Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
rasa bersalah


__ADS_3

Mendengarkan pertanyaan seperti ini, Adnan yang mengetahui apa yang terjadi pada malam itu segera menceritakan secara detil apa yang telah terjadi pada diri Dinda..


Dia bercerita dengan berhati-hati sekali, khawatir jika dapat menimbulkan salah paham dari Mamanya Dinda.


Dia juga tidak menyebutkan bahwa para penjahat ini sebenarnya lah menyasar Tirta, Bayu dan dirinya..


Akan tetapi Tirta yang mendengarkan cerita ini menjadi merasa sangat berdosa dan merasa sangat bersalah..


Karena dirinya Dinda hampir saja mengalami kejadian yang sangat mengerikan bagi seorang wanita.


"Kenapa mas Adnan tidak segera menceritakan hal ini pada kami mas?" tanya Mama Dinda.


Adnan tampak berdiam sesaat mendapatkan pertanyaan demikian dari Mamanya Dinda.


Setelah beberapa saat kemudian Adnan menjawab;


"Saya ragu untuk menceritakan hal ini Bu,,,, karena hal seperti ini adalah hal yang sensitif ," jawab Adnan..


Setelah beberapa saat mereka berbicara, tiba- tiba Nani dan Tia tampak keluar dari kamar Dinda..


Mama Dinda langsung menyongsong Tia dan Nani,


"Bagaimana Dinda mbak? apa dia mau bicara? atau bercerita pada kalian?" tanya mama Dinda segera..


"Dinda hanya mau ketemu dengan Tirta Bu," jawab Tia pelan..


Mama Dinda segera menatap ke arah Tirta,, sebenarnya ada setitik rasa tidak suka wanita setengah baya ini, karena Tirta tidak mau menyelamatkan Dinda, malah Adnanlah yang menjadi dewa penolong bagi Dinda .


"Masuklah mas, kamu sudah mendengar sendiri dari Tia, kalau Dinda ingin bertemu denganmu! kata Mama Dinda agak sedikit tidak enak suaranya..


Tirta pun hanya diam mendengar kata-kata Mamanya Dinda.. Dia tidak perduli , dia hanya kawatir akan keadaan Dinda..


"Masuklah Ta," kata Adnan mendorong Tirta masuk ke dalam kamar Dinda.


Walaupun hatinya terasa sakit...


Yang menyelamatkan Dinda adalah dirinya! bukan Tirta Jayakusuma ..


Tapi yang dirindukan dan dicari Dinda tetaplah Tirta Jayakusuma..


Tapi Adnan menyimpan saja pikiran dan perasaan hatinya rapat-rapat.


Tirta dengan langkah gontai masuk kedalam kamar Dinda..


Di dalam kamar.


Harum khas kamar anak gadis merasuk di hidungnya..


Tirta Memandang sedih sosok gadis cantik yang menghiasi hari harinya di kampus, sosok yang selalu memberikan perhatian lebih padanya.

__ADS_1


Tirta melangkah mendekati Dinda yang sedang berdiri di dekat jendela kamarnya yang menghadap kolam renang di bawah..


"Dinda,, " bisik Tirta lirih dari belakang tubuh Dinda...


Tampak Dinda tidak menjawab panggilan Tirta,,


Mata Dinda masih menerawang jauh ke luar.


"Dinda,,, ?" ulang Tirta lagi.


Tirta segera berjalan kesamping Dinda yang masih saja tegak berdiri dengan tatapan mata kosong.


Tirta segera memanggil Dinda untuk yang ketiga kalinya..


"Dinda!" sambil menyebut nama Dinda, Tirta menyentuh jari jemari Dinda dengan lembut,, di genggamnya tangan lembut tersebut,, dialirkannya tenaga batinnya menyusuri saraf-saraf di seluruh bagian tubuh Dinda...


Sesaat kemudian tampak air mata mulai mengembeng di pelupuk mata yang redup.. mata yang selalu tersenyum bahagia jika bertemu Tirta Jayakusuma..


Sesaat kemudian Dinda tampak memalingkan muka menghadap sang pemuda..


Air mata mengalir deras dari sudut mata yang terlihat agak cekung dan ada bayangan kehitaman disana ...


"Tirta,," bisik Dinda hampir tidak terdengar,. Dijatuhkannya dirinya kedalam pelukan pemuda di depannya ini, pemuda yang selalu dirindukannya..


"Hik, hik, hik,,,, " tangis Dinda pecah di dada sang pemuda..


Tirta mendekap erat tubuh hangat dan lembut yang tampak lemah dan ringkih di depannya ini ..


Di sela-sela tangisnya Dinda berbisik pada Tirta ..


