
Setelah menghajar para pengeroyoknya , Bayu segera kembali ke warung dengan tersenyum gembira, seperti tidak pernah terjadi sesuatu saja.
Mi segera disodorkan ibu pemilik warung,,
"Ini mas, dua porsi buat masnya,," kata si ibu..
Ternyata Tirta dan Adna juga Faiza dan Selvi sudah menghabiskan mi instan mereka.
Dengan segera Bayu melahap habis dua mangkok mie sekalian kuahnya..
"Mmmhh sedaap ,, celoteh Bayu sambil mengecap-ngecapkan mulutnya.
Setelah membayarnya pada ibu pemilik warung,, Tirta, Bayu, Adnan, Faiza dan Selvi berjalan kembali ke tenda mereka di bawah tatapan mata kagum dari orang-orang yang tadi menyaksikan pertarungan seru antara Bayu dan lima orang pemuda berandalan.
Mereka berjalan dengan santai sambil melihat- lihat pemandangan di malam yang cerah, akan tetapi mulai sedikit berkabut.
Ketika mereka melewati perkemahan mapala dari Surabaya , terlihat beberapa dari mereka sedang berkumpul melingkar dan bermain gitar.
Terlihat mereka mengarahkan pandangan pada Iza , dan Selvi yang berjalan di depan Tirta, Bayu dan Adnan..
Memang , bagi para kaum adam yang belum pernah melihat Iza, pasti dikiranya artis dari ibukota,, karena memang Iza ini sangat cantik, dengan rambut hitam panjang dan tubuh semampai dan berisi..
Wajah manis dengan mata bulat berbinar,, bener-bener cuantik...tik, tik, tik..tak ada duanya.
Tiba-tiba Ravi si pemimpin anak anak mapala berdiri dan meletakkan gitarnya. Kemudian berjalan menyejajarkan diri dengan Iza..
"Mbak kenalan dong,," dengan gaya di buat semenarik dan se cool mungkin, si pemimpin mapala dari Surabaya ini mengulurkan tangannya..
Tapi,, Iza cuex saja seakan- akan tidak melihat nya ..
Teman- temannya yang melihat ini riuh tertawa ..
Terlihat Ravi sangat malu sekali.
"Huh , sombongnya,,!" gerutunya Ravi.
Belum selesai dia menggerutu tiba-tiba terdengar suara dari belakang .
"Emang enak ya di cuekin,, katanya saja gak mau bergaul sama mapala lain?!!! apa gak malu tuh mejilat ludah sendiri!"
Ravi yang mendengar sindiran dari belakangnya segera menengok,,
dilihat nya pemuda besar dan gendut, sedang tersenyum sinis padanya..
Di ingat-ingatnya, sepertinya dia pernah melihat pemuda besar ini..
Beberapa saat, kemudian dia segera teringat ketika tadi sore di padang savana dia memerintahkan anggotanya untuk tidak bergaul dengan anak mapala lain, dan anak besar ini ada di sana..
"Ooh ,, kalian,,,?"
Serunya sambil berlalu dengan membawa malu, dan segera kembali kepada teman-temannya..
***
__ADS_1
Fajar mulai menyingsing.
Beramai-ramai wisatawan dan para pendaki mempersiapkan kamera untuk menyaksikan Gold sunrise yang akan terbit sebentar lagi..
Guntur dan rombongan sudah mempersiapkan diri dengan ponsel kamera DSLR untuk mengabadikan puncak Bromo yang terkenal keindahannya sampai mancanegara..
Tampak juga bule-bule asing di antara wisatawan.
Tirta dan Iza berdua mencari tempat sendiri, sementara Adnan sudah dibuntuti Selvi,, entah kenapa sejak tadi malam dimana Selvi menggandeng Adnan, membuat Selvi ketagihan selalu bersama Adnan.. tampaknya Selvi merasa nyaman bersama Adnan..
Sebagai cowok pun, Adnan tampak senang- senang saja..
Pagi ini suasana sangat cerah.
Ketika waktunya Tiba, matahari pelan-pelan naik.
Semburat sinar emas memancar dari ufuk timur.
Sang penguasa siang telah mulai menunjukkan keindahannya..
Tirta dan Iza begitu mensyukuri bisa memyaksikan keindahan ciptaan tuhan, sang penguasa jagad Raya ini .
Ketika semua sibuk mengabadikan kemunculan sang mentari, mendadak terdengar jeritan minta tolong ..
Tampak orang-orang panik dan kebingungan,, beberapa berlarian mencari pertolongan.
