
Siang itu Tirta bertemu dengan Mawar di pendopo dukuh wuni dan menanyakan keberadaan dari Kyai Wonokerti pada Mawar.
"Aku juga kuatir Mas,, ..!" jawab Mawar lembut.
"karena sejak kamarin malam aku sudah tidak bertemu lagi!" Jawab Mawar.
Tirta kemudian segera menanyakan keberadaan kyai Wonokerti pada orang -orang yang ada di pendopo itu..
Tapi tidak ada satupun orang yang tahu akan keberadaan kyai Wonokerti.
Dan ketika siang itu Tirta jaya Kusuma sedang beristirahat dan bersantai di bawah sebuah pohon rindang bersama dengan kedua sahabat sejatinya Bayu dan Adnan.
Tampak di ujung jalan, berjalan dua orang tua menuju arah pendopo dukuh Wuni ini .
Setelah dekat barulah di ketahui oleh Tirta mereka adalah kyai wonokerti dan Ki Singo lodra!
Tampak wajah terkejut dari Tirta, Bayu dan Adnan.
"Kyai! " seru Tirta, Bayu dan Adnan hampir berbarengan.
"OHH, Angger Tirta, angger Adnan dan Angger Bayu..!" seru kyai Wonokerti.
"Kami sedang mencari -cari Kyai, sejak kemarin kami tidak melihat kyai.. kami jadi mengkhawatirkan keadaan Kyai Wonokerti. kata Tirta jaya Kusuma.
"Iya angger!, maaf eyang baru ketemu sama sahabat lama , Ngger! " jawab Kyai Wonokerti.
"Dan kebetulam kita bertemu di sini," Ngger!
"Kenalkan ini sahabat eyang, ki Singo Lodra guru dari Jadug, kemarin sewaktu di gunung Ijin kami sudah bertemu dan kebetulan kami belum puas bertemu, jadi kali ini kami berjalan jalan di sekitar dukuh Wuni ini,," kata Kyai Wonokerti.
Tampak nya Tirta percaya begitu saja pada keterangan kyai Wonokerti.
"Begini kyai, kami memutuskan. nanti sore kami akan kembali ke dukuh Srengseng Kyai !" kata Tirta.
"Iya anak mas, nanti eyang akan menyusul ke sana bersama Singo Edan ini," kata Kyai Wonokerti.
Kedepannya Kyai Wonokerti berhasil menyadarkan Ki Singo Lodra dari kesesatannya!
Tujuannya mengajak Ki Singo Lodra adalah secara pelan- pelan meluluhkan hati Ki Singo Lodra supaya menjadi semeleh dan tidak menebarkan angkara murka lagi di mana-mana!
Dan perlahan tapi pasti Kyai Wonokerti mampu menaklukan hati dan menyadarkan Ki Singo Lodra dari kesesatan nya.
Hingga suatu ketika Ki Singo Lodra berhasil mengalahkan kyai Wonokerti dalam permainan Macanan ataupun Dam Daman,,,,
Ki Singo Lodra berteriak teriak kegirangan.
Dan pada saat itu juga dia menuntut kyai Wonokerti untuk melepas belenggunya.
Kyai Wonokerti segera memenuhi janjinya pada Ki Singo Lodra untuk melepas aji Pedut Putih yang membelenggu Ki Singo Lodra.
Akan tetapi setelah beberapa hari, pergi meninggalkan Kyai Wonokerti, ternyata Ki Singo Lodra jadi bingung dan harus mengerjakan apa!
Kebiasaan hidup tenang dan hanya bermain dam daman atau macanan se hari hari bersama Kyai Wonokerti membuat hatinya berubah... sekarang dia lebih menyukai kehidupan seperti kyai Wonokerti.
__ADS_1
Tidak lagi memikirkan duniawi dan membuat Angkara murka di mana mana!
***
Sore itu rombongan dari Srengseng berbondong bondong pulang ke padukuhan Srengseng yang jaraknya hanya kurang lebih setengah jam ditempuh dengan berjalan kaki!
Demikian pun dengan orang orang yang di bawah komando Mahardhika, sore itu mereka kembali ke Srengseng dan keesokan harinya, mereka berencana kembali ke tempat mereka masing- masing.
Dan malam itu mereka mengadakan acara perpisahan di pendopo dukuh Srengseng.
Segenap warga dukuh Srengseng tampak bersemangat hadir di sana.. mereka membawa berbagai makanan yang di punyai ke pendopo padukuhan..
Malam ini mereka memotong beberapa kambing dan seekor kerbau, juga ada yang mendapatkan seekor kijang jantan besar tadi siang dan segera memotong nya dan di bawa ke pendopo ini untuk di nikmati beramai ramai..
Malam ini benar-benar meriah dan ramai,, warga bersuka cita,,, dan juga bersedih, karena beberapa anggota keluarga nya ada yang menjadi korban ! bahkan Ki Ranu pun juga harus gugur demi membela kebenaran.
Dan dalam suatu kesempatan di malam itu, Ki Amongraga tampak berbicara empat mata saja dengan Tirta Jaya Kusuma.
"Aku mewakili segenap warga dukuh Srengseng sangat berterima kasih pada anak mas Tirta jaya Kusuma,,!" kata Ki Amongrogo..