"Jangan tinggalkan aku Ta,,, jangan lagi kamu pergi dari sisiku .. " bisik Dinda pelan.


"Kenapa kamu tidak datang menyelamatkanku Ta,, Hik, hik, hik..."


"Apakah kamu tidak sayang lagi padamu,,,, apakah hari hari yang telah kita lalui tidak berarti bagimu.." bisik Dinda lagi.


Tirta hanya diam mendengar suara Dinda yang tampaknya mulai sadar sepenuhnya dengan dirinya...


Beberapa saat setelah tangis Dinda mereda, Tirta segera berkata dengan lembut;


"Maaf kan aku Dinda,, ini semua salahku,, semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi,," kata Tirta menghibur Dinda...


Setelah Dinda mulai bisa di ajak bicara Tirta segera membimbing Dinda ketepi pembaringan..


Dinda tampak bahagia dan mulai tampak senyum mengembang di wajahnya yang cantik dan lembut..


Di pinggir pembaringan yang lembut Dinda menyandarkan kepalanya di pundak sang pemuda, dan sesaat kemudian terdengar nafas lembut sang gadis yang tampaknya mulai tertidur..


Sementara itu Mama Dinda dan sahabat-sahabat Dinda di ajak turun ke lantai bawah..

__ADS_1


Mama Dinda segera mempersiapkan hidangan untuk sahabat-sahabat anaknya ini.


Hingga sampai sore, barulah Tirta membimbing Dinda keluar dari kamar dan menuju ruang bawah dimana sahabat-sahabatnya serta mamanya berkumpul.


***


Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Sabtu pagi, Tirta sudah berada di bandara Ahmad Yani.


Hari ini dia mengantar pak Michael dan keluarga yang akan kembali ke Jakarta..


Sejak dari rumah , Nadine sudah bergelayutan saja di tubuh Tirta,. Entah memeluk entah menggandeng atau sekedar menggelitik sang Pemuda..


Sebenarnya Tirta juga agak enggak enak sama pak Michael dan mamanya Nadine, tapi bagaimana lagi, nampaknya mereka juga tidak keberatan...


Ketika mereka sudah hampir berangkat,, Nadine memberikan sebuah ciuman di sudut bibir Tirta .


"Dah Tirta,, lain kali kita ketemu ya,,!" seru Nadine..


"Terimakasih sudah nemenin Nadine tadi malam....!" seru Nadine..


Yaa tadi malam Tirta yang sedang berada di padepokan tiba-tiba di datangi Nadine..


"Berhari-hari di cariin selalu gak ada, di chat juga nggak di bales,. kemana aja sih !?" seru Nadine yang tampaknya kesal pada Tirta.


Ya, akhir-akhir ini memang Tirta harus berkunjung ke rumah Dinda untuk menemani dan menghibur nya juga berusaha menyembuhkan Dinda,, perasan bersalah menyebabkan dia tidak bisa membiarkan Dinda begitu saja.. Setelah beberapa kali dirawat oleh Tirta, berangsur-angsur keadaan Dinda menjadi semakin membaik..


"Maaf Nadine akhir-akhir ini memang aku ada kesibukan," kata Tirta berkilah..


"Ya udah, yang penting kamu sudah ketemu,, anterin aku ke kota yaa,, ?" pinta Nadine.


"Besok kami sekeluarga akan kembali ke Jakarta,, keadaan sudah membaik," lanjut Nadine..


"Iya ,, aku ganti baju dulu yaa,, Oh ya bagiamana kalo aku ajak Bayu dan Adan ?" kata Tirta.


"Tidak!" jawab Nadine cepat dan tegas.


"Bagaimana kalau ngajak Irman dan Tomi?" tanya Tirta lagi.


"Apalagi Irman. Huh!" kata Nadine lagi..


"Aku tuh ingin berduaan sama kamu saja tau,,,!" semprot Nadine kesal..


"Kamu ini gimana sih Taaaaa,,, hal begini saja tidak tahu??"


"Iya iya deh,,, bentar ya aku ganti baju dulu," kata Tirta.


Beberapa saat kemudian Tirta dan Nadine sudah berboncengan menuju pusat kota Semarang..


Seperti gadis-gadis yang naik ke motor Tirta, Mereka selalu memeluk Tirta erat erat dari belakang ,, menempel erat bagai ransel besar..

__ADS_1


Tapi kali ini Tirta agak merasa lain, karena biasanya hanya bola tenis saja yang menempel di punggungnya ! akan tetapi kali ini yang menempel adalah buah ....


Terasa sangat mengganjal di punggungnya...


__ADS_2