Ternyata ada beberapa orang jatuh dari puncak Penanjakan..
Tirta segera mengajak Iza melihat apa yang terjadi .
"Maaf, ada apa ini?" tanya Tirta.
Seseorang segera memjawab,, "dua orang anggota kami jatuh ke dasar tebing ini?" serunya panik.
Terlihat Ravi dan beberapa berusaha memanggil dari atas puncak,, dasar tebing ini tidak terlihat dasarnya karena tertutup oleh awan..
" Iza, kamu tunggu disini," kata Tirta..
"Adan ,, Adnan,,!" seru Tirta mencari Adnan,,
Adnan yang memamg ada di sekitar situ segera mendekati Tirta.
"Ayo kita turun kebawah," ajak Tirta.
Keduanya segera menuruni tebing yang terjal itu..
Orang-orang yang menyaksikan ini sampai berteriak- teriak kawatir..
Ravi yang dari tadi tampak kebingungan juga hanya diam saja, tampak dia shock sekali mengalami kejadian ini.
Tak pernah dia bayangkan sebelumnya hari ini kolompok mapala yang di pimpinnya mengalami musibah.
Tirta yang turun dengan melompat, seperti melayang saja diikuti oleh Adnan ,, ternyata mereka segera mememukan seorang gadis yang tersampir di dinding tebing dan terbelit akar-akaran yang menjulur di tengah tengah tebing itu..
__ADS_1
"Ad ,, coba lihat gadis itu!", seru Tirta,,
"Aku akan turun ke dasar tebing!" lanjut Tirta.
Jarak pandang di dasar tebing hamya sekitar 3 sampai 5 meter saja karena masih tertutup kabut tebal.
setelah sampai didasar tebing, Tirta segera mencari keberadaan korban yang satunya lagi..
Beberapa saat dia mencari dengan lebih teliti, tapi korban masih belum juga ditemukan.
Dia segera berkonsentrasi mengerahkan mata batinnya.
Dalam keadaan berdiri diam, mata batinnya segera menangkap bayangan manusia yang sedang berdiri dan di sebelahnya tergeletak sosok yang lain..
"Ini aku mas Tirta," seru sosok bayangan tersebut.
Tirta terkejut, dan kemudian dia berdiri dan mendekati sosok itu .
Begitu dekat, Tirta segera mengenalinya sebagai Nastiti, cucu ki Ranu dari padukuhan rahasia, Srengseng.
"Nastiti!" seru Tirta kaget,,
"Iya mas Tirta, ini aku!" jawab Nastiti tersenyum manis.
"Kamu kok ada disini?" Tanya Tirta.
"Hanya kebetulan saja lewat mas, dan kebetulan juga aku melihat kejadian ini, sahut Nastiti.
Tirta kemudian berjongkok memeriksa gadis yang ada di sebelah Nastiti.
Dia tidak apa-apa mas,, hanya lecet- lecet dan mungkin juga ada beberapa bagian tubuhnya yang terluka dan patah tulang tapi tidak akan membahayakan nyawanya,, lanjut Nastiti..
Setelah memeriksa beberapa saat Tirta segera mengangguk membenarkan perkataan Nastiti.
"Oh ya mas Tirta, Mas sudah ditunggu-tunggu oleh Eyang ," kata Nastiti lagi..
"Iya Nastiti , Insyaallah Mas mu ini akan segera kesana ke padukuhan kalian untuk membantu eyang Ranu, jawab Tirta. Tapi Mas harus mengawal kawan-kawan mas dulu, kata Tirta.
"Segera bawalah gadis ini keatas mas, biar kawan- kawannya tidak khawatir, " pinta Nastiti.
Tirta segera mendukung si gadis yamg pingsan dan melompat lompat cepat keatas dengan berpijak pada batu-batu yang menonjol di dinding tebing tersebut..
"Sampai ketemu besok Nastiti ?," seru Tirta,,
"Iya mas hati- hati !" jawab Nastiti dari bawah..
Dipandanginya pemuda tersebut dari dasar tebing sampai tidak terlihat lagi karena kabut yang menyelimuti kawasan dasar tebing itu.
Sebenarnyalah Nastiti bukan kebetulan berada di dasar tebing itu, tapi dia memang selalu membayang- bayangi anak muda itu,, dia selalu penasaran dengan Tirta, dengan segala apa yang di lakukan oleh Tirta..
pemandangan Bromo di lihat dari Penanjakan 1
__ADS_1
View Bromo, dilihat dari puncak penanjakan.