
"Sadewa, Kebo Dengen silahkan naik ke atas panggung !" seru ki Amongraga memanggil keduanya.
Sadewa dan Kebo Dengen segera melompat naik ke arena pertandingan. Mereka kemudian saling menyapa dan menghormat satu dengan yang lain.
Memang hampir semua penduduk padukuhan Srengseng ini saling mengenal satu sama lainnya.
Usia Sadewa sendiri lebih tua beberapa tahun dari Kebo Dengen.
Walaupun usia Sadewa lebih tua akan tetapi wajahnya telihat awet muda dan telihat masih cukup gagah, dengan tubuh berisi.
"Silahkan Adi ," Sadewa mempersilakan Kebo Dengen untuk memulainya lebih dahulu.
Tanpa berbasa-basi lagi Kebo Dengen segera menyerang dengan pukulan tangan kosong , sambil melompat cepat.
Sadewa segera menangkis dan balas melakukan pukulan ke arah perut Kebo Dengen.
Keduanya segera terlibat duel seru ! Keduanya sama- sama pria perkasa dan matang yang penuh pengalaman dan perhitungan matang dalam setiap gerakannya. Keduanya sama- sama mampu mengendalikan emosi.
Pertarungan diantara keduanya benar-benar pertarungan yang berimbang. Dalam hal kekuatan dan kecepatan nya.
Gaya bertarung mereka juga agak-agak mirip.
Setelah berlangsung beberapa saat, tampak keduanya mulai meningkatkan tenaga dan kecepatannya
Angin pukulan dan tendangan bergemuruh bagai guntur yang saling menyambar, Bayu Bajra dari keduanya pun tampak dalam tingkatan yang sama.
Ketika kemampuan keduanya sudah berada pada puncaknya maka pertarungan hanya kelihatan bayangannya saja.
Hingga suatu saat suara menggelegar ketika puncak kemampuan dari keduanya saling di benturkan,
"Duarrr,, !" dua tangan yang terkepal tampak saling bentur di udara, di ikuti dua tubuh yang melayang jatuh ke luar arena pertarungan.
Semua penonton tampak kaget melihat kejadian ini.
Suasana mendadak sunyi senyap!
ki Amongraga segera memeriksa keduanya.
Tampak Sadewa berusaha untuk bangkit berdiri, sedangkan Kebo Dengen tampak diam untuk beberapa saat .
Setelah melihat keadaan dari keduanya maka ki Amongra segera mengambil keputusan.
"Berhubung keduanya sama- sama jatuh keluar arena pertarungan maka saya putuskan yang kondisinya masih lebih kuat yaitu Sadewa yang jadi pemenangnya !" seru ki Amongraga yang segera diikuti sorak sorai dari para pendukung Sadewa.
Dan melihat keadaan Sadewa yang agaknya terluka di bagian dalamnya, maka di putuskan akhir dari pertandingan pemilihan Jagabaya akan di lanjutkan tiga hari lagi untuk memberikan kesempatan pada Sadewa untuk menyembuhkan luka-luka dalamnya.
Demikianlah pada malam hari itu belum diputuskan siapa yang akan jadi Jagabaya dari dukuh Srengseng tersebut.
Pada malam itu juga Tirta , Bayu dan Adnan minta ijin ki Ranu untuk kembali ke kota asal, karena sudah lumayan lama mereka di kendeng ini.
__ADS_1
Nastiti yang sejak tadi bersama kakeknya ini sangat sedih ketika mendengar akan kepergian Tirta kembali ke tempat asalanya yang terkesan mendadak baginya.
Wajahnya tampak tertunduk sedih.
"Terimakasih atas penerimaan warga padukuhan Srengseng ini eyang Ranu," kata Tirta .
"Kamilah yang mengucapkan banyak terimakasih anakmas ! anakmas bertiga telah banyak membantu padukuhan Srengseng ini terutama kepada eyang dan Nastiti," kata ki Ranu.
"Sebenarnya Eyang mu ini juga ingin menitipkan sesuatu pada anakmas bertiga," kata ki Ranu.
Ki Ranu segera mengeluarkan cincin akik bermata biru muda. Tidak sangat besar akiknya, tapi terlihat pas dengan mbannya /cincinnya.
Cahaya biru segera memancar begitu cincin tersebut di keluarkan dari kotak kecil tempat penyimpanan cincin tersebut.
"Terimalah anakmas," kata ki Ranu pada Tirta.
Tirta segera menerima cincin bermata biru tersebut.
"Pakailah anakmas," pinta ki Ranu.
"Cincin akik itu adalah peninggalan leluhur kami anakmas, jadi jagalah dan gunakan sebaik- baiknya."
