
Kota Semarang.
Sudah dua hari ini pak Michael dan keluarga pindah ke rumah baru mereka si desa Plalangan Gunungpati. Pekerjaan pak Michael di jakarta sudah di serahkan kepada asisten kepercayaannya secara penuh. Dan hanya hal yang sangat penting dan mendesak saja yang ditangani oleh pak Michael, itupun melalui video call atau online saja.
Rumah yang tadinya tampak tua dan tidak terawat sekarang terlihat bersih, dengan halaman yang cukup luas. Rumah ini bukan terletak di pinggir jalan raya, akan tetapi masuk gang perkampungan yang tidak terlalu padat dan cenderung sepi. Hanya ada tiga rumah saja di gang tersebut.
Jarak rumah ini dengan padepokan hanya kurang lebih satu kilometer saja, jadi ditempuh dengan jalan kaki dengan santai hanya memakan waktu beberapa menit saja.
Hari-hari pak Michael lebih banyak digunakan untuk berkebun, sedangkan Mama Nadine lebih condong untuk mengembangkan tanaman hias.
Karena memang tanah di lereng gunung Ungaran ini sangat lah subur.
Untuk membantu mengurus rumah dan juga kebun, pak Michael mempekerjakan tetangga di lingkungan rumah tersebut. Seorang pria setengah baya dan istrinya.
Di belakang rumah ini juga mengalir sungai kecil yang jernih dan berbatu batu, yang tampaknya juga masih satu aliran dari sungai kecil di belakang padepokan.
***
Tomy sudah mulai belajar ilmu kanuragan di pondok dan sekolahnya juga sudah pindah ke kota Semarang.
Sesuai permintaannya, Tomy kini bersekolah di tempat Irman menuntut ilmu.
Hingga mereka berdua menjadi teman akrab.
Irmansyah yang tadinya tidak suka dengan ilmu beladiri, akhirnya terpengaruh oleh Tomy, sehingga akhirnya diapun berencana ikutan Tomy ke padepokan tempat kakaknya belajar kanuragan.
"Ayolah Ir, temenin aku belajar ilmu beladiri di padepokan," kata Tomy pada Irman.
"Enak lho disana, udaranya sejuk dan suasananya tenang, apalagi kalo malam-malam naik ke puncak Ungaran, wuih seru deh ," bujuk Tomy.
"Aku tidak suka berkelahi Tomy," kata Irmansyah..
"Belajar bela diri kan tidak harus berkelahi kan Ir," jawab Tomy.
pada dasarnya Irmansyah ini suka berpetualang ke tempat- tempat yang sepi yang jarang di datangi manusia, entah apa yang dilakukannya di tempat- tempat sepi ini.
Kesukaannya mendatangi tempat-tempat sepi ini sebenarnya sudah diketahui oleh Bapak maupun Ibu. Keduanya hanya berpesan untuk berhati-hati saja apalagi jika tempat sepi tersebut terdapat di bukit bukit yang banyak ditumbuhi semak belukar dan tanaman perdu, pasti banyak ular dan binatang berbisa lainnya.
Ketika Tomy mengatakan kalau latihannya diadakan di puncak Gunung Ungaran, tampak Irman mulai agak tertarik. Hingga ketika Tomy merayunya sekali lagi,, Irman pun bersedia untuk ikutan ke Padepokan.
__ADS_1
"Baiklah,,,baiklah ! aku akan ikut deh,, tapi aku hanya ikutan saja loh , aku gak mau ikutan berkelahi,," kata Irman menyetujui ajakan Tomy.
Siang itu sehabis sekolah Tomy dengan Irman berboncengan naik motor ke rumah Irman.
Irman bermaksud meminta ijin pada Bapak dan Ibunya untuk ikutan pergi ke padepokan di lereng gunung Ungaran.
"Mas mu sudah jarang pulang, eh kamu malah mau ikutan,, rumah jadi sepi tahu !" semprot Ibu yang tampaknya kurang setuju dengan rencana anak keduanya ini.
"Ahh biarlah Irman ke padepokan Bu," bela Bapak.
"Disana kan ada Tirta, ini mas Tomy juga ," kata Bapak.
"Kan kita masih ada Levi, Bu !" lanjut Bapak..
"Biarlah Irman melakukan apa yang jadi keinginannya.." kata Bapak lagi.
Akhirnya Ibu luluh juga mendengar kata-katanya Bapak.
