Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
latih tanding dengan eyang Pandu dan mbah Hardjo.


__ADS_3

Kali ini Tirta diuji oleh dua orang mahaguru, dengan kemampuan yang tidak lumrah manusia.


Mbah Hardjo, walaupun bukan pewaris dan hanya abdi dari eyang Wasis Jayakusuma, tapi merupakan seorang tua yang benar- benar luar biasa dan mumpuni, karena sewaktu muda juga mendapat gemblengan dari Orangtuanya yang juga abdi secara turun temurun dari keluarga Wasis Jayakusuma.


Sedangkan eyang Pandu jelas merupakan pewaris utama dari eyang Wasis Jayakusuma pada jamannya pada masa sebelum Tirta , jadi kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi.


Berbagai ajian telah di kuasainya , baik dari eyang Wasis Jayakusuma maupun dari sumber yang lain..


"Kerahkan semua kemampuanmu Ngger!" seru eyang Pandu.


Kali ini, Tirta tanpa ragu mengeluarkan semua kemampuan yang ada dalam dirinya,


Bayu Bajra menjadi landasan dibarengi lembu sekilan dan Tameng Waja. Suryo Dahono dan Tapak Geni di trapkan secara bergantian.


Tampak pertarungan dua lawan satu yang jarang di cari bandingannya terjadi.


Bayu, Adnan, kang Damar dan bang Leo , terpana menyaksikan pertarungan yang sangat-sangat seru antara Tirta dan kedua gurunya itu.


Belum pernah sebelumya kedua mahaguru ini terjun ke arena dengan mengerahkan segenap kemampuannya.


Beberapa kali tampak tubuh Tirta terlihat terpental keluar dari gulungan debu yang mengitari pertarungan itu, tapi dengan loncatan cepat segera kembali kedalam arena pertarungan.


Gulungan debu yang menyelimuti pertarungan latih tanding ini kadang berwarna biru tipis kadang berwarna merah keemasan sebagai pertanda dari aji Suryo Dahono dan aji Tapak Geni.


Semakin lama pertarungan semakin seru!


Dan perlahan tapi pasti, kedua mahaguru itu mulai kesulitan dengan pergerakan Tirta yang semakin lama semakin bertambah cepat dan kuat.


Ilmu-ilmu yang tadinya kurang mapan menjadi semakin mapan. yang tadinya hanya setengah-setengah di gunakan kini mendapat penyaluran sepenuhnya.


Setelah latih tanding berjalan beberapa saat lagi, peluh mulai membasahi leher eyang Pandu dan mbah Hardjo. Sedangkan Tirta masih tampak segar-bugar.


Ketika nafas tua dari eyang Pandu dan mbah Hardjo mulai memburu, maka sentuhan sentuhan tangan Tirta mulai menerpa tubuh eyang Pandu dan mbah Hardjo.


Keduanya segera menyadari batasan- batasan umur, yang memang tidak dapat di bohongi.


Sesuatu yang bernyawa, pasti akan sampai pada ujung nya. dan Manusia adalah makhluk hidup yang punya batasan umur,


Eyang Pandu melompat keluar lebih dulu dari arena latih tanding itu, kemudian di ikuti mbah Hardjo.


"Cukup Ngger !" seru mbah Hardjo.


"Luar biasa Djo !" seru eyang Pandu.


"Tak ku sangka Angger Tirta sudah sekuat ini," kata eyang Pandu sambil mengatur nafasnya kembali yang masih memburu.

__ADS_1


"Kita sudah tua Djo," kata eyang Pandu.


"Iya Kang, tampaknya kita memang harus sadar,, tenaga kita tidak sekuat dulu,, biarlah anak anak muda yang meneruskan ilmu ilmu kita," kata mbah Hardjo.


"Apalagi memang Angger Tirta ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang luar biasa," kata eyang Pandu.


"Ahh eyang terlalu memuji, jawab Tirta . Lagian eyang Pandu dan mbah Hardjo sudah mulai sepuh jadi tenaganya sudah surut banyak,, lanjut Tirta..


"Kalau saja eyang Pandu dan Mbah Hardjo masih muda semuda Tirta saat ini, pasti Tirta juga tidak dapat berbuat apa-apa."


Demikianlah latihan di puncak Ungaran selesai setelah lewat tengah malam.


***


Pagi itu di depan ruangan tempat Tirta mengikuti kuliah , Tampak Iza berdiri menunggu Tirta. Sudah lebih dari setengah Jam dia menunggu disana.


Begitu Tirta keluar dari ruangan setelah dosen keluar dari ruangan, Iza langsung mendekati dan menarik Tirta diajak menjauh dari kerumunan mahasiswa yang baru keluar dari ruang perkuliahan.


