Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Widodo Sekarat


__ADS_3

“Haha, seperti namamu, Widodol..! Kau benar-benar tidak berguna..!” ucap Desta, kemudian dia berjalan ke arah yang terdapat sedikit pencahayaan.


“Kau..!” ucap Widodo sambil mundur beberapa langkah ke belakang.


“Jef, nyalakan lampunya..!” ucap Desta sambil menekan tombol di headset.


Listrik pun kembali dinyalakan dan lampu sudah kembali menerangi seluruh gedung tersebut.


“Sekarang, baiknya aku apakan kau ini? Patahkan kaki dan tangan, atau lebih bagus lagi, memotongnya mungkin?” ucap Desta sambil berjalan pelan ke arah Widodo yang sangat ketakutan.


“Ba-bagaimana bisa kau?” Widodo benar-benar tidak tahu bagaimana sebelumnya Desta bisa masuk ke dalam ruangan ini tanpa ketahuan meskipun dalam keadaan gelap.


Karena, kondisi di dalam ruangan sangat penuh dengan kursi dan meja yang sudah tidak terpakai pasti akan membuatnya paling tidak menyenggol salah satunya.


“Bagaimana bisa aku masuk? Mudah saja, itu karena kau sangat bodoh untuk menyadari keberadaanku..!” jawab Desta.

__ADS_1


Desta mengambil sebuah kursi kayu yang ada didekatnya lalu dihantamkannya ke lantai untuk mematahkan kursi tersebut.


“Ma-mau apa kau?” Widodo mundur ketakutan hingga terjatuh di lantai dan merangkak mundur menjauh dari Desta.


“Hmm, tidak ada..! Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang denganmu..!” jawab Desta dengan ekspresi wajah yang menyeramkan.


Widodo melihat ke arah kiri dan kanannya untuk mencari senjata yang mungkin bisa dia gunakan untuk membunuh Desta, dia pun berjalan perlahan agar niatnya itu tidak diketahui oleh Desta.


Saat Widodo melihat senapan laras panjang yang ada pada tubuh pasukan Kardi yang sudah tumbang, “Plaak..” bunyi kayu dari kursi patah yang menghantam wajah Widodo dengan keras hingga membuatnya tersungkur.


“Bukk...” pukulan keras terdengar hingga ke telinga Tirta dan Dewi yang sedang bersembunyi.


Mereka tidak ingin tahu apa yang akan dilakukan Desta kepada orang-orang yang sudah mencelakainya karena menurut mereka ini adalah balasan yang setimpal untuk Widodo.


“Arrrrrghhhhh.... Wajahku..!” teriak Widodo kesakitan sambil menutupi wajahnya.

__ADS_1


“Shhhh... Suara teriakanmu jelek sekali..! Lebih baik kau diam..!” lalu Desta lanjut memukuli wajah Widodo hingga memar dan darah menutupi seluruh wajahnya.


“Folong meafkan bfaku..!” ucap Widodo yang sudah tidak jelas lagi kata-kata apa yang dikatakannya karena bibir yang sudah membengkak akibat pukulan Desta.


“Hah? Kalau bicara itu yang jelas..!” ucap Desta sambil menampar wajah Widodo yang sudah tidak berbentuk normal lagi.


“Dengar, memang ini bukanlah urusanku..! Tapi, sejak Febrianto adalah temanku, keluarganya adalah keluargaku juga..! Kau mencelakai mereka, berarti kau mencari masalah denganku..!” ucap Desta dengan lantang dan tatapan tajam yang sangat dingin.


“Paman Tirta, bibi Dewi, keluarlah..! Aku ingin kalian yang menentukan hukuman untuk orang ini..!” teriak Desta memanggil kedua orang tua Febrianto.


Tirta dan Dewi keluar dari persembunyian mereka tapi dengan wajah yang sedikit ketakutan setelah adegan sengit tadi.


“Paman, bibi, kemarilah..!” ucap Desta memanggil mereka berdua.


“Karena orang bodoh ini sudah menyakiti kalian, aku ingin paman dan bibi yang menentukan hukuman apa yang harus aku berikan kepadanya..!” ucap Desta, dia ingin menepati janjinya kepada Debby untuk tidak terlalu menyiksa ketika menghukum seseorang.

__ADS_1


__ADS_2