
“Hei, kau serius? Deb, apa kau serius ingin menikah dengan orang ini?” tanya Marco yang semakin merendahkan.
Marco sendiri adalah orang yang sedari dulu mengejar cintanya Debby tapi selalu ditolak olehnya.
Hingga dia berniat untuk menjadi orang kaya lalu membuat Debby memohon untuk menjadikan dia sebagai pacarnya.
Tapi, dia tidak menyangka akan bertemu Debby di Jakarta karena Marco benar-benar tidak tahu kalau Debby tinggal dan bekerja di kota ini.
“Haha, aku benar-benar kecewa denganmu, Deb..! Ternyata aku telah salah menilaimu selama ini” ucap Marco.
“Beruntung sekali..! Kalau aku jadi wanita itu, pasti aku akan langsung beralih kepada pak Marco dan meninggalkan pria tak berguna itu..!” gumam Sally sambil menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Marco barusan.
Desta maju satu langkah ke depan dengan senyuman tipisnya dia berkata, “Bro, tidak ada yang peduli dengan penilaianmu..! Jadi, pergilah dari hadapanku sebelum kau menyesalinya”.
“Wow, aku sangat takut dengan ancamanmu, tolong..! Haha, apa kau pikir kau yang hanya sampah seperti ini bisa mengancamku yang seorang bos besar dengan mudah?” ucap Marco yang semakin memandang Desta dengan penuh penghinaan.
“Hoo, bos besar ya? Memangnya bos besar apa? Besar mulut?” ucap Desta yang sengaja memprovokasi Marco.
__ADS_1
“Bontet, sudahlah..! Tidak perlu kau layani hal yang tidak berguna seperti ini..!” Debby saat ini sedang ingin melepaskan pikirannya yang kalut karena memikirkan kondisi Lia saat ini.
Alih-alih ingin penyegaran, malah menghadapi ribut-ribut seperti ini.
Debby menarik kerah baju Desta dari belakang dan menyuruhnya untuk tidak melanjutkan keributan ini.
“Haha, hari ini tuan putri di sebelahku sedang tidak ingin melihat kekacauan..! Jadi, kau pergilah sebelum aku berubah pikiran..!” ucap Desta dengan tatapan tajam.
“Cih, sombong sekali..! Kita lihat saja bagaimana kau masih bisa sombong seperti itu di hadapan mereka..! Kau harus tahu, tidak ada satupun orang yang bisa memprovokasi diriku..!” teriak Marco yang sudah terpancing emosi.
Sebenarnya, Debby tidak ingin berteman dekat dengannya karena terkadang dia malu saat Marco sering berteriak karena emosi di tengah acara jalan-jalan antara teman kuliahnya dulu.
“Pria bodoh..! Sekarang kau sudah tamat..!” gumam Sally dengan senyuman liciknya.
“Ah, seandainya saja pak Marco melihat diriku yang cantik ini” gerutu Sally yang berandai-andai Marco akan menyukai dirinya.
“Memangnya siapa yang pak Marco hubungi?” tanya Sally.
__ADS_1
Dia baru ingat bahwa area perumahan ini adalah tanggung jawabnya, jika ada kerusakan yang terjadi saat masih dalam pengawasannya, dia harus membayar ganti rugi dan itu sudah pasti tidak sedikit.
“Heh, aku yakin pasti kau tahu gangster Elang Hitam, ‘kan?” jawab Marco sambil tersenyum licik.
Debby segera menarik tangan Desta untuk pergi dari situ, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
Tapi, dengan cepat Marco berjalan dan menghalangi jalan mereka agar tidak bisa pergi dari situ.
“Sudahlah, aku tidak akan apa-apa..!” Desta melepaskan tangannya dari genggaman Debby, lalu mencium dahinya untuk membuatnya tenang.
Lagi-lagi gangster Elang Hitam, Desta benar-benar heran dengan mereka beberapa waktu belakangan ini.
Apakah mereka tidak tahu siapa yang akan mereka hajar setiap kali menerima permintaan seperti itu dari orang lain.
Yang jelas, Desta akan memberikan pelajaran yang sangat menyakitkan untuk mereka jika berani bertindak berlebihan kepadanya ataupun Debby.
“Heh, memamerkan kemesraan di hadapanku, hah? Tapi, itu tidak akan lama lagi, karena mereka akan segera tiba..!” teriak Marco dengan emosi yang semakin memuncak saat melihat wanita yang sangat disukainya dicium oleh laki-laki yang menurutnya tidak lebih dari seorang sampah.
__ADS_1