Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
mulai kuliah lagi


__ADS_3

Demikianlah malam itu adalah malam terakhir bagi Nastiti memanjakan perasaanya pada Tirta, yang berlagak culun menghadapi Nastiti.


Pagi harinya Tirta , Bayu dan Adnan sudah bersiap dengan tas ransel masing-masing. Para warga padukuhan mengantar sampai regol padukuhan Srengseng, sedangkan Nastiti secara diam diam tanpa sepengetahuan ki Ranu mengantar Tirta sampai pinggir hutan yang berbatasan dengan dunia luar.


Tampak Nastiti sangat sedih dengan kepergian Tirta Jayakusuma, pemuda tang telah mencuri hatinya.


Dia hanya bisa memandang dari jauh ketiganya sampai di tikungan jalan menghilangkan bayangan tubuh Tirta dan dua orang kawannya .


Nastiti berdiri terpaku di atas sebongkah batu di ujung hutan sampai matahari bersinar terik dan tepat berada di atas kepala.


Dengan langkah gontai Nastiti melangkah menuju padukuhan Srengseng dimana orang- orang yang selalu mencintai dan dicintai selalu menunggunya


***


Hari ini Tirta, Bayu dan Adnan sudah masuk kembali di kampus di kota Semarang.


Jam sembilan pagi, seperti biasa Tirta, Bayu , Adnan juga Nani, Tia dan Dinda sudah menyewa tempat di warung sebelah kampus.


"Biasa ya Bu," seru Bayu,


"Iya mas Bay," jawab si ibu pemilik warung .. ya warung ini memang tempat favoritnya mereka. Dan ibu juga anaknya pemilik warung sudah terbiasa dengan sekelompok anak muda ini.


"Lama enggak kelihatan mas Bayu, mas Tirta, mas Adnan?" tanya si ibu.


"Iya Bu, kami pergi keluar kota, dan kemarin juga ada kegiatan naik gunung," jawab Bayu.


"Kita sudah banyak ketinggalan kuliah nih, kata Adnan.


"Iya, kalian terlalu banyak absen, untungnya banyak juga yang absennya kami tutup," jawab Tia, tersenyum.


"Iya terimakasih ya Tia," jawab Tirta.


"Jangan Trimakasih tok ! ah kami maunya tidak trimakasih ! kami maunya trima traktir di bakso pak Geger !" seru Tia dengan kejam..


Ya memang kebiasaan mahasiswa kalo bolos pada titip absen pada kawan- kawannya.


Tapi , kali ini Tirta , dah tidak perlu khawatir seperti dulu, di padepokan dia di berikan uang saku oleh kang Damar, juga dia masih ada kartu Atm yang isinya sangat buanyak yang diberikan oleh pak Fahrul papanya Iza.


"Tuh Tirta kamu juga sudah siapin catatan-catatan kuliah sewaktu kamu gak ikut kuliah sama Dinda," celetuk Nani..


"Apa Tirta aja yang siapin catatannya Nan?" tanya Bayu.

__ADS_1


"Kalian juga kok, tinggal photo kopi saja nanti," jawab Nani.


"Trimakasih ya Din, kata Bayu pada Dinda. ih yang trimakasih kok kamu.. harusnya Tirta Dong ! Wong catatannya buat Tirta bukan buat kamu !" semprot Tia..


"Iya- iya, Sono gih Ta, ucapin terimakasih pada Dinda!" seru Bayu seraya menyikut perut Tirta di sebelahnya.


Tirta yang sedang makan bakso jadi terkejut dibuatnya.


Bakso kecil yang ada di mulutnya langsung saja terlontar keluar dan kebetulan sekali Tia ada di depannya dan....


"pok,!!" bakso bulat tepat kena hidung Tia..


"Tirtaaaa,,,,!" seru Tia menjerit keras.


"Maaf, maaf Tia seru Tirta yang juga kaget karena tanpa sadar bakso di mulutnya terbang ke arah Tia.


"Ini ulah Bayu Tia," seru Tirta..


"Huh kalian bener-bener keterlaluan ya," seru Tia marah-marah.


Bayu tertawa nyengir melihat Tia seperti ini, memang sukanya mereka selalu saja ribut jika bertemu.


"Sudah, sudah Tia, gak sakit kan," kata Dinda sambil mengelus pipi Tia yang Chubby.