"Cincin itu adalah pelengkap dari ajian Suryo Dahono !"
Sampai disini Tirta sangat terkejut mendengar keterangan ki Ranu.
"Saya tidak berani eyang, " kata Tirta berusaha menolak.
Tidak apa- apa anakmas Tirta, anakmas sudah sangat berjasa bagi padukuhan Srengseng ini, apa jadinya dukuh ini tanpa bantuan dari anakmas Tirta ?" lanjut ki Ranu.
"Dan sudah sepantasnya eyangmu ini memberikannya kepadamu anakmas.!"
"Saya membantu dengan ikhlas Eyang, saya tidak berharap imbalan dalam bentuk apapun," kata Tirta tetap berusaha menolak.
Tapi tampaknya keputusan ki Ranu sudah bulat untuk memberikan cincin bermata biru itu pada sang pemuda.
kemudian ki Ranu melanjutkan kata-katanya;
"Cincin itu juga sebagai pelengkap dari aji Suryo Dahono!"
"Anakmas bisa menyalurkan aji Suryo Dahono melalui mata cincin ini," lanjut ki Ranu.
"Dan kekuatan aji Suryo Dahono akan bertambah kuat beberapa kali lipat!"
Tirta hanya bisa mengamgguk-angguk mendengarkan keterangan ki Ranu.
"Jika anakmas menghadapi lawan tangguh yang sekiranya anakmas kesulitan menghadapinya, gunakanlah cincin ini," lanjut ki Ranu dengan keterangannya.
"Dan untuk anakmas Bayu dan anakmas Adnan eyang akan menitipkan aji Bayu Bajra kepada kalian berdua, sisa malam ini akan eyang manfaatkan untuk menurunkan dasar-dasar Bayu Bajra pada kalian berdua. Lanjut ki Ranu.
__ADS_1
"Terimakasih eyang Ranu," seru Bayu dan Adnan berbarengan.
"Nastiti !"
"Nastiti !"
"Injih eyang," jawab Nastiti tergagap.
"Titipkanlah aji Kidang Kencono pada kangmasmu Tirta, Supaya menambah perbendaharaan ilmu kanuragan bagi kangmasmu," kata ki Ranu.
Nastiti segera mengiyakan permintaan kakenya ini.
Demikianlah sisa malam itu ki Ranu menurunkan Bayu Bajra kepada Bayu dan Adnan di gumuk kecil tempat ki Ranu menurunkan ilmunya pada Tirta Jayakusuma.
Tampaknya ki Ranu memahami perasaan cucu perempuan satu-satunya ini. Sehingga memberikan kesempatan untuk berdua saja dengan sang pemuda sebelum Tirta pergi meninggalkan padukuhan Srengseng ini.
Nastiti segera mengajak Tirta untuk menyusuri jalan-jalan padukuhan di malam yang gelap itu, menuju ke arah pategalan.
Dengan memberanikan dirinya Nastiti menggenggam tangan si pemuda dan diajak berjalan menyusuri jalanan padukuhan.
Nastiti merasakan perasaan yang belum pernah di rasakannya sebelumnya, getar-getar lembut mengalir dari jari-jemari yang menggenggam erat telapak tangan Tirta.
Perasaan itu menjalar ke relung hatinya yang paling dalam.
Perasaan manis dan bahagia
mengisi seluruh hatinya, senyum mengembang di wajah cantiknya, kecantikan khas desa dan belum tersentuh make up modern.
"Katanya mau ngajari Mas mu ini aji Kidang Kencono?" kata Tirta mengingatkan Nastiti akan tujuannya semula..
"Mmmmh,, " Nastiti hanya diam saja.
Masih dengan memegang jari-jemari Tirta , dia segera berada di depan Tirta dan memandang Tirta dengan mata sayu penuh perasaan.
"Apakah harus secepat ini Mas H
harus pulang ?" tanya Nastiti.
"Iya Nastiti, jawab Tirta lembut.
"Mas masih harus menyelesaikan pendidikan, di tempat mas berasal, di kota yang bernama Semarang," kata Tirta.
Bagi Nastiti hidup tidaklah sulit cukup pergi ke kebun atau pategalan untuk menuhi kebutuhannya. Tidak perlu harus sekolah tidak perlu harus kaya mempunyai ini dan itu.
Keinginanya hanya sederhana, karena bagi Nastiti dunianya hanyalah padukuhan Srengseng dan paling jauh di daerah kawah Bromo dan sekitarnya saja, itupun jarang sekali dia kesana.
Dia hanya mendengar cerita- cerita dari orang- orang padukuhan yang sudah pergi jauh ke kota-kota yang sangat besar di luar sana.
Pengenalannya hanyalah sekitar lereng tengger saja.
__ADS_1