"Dan aku sebagai wakil dari almarhum Ki Ranu juga sebagai pengganti orang tua Nastiti ingin melanjutkan pembicaraan tentang hubungan antara anak mas Tirta Jaya Kusuma dengan Nastiti.!" kata Ki Amongrogo.
Tirta sangat terkejut dan kaget dengan arah pembicaraan dari Ki Amongrogo ini.
Tirta sebenarnya Ingin menghindari pembicaraan ke arah perjodohan antara dirinya dan Nastiti, yang dahulu memang di kehendaki oleh Ki Ranu semasa hidup.
Dan Tirta tahu bahwa sangat sulit untuk menghindar dari desakan sesepuh Srengseng ini sepeninggal Ki Ranu.
Dia tidak bisa menolak begitu saja ! Ki Amongrogo pasti akan memaksanya dan menekannya.
"Apa kekurangan Nastiti anak mas Tirta?" tanya Ki Amongrogo!
"Kurang. cantikkah? tanya ki Amongrogo..
"Atau mungkin kurang menyenangkan bagi anak mas Tirta?" tanya Ki Amongrogo lagi.
"Anak mas Tirta, tidak akan kami ikat untuk berdiam di sini...
anak mas Tirta tetap punya kehidupan di luar sana! anak mas tetap bisa menikah di luar sana !, kami tidak akan menghalanginya.. lanjut ki Amongrogo.
"Tapi ki Amongrogo, saya masih belum siap untuk menikah sekarang ini, tugas saya masih banyak Ki," kata Tirta lagi.
"Tidak apa- apa kalau Nastiti harus menunggu anak mas!" jawab ki Amongrogo.
"Setahun!?,,, dua tahun,,, atau bahkan tiga tahun??!". lanjut Ki Amongrogo!
"Sebenarnya saya juga sudah punya calon istri di luar sana ki Amongrogo! kata Tirta tetap berusaha menolak secara halus..
"Ha, ha, ha,, sudah saya katakan. berkali kali anak mas tidak usah khawatir akan masalah ini ...!"
"Anak mas mau punya Istri berapapun tidak masalah! Sangat normal pria mempunyai istri banyak!" lanjut Ki Amongraga.
Tirta jadi semakin pusing kepalanya mendapatkan jawaban seperti ini dari ki Amongrogo.
__ADS_1
Ternyata Ki Amongrogo ini lebih keras kepala di banding Ki Ranu!
Selanjutnya Tirta tidak bisa konsentrasi dengan omongan- omongan Ki Amongrogo .
Pikiran Tirta menjadi sangat kacau .
Dia tidak mungkin terus menerus menolak,,, pasti hal ini akan sangat menyakiti segenap warga dukuh Srengseng..
"Ki Amongrogo, untuk sementara saya belum bisa memutuskan, karena ini menyangkut kehidupan saya dan Nastiti selanjut nya, nanti beberapa tahun lagi ketika saya sudah menyelesaikan pendidikan saya dan saya sudah siap, saya akan kembali kemari !" kata Tirta.
Tapi tampaknya Ki Amongrogo tidak puas dengan jawaban Tirta Jaya Kusuma!
"Apakah anak mas tidak kasihan melihat. Nastiti!?" tanya Ki Amongrogo..
"Lihatlah dia sekarang! dia sudah tidak punya siapa siapa lagi! dia sebatang kara anak mas!"
"Tega kah anak mas meninggal kannya?!" lanjut Ki Amongrogo.
"Tidak untuk sekarang Ki Amongrogo! " jawab Tirta jaya Kusuma.
***
Setelah kepergian Mahardhika dan Rombongan padepokan nya. Tirta Jayakusuma Tampak juga bersiap siap untuk kembali ke kota Semarang.
Mawar. ternyata pun ingin berkunjung ke padepokan Tirta di lereng gunung Ungaran..
Gadis ini tampak bersemangat sekali mengikuti pergerakan anak anak muda ini!
Tampak Ki Sadewa juga sangat kecewa dengan rencana kepergian dari Mawar ini.
Begitu pun dengan nasib dari sepasang pedang iblis yang menyatakan niat nya untuk mengikuti Tirta Jaya Kusuma,,!
Mereka sudah sangat percaya pada pemuda ini!
Dua bersaudara Siang mo kiam ini memaksa untuk ikut ke padepokan di lereng gunung Ungaran.
***
Pagi itu sebelum keberangkatan Tirta dan kawan-kawannya!
Tirta lebih dulu pamit kepada seluruh penghuni dukuh Srengseng ini...
Mereka sudah seperti. saudara sendiri,! Mereka sudah menganggap sebagai calon suami Nastiti dan juga calon kepala padukuhan Srengseng ini!
Mereka sangat sangat bangga dan sangat berharap kelak Tirta jaya Kusuma dapat memimpin padukuhan Srengseng ini.
Dan sangatlah berat bagi Nastiti untuk melepaskan kepergian Tirta jaya Kusuma untuk kedua kalinya!
Hati nya sedih, hatinya menangis, hatinya tidak rela! pemuda yang sangat di cintainya ini harus pergi! dan entah sampai kapan harus kembali ke dukuh Srengseng ini.
Dalam suatu kesempatan Nastiti mencurahkan segala kesedihan hatinya dan keluh kesahnya pada Tirta Jaya Kusuma!
Tapi Tirta Jaya Kusuma Tampak menetapkan hatinya sebisa mungkin untuk tidak mberiakan harapan harapan pada Nastiti
__ADS_1