"Minggu depan sudah ujian tengah semester lho," lanjut Dinda,


"Iya Din," sahut Tirta .


"Nah gitu dong Taa," seru Tia.


***


Siang jam dua belas tepat mereka keluar dari ruang kuliah.


Tampak Bayu kali ini harus berjalan sendirian karena Tirta bersama Dinda dan Adnan tampaknya ingin berduaan saja dengan Nani.


"Pakai motor kamu aja ya Ta ," kata Dinda ketika mereka sedang berjalan berdua melewati parkiran mobil.


Memang jika dengan Tirta, Dinda lebih senang naik motor berdua saja dengan Tirta, daripada naik mobil miliknya.


Dinda lebih bisa berdekatan dan bermesra- mesra merasakan kedekatan dengan Tirta.

__ADS_1


Seperti biasa mobil Dinda tetap diarea parkiran kampus.


Dia berjalan dengan Tirta menuju parkiran motor.


Tirta masih membawa motor yang di berikan oleh Aldi dulu. karena motor lamanya tampaknya tidak bisa kembali seperti dulu kata Adnan yang dipasrahi untuk memperbaiki motornya Tirta.


Padahal sebenarnya motor itu di umpetin sama Adnan, dan tidak di perbaiki supaya Tirta tetap memakai motor pemberian Aldi yang keren itu.. kan tiap saat Adnan juga bisa minjem itu motor.. hi ..hi.. hi.. akal bulus Adnan!


Tirta segera mengambil motor Japstyle, di parkiran dan Dinda audah menunggu di depan parkiran motor .


Tampak sekali Dinda kangen berat sama tirta, sudah lama dia tidak pernah berduaan seperti ini dengan sang pemuda.


Pelukannya sangat erat, tubuhnya seperti ransel besar di punggung Tirta saja.


Tirta hanya diam saja,, biasa cowok kalo dalam keadaan seperti ini mending diam , "nikmati saja" pikir Tirta..


Siang itu jalanan di kota Semarang lumayan padat merayap dan cuacanya sangat panas, lebih panas dari kota- kota di pulau jawa pada umumnya, akan tetapi terasa sejuk bagi Dinda .


"Ta, aku pengin beli roti dulu deh ! nanti mampir dulu di daerah Tlogosari ya,, di toko roti Virgin. kata Dinda di telinga Tirta yang membuat Tirta geli karena hembusan hangat dan bau harum yang mampir di hidungnya.


"Ups!" Tirta kaget, hampir saja motor menabrak seorang nenek yang sedang menyeberang jalan.


"Aduh, Dindaaaa jangan nggoda kayak gini dong," pinta Tirta..


"Hi ,hi, hi, biarin aja, biar jatuh bersama- sama," jawab Dinda cuek.


Sejak tadi saja Tirta sudah menahan perasaannya karena ada benda kenyal yang selalu menggesek- gesek punggungnya, apalagi Tirta memang lupa membawa jaketnya? eh ditambah hembusan nafas dan gesekan bibir di telinganya, alhasil ya seperti itu,, hampir nyeruduk penyeberang jalan.


Setelah memborong banyak roti dan kue di toko roti Virgin yang memang terkenal enak dan murah di kota Semarang ini, ternyata kemudian Dinda tidak mengajak Tirta untuk pulang kerumahnya di Bukit Sari, tapi..malahan mengajak Tirta pulang ke Rumah Tirta.


"Loh kok malah ke rumah aku?" protes Tirta.


"Sudah kamu jalan aja, kalo nggak manut sama aku nanti aku gelitikin lagi lho," ancam Dinda di telinga Tirta Sambil sengaja menempel kan bibirnya yang lembut di cuping telinga Tirta .


"Waduh,,,, jangaaan ,,, tolong pliss!" seru Tirta kegelian..


"Iya, iya,, kita kerumah ku dulu!" seru Tirta ..


Tirta segera memacu motor kerennya agak cepat, karena khawatir di goda ransel cantik nya..!


Tapi hal ini malah membuat Dinda semakin rapat saja memeluk Tirta sehingga membuat Tirta hampir -hampir putus nafasnya.

__ADS_1


Setelah memacu motornya kurang lebih setengah jam, mereka berdua sudah sampai di depan rumah Tirta di daerah pinggiran kota Ungaran.


__ADS_2