"Iya- iya sudah, kalo Bapakmu setuju ! tapi kamu harus sering-sering pulang ! jangan kayak Kakakmu!" Ibu akhirnya setuju, dengan syarat Irman harus sering pulang kerumah menengok Ibu.
Dalam kesempatan lain Bapak menyempatkan berbicara berdua saja dengan Irman.
"Bapak tau kamu sedang melakukan "olah roso" dan "olah batin", Bapak juga tahu kalau leluhur kita sering menemui mu dan membimbingmu," kata Bapak pada Irman.
Irman yang mendengar Bapak berbicara seperti ini tampak terkejut..!
"Bapak kok tau ?"tanya Irman..
"Kamu jangan lupa anakku, darah yang mengalir di dirimu adalah dari bapakmu ini juga. Jelek- jelek begini bapak jugalah yang mengalirkan darah Jayakusuma kepadamu."
"Jiwa bapak bukanlah jiwa yang suka berkelahi dan bertarung, nyali bapak kecil sekali, beda dengan kakakmu Mas Tirta ! Walaupun Mas kamu cenderung pendiam, tapi dia punya tubuh yang kuat dan punya bakat yang bagus sebagai penerus keluarga Wasis Jayakusuma.." kata bapak lagi.
Baru kali inilah Bapak bercerita panjang lebar tentang dirinya.
Ternyata Bapak punya kecenderungan seperti Irman , yaitu senang akan olah batin dan olah roso.
Akan tetapi kecenderungan Irman mempunyai bakat yang lebih besar dari sang Bapak, karena sang Ibu ternyata juga mempunyai darah yang kuat dalam menurunkan bakatnya dalam roso.
Karena Ayah dari sang Ibu adalah orang yang senang mesu diri dan tirakat sehingga kemampuan batin ini menurun pada Ibu dan sekarang menurun pada Irman.
__ADS_1
***
Sore itu Irman dan Tomy sudah sampai di padepokan.
Walaupun Irman belum pernah menginjakkan kakinya di padepokan ini, dia sudah merasa sangat mengenal lingkungan padepokan ini.
Bahkan dia tidak terkejut lagi ketika melewati pohon jati besar yang merupakan batas antara padepokan dengan dunia luar.
Jauh sebelum melewati pohon jati besar, dia sudah tahu ada bangunan yang terlindungi oleh energi tak kasat mata.
Sesampai di teras padepokan tampak eyang Pandu dam mbah Hardjo saja yang sedang duduk di lincak.
Tomy dan Irman segera mengucap salam pada dua orang sesepuh padepokan tersebut.
Begitu mbah Hardjoikoro melihat Irman, tampak dia sangat terkejut !
Dipandanginya Irman dalam dalam, tatapannya tajam menembus kedalam mata Irman seolah-olah menjenguk ke dalam diri Irman .
Irman yang di pandang demikian merasa aneh juga..
"Mbah ! mbah jangan mandang Irman kayak gitu dong ! entar Mbah jatuh cinta lho, seru Irman yang kumat usil nya.
"Hi hi hi, bercanda, bercanda mbah, kata Irman lagi.
Mbah Hardjo tampak tersenyum begitupun dengan eyang Pandu, mendengar celotehan pemuda tanggung di depannya ini.
"Ahh Angger ada-ada saja ,, masak jeruk makan jeruk !? jeruknya sudah mau kering dan busuk lagi," canda mbah Hardjo membalas candaan Irman.
Ayo Angger Irman masuk dulu, juga Angger Tomy, ajak Mbah Hardjoikoro.
"Wah,, mbah Hardjoikoro kok tau namaku ya,,?" seru Irman yang terkejut.sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Lah Angger juga tahu nama Mbah juga.?" kata mbah Hardjoikoro.
"Iya ya,, kok aku bisa tahu nama mbah ya ,,," balas Irman berlagak pilon.
Ya tampaknya bakat Irman di olah roso dan olah batin, tampak nya membuat dirinya seperti ada yang memberitahukan nama sesepuh di depannya ini,, juga halnya mbah Hardjoikoro ini yang memang sudah mumpuni dalam hal ini.
Mereka kemudian segera masuk ke pendopo padepokan yang ternyata di sana sudah ada Tirta, Bayu dan Adnan. Sedangkan Leo dan kang Damar tampak nya belum pulang dari kebun belakang.
__ADS_1