Tampak Dinda memandang kejadian itu dengan tatapan mata yang tidak senang, juga Tia dan Nani. Bagaimanapun mereka adalah sahabat Dinda yang tentu saja lebih dekat dengan Dinda, dan mereka juga tahu perasaan Dinda.


Setelah agak Jauh, Iza segera berkata;


"Kemarin kamu pulang nggak ngasih kabar aku, malahan pergi nganter Dinda ! iya kan?" tanya Iza, langsung pada tujuannya.


"Sebenarnya Gimana sih perasaan kamu ke aku,? tanya Iza yang mulai agak esmosi!


"Tapi kan gak harus kamu yang nganterin , kan bisa aja Bayu yang ngambil atau Adnan. kata Faiza lagi


Tirta hanya diam,, Tirta memang tidak bisa berdebat apalagi yang dihadapi adalah wanita yang kata banyak orang punya bibir lebih atau lambe turah (maaf bagi para wanita).


Tampak Tirta sangat bingung harus menjawab apa..


Karena memang Tirta tidaklah pemuda yang banyak omong dan cenderung pasif.


"Pokoknya aku tidak mau lihat kamu deket-deket sama Dinda lagi titik." kata Iza..


Walaupun Iza tampak marah dan Emosi, tapi suaranya tidaklah menggebu-gebu seperti orang marah. Tapi Tirta tahu kalau Iza memang sedang marah dan tidak suka ketika dia berdekatan dengan Dinda.


Iza pun sadar, Tirta belumlah miliknya sepenuhnya tapi dia sudah merasa Tirta menjadi miliknya seorang. Hatinya sudah diberikan seutuhnya pada Tirta.


Setelah mengungkapkan segala kejengkelannya Iza segera menarik Tirta arah parkiran mobil nya. Dengan di ikuti tatapan mata dari Dinda, Tia dan Nani.


"Ayo kerumahku dulu, mama dan papa sudah pengin ketemu sama kamu," ajak Iza setengah memaksa,


Dibawah seretan tangan lembut Iza, tak mungkin Tirta menolaknya..

__ADS_1


Di dalam mobil , Iza masih saja terus saja menyetir sambil mengomel..


"Hmm awas ya, kalau besok pergi lagi trus pulang gak ngabarin aku dulu!" Iza bicara sambil memanyunkan bibirnya yang merah lembut .


Tirta hanya memandang Iza dari samping,, sungguh pemandangan yang Indah,,


Mendadak Tirta sudah mendekatkan bibirnya ke arah Iza, dan ups,


Sebuah kecupan mampir di sudut bibir Iza yang sedang manyun.


Untunglah lalu lintas di jalanan menuju rumah Iza agak sepi waktu itu. Sehingga mobil Iza yang oleh tidak mengalami celaka..


"Tirtaaa !!!,,,,,seru Iza kaget..


"Sekarang kamu mulai nakal ya!" seru Iza.


walaupun berseru demikian, hatinya cukup senang dan menghilangkan rasa jengkel nya yang masih tersimpan di hatinya.


Beberapa saat kemudian Mobil yang di kendarai Iza sudah memasuki halaman rumah mewah dengan halaman yang sangat luas.


"Tuh, mama udah nungguin kamu di teras," kata Iza seraya turun dari mobilnya.


Ketika Tirta mendekat, mama Iza segera berseru;


"Farhan anak mamaaa,,!" sambil berjalan menyambut Tirta dan memeluk dengan erat nya.


"Mam, bukan kak Farhan mam, Ini Tirta.."


"Ah sama aja Iza,, Farhan , mmh Tirta... samakan ,,, ya kan mas Tirta .." kata mamanya Iza..


"Iya mam, sama!" kata Tirta membenarkan.


Kali ini mamanya Iza yang mengambil alih gandengan tangan Iza..


Diajaknya sang pemuda langsung menuju ruang tengah di mana ada ruang keluarga dan ruang makan.


"Nih mas Tirta.. , sudah mama masakin semua buat anak mama,,


Terlihat di di meja makan sudah tersedia berbagai masakan, kepiting , cumi, gurame, telur ceplok telur dadar, juga sayur asem sayur lodeh, rawon.. pokoknya buanyak banget..


"Ada acara apa ya mam?";tanya Tirta melihat masakan sebanyak ini.


"Ya buat mas Tirta lah, mau buat siapa lagii..?" balik bertanya mama Iza..


"Hah buat Tirta sebanyak ini??" seru Tirta kaget.

__ADS_1


"Iya mas.. katanya Iza biar mas Tirta cepet gendut kayak papanya."


"Enggaklah Ta,, masak Iza pengin Tirta jadi endut.. ndak, ndak,, itu karangan mama sendiri ! wong mama memang seneng masak-masak aja.. seru Iza.


__ADS_2