Si Miliarder Muda

Si Miliarder Muda
Bos, Kau Baik-Baik Saja?


__ADS_3

“Memangnya kapan kau akan pulang ke sana?” tanya Desta.


“Aku berencana akan berangkat 1 hari sebelum ulang tahun ayahku, jadi aku akan berangkat besok hari” Febrianto mengatakan dengan perasaan tidak enak karena dia tahu Desta pasti masih merasa lelah setelah kegiatannya di Malang.


“Oke, tidak masalah, kalau begitu aku akan meminta bantuan pamanku saja untuk membelikan mobilnya karena aku pasti tidak akan sempat berkunjung ke showroom mobil beberapa saat ini.” Ucap Desta yang kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Sebastian untuk meminta bantuannya.


Kemudian Desta mendatangi Debby dan berbisik, “Deb, traktirnya sekarang saja karena besok aku akan pergi lagi untuk perjalanan bisnis ke luar kota”.


“Kan memang hari ini aku ingin mentraktirmu, Bontet..!” jawab Debby.


“Haha, benar juga, maksudku sekarang saja kau traktirnya agar tidak pulang terlalu larut nantinya karena sekarang saja sudah jam 4 sore” ucap Desta sambil melihat arlojinya.


“Tapi, kan kita sudah makan, sebelumnya aku bermaksud untuk mentraktirmu makan, tapi pasti kau sudah kenyang kan?” ucap Debby dengan wajah yang sedikit murung.


“Haha, kenapa murung begitu? Aku memang sudah kenyang, tapi bukan berarti kau tidak bisa mentraktirku” jawab Desta untuk menyemangati Debby lagi.

__ADS_1


“Jadi, kau mau makan apa?” tanya Debby dengan penuh semangat.


“Bukan aku, tapi anak-anak di pinggir jalan yang lebih membutuhkan makanan daripada aku” jawab Desta yang menunjukkan niat baiknya.


Desta memang sering memberikan makanan pada anak-anak di pinggir jalan, dia merasa iba karena hal itu mengingatkannya pada keadaan keluarganya dulu.


“Bontet, kau..! Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu” jawab Debby dengan tatapan yang berkaca-kaca kepada Desta.


“Sudahlah, tatapan itu bisa membuatku meleleh nanti..! Aku melakukan itu untuk mereka hanya karena aku bisa” jawaban Desta yang seperti itu malah membuat Debby semakin yakin untuk menikah dengannya.


“Mmm, Oke” Debby mengedipkan matanya dan membuat Desta tertegun karena kecantikannya.


Desta memutuskan untuk segera pulang dan menyiapkan segalanya untuk liburannya ke Jogjakarta dengan Febrianto, mereka pun memesan taksi dan mengantaran Debby pulang terlebih dahulu lalu kembali ke apartemen.


Sebelum masuk ke kamar masing-masing, Desta menepuk pundak Febrianto dan berkata,

__ADS_1


“Aku hanya ingin memastikan, apakah ada di antara keluargamu itu yang suka sekali memamerkan harta kekayaan?” Desta merasa sudah mulai muak dengan sikap-sikap orang yang seperti ini, jadi dia ingin menyiapkan kesabarannya agar bisa untuk tidak mempedulikannya jika memang ada.


“Dari semuanya, memang ada satu keluarga dari ibuku yang selalu memamerkan kekayaannya setiap kali sedang berkumpul dengan anggota keluarga yang lain” jawab Febrianto.


“Ah, mendengarnya saja sudah membuatku malas, tapi ya sudah aku tetap akan ikut denganmu untuk memastikan semuanya baik-baik saja” jawab Desta dengan nada yang sedikit malas.


“Baik bos, terima kasih banyak” Febrianto merunduk memberikan hormat, lalu mereka masuk ke kamar masing-masing.


Keesokan harinya..


“Bos, kau sudah bangun?” suara Febrianto yang membangunkan Desta sambil mengetuk pintu kamarnya.


“Ya, aku sudah bangun, bahkan aku belum tidur semalaman” jawab Desta, dia belum tidur karena menonton pertandingan beladiri di salah satu saluran televisi hingga pagi.


“Bos, kau baik-baik saja?” Febrianto bertanya dengan nada khawatir.

__ADS_1


__ADS_2