannya padamu..! Yang penting untuk saat ini kita masih aman berkat emblem ini” ucapan Desta sudah menjawab pertanyaan Febrianto dan dia pun langsung mengerti.
Mereka berdua berjalan menelusuri sebuah lorong yang ujungnya masih belum terlihat.
“Sebenarnya seberapa besar gedung ini? Bos, kenapa Anda berjalan semakin cepat dan menjauh dariku? Dan suara apa yang dari tadi mendengung ini?” Febrianto mengeluh karena dia sudah berjalan sekitar 2 menit tapi belum juga terlihat ujungnya, dan lagi, dia melihat Desta yang berjalan semakin menjauh darinya padahal langkah mereka berdua sama cepatnya.
“Feb..!” Desta berbalik arah dan melihat Febrianto lalu menepuk dahinya sendiri.
“Dari tadi kau itu berjalan di atas treadmill..!” Desta menghela nafas panjang dan mendengus dingin melihat tingkah bawahannya ini.
“Astaga..! Siapa yang meletakkan treadmill di tempat seperti ini? Kurang ajar..!” Febrianto pun mematikan treadmill dan turun untuk segera menyusul Desta.
“Kembalikan fokusmu..!” Desta menampar wajah Febrianto dan kembali berjalan.
“Baik bos..!” Febrianto berlari kecil untuk menyusul Desta dan mereka tetap berjalan lurus ke depan menelusuri lorong tersebut.
__ADS_1