
Sementara di pinggiran Dukuh Wuni..
Ki Singo Lodra masih terikat dengan kyai Wonokerti..
Ki Singo Lodra sudah tidak berteriak teriak lagi seperti semula...
Tenggorokannya sudah kering dan gatal.
Dia semakin manyadari kalau dirinya tidak mungkin bisa keluar dari kungkungan kyai Wonokerti pada saat ini.
Dia tidak mampu keluar dari aji Pedut Putih yang di sebar kyai Wonokerti.
Tiap kali dia berusaha mnegerahkan tenaganya, selu saja gagal, gagal, dan gagal.
Akhirnya Ki Singo Lodra sedikit demi sedikit mulai terbawa irama dari Kyai Wonokerti yang periang dan penuh kejutan..
Ki Singo Lodra mulai berusaha menikmati permainan ini.
Ki Singo Lodra adalah orang yang berangasan dan kaku, angkuh serta sombong, dan sifat ini di turunkan pada Jadug muridnya..
Sifatnya yang brangasan ini membuatnya tidak banyak berpikir, jadi ketika dia dengan terpaksa harus melayani permainan dari Kyai Wonokerti dia harus mengalami kekalahan terus menerus sepanjang malam!
Hampir- hampir saja dia tidak kuat dan marah- marah terus karena dirinya terlalu berharap bisa dengan cepat mengalahkan permainan dari kyai Wonokerti!
Dan ternyata bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk mengalahkan kyai Wonokerti dalam permainan macanan/ Dam daman.
Malam itu mereka bermain Dam daman atau macanan hingga saking asyiknya tanpa terasa hampir mendekati waktu Subuh.
"Jika kamu belum bisa mengalahkan aku dalam permainan ini, kamu harus tetap dalam kuasaku Singo edan..!" kata Kyai Wonokerti..
"Baik, besok aku akan mengalahkan bidakmu kyai gila!" balas Ki Singo Lodra yang tampaknya masih marah!
"Cukup sekali saja kamu bisa mengalahkan aku, aku akan membebaskan kamu he, he,he!" lanjut Kyai Wonokerti sambil terkekeh puas mengerjai Singo Tuo ini.
Ki Singo Lodra, tampak hanya bisa tersenyum kecut.
"Kita berhenti dulu Singo Edan! aku mau sholat dulu,,!" kata kyai Wonokerti sembari berdiri dan kemudian melangkahkan kaki mendekati sumber mata air yang memang banyak terdapat di sekitar tempat itu. Maklum lereng gunung selalu menyediakan sumber air jernih yang melimpah ruah!
Tampak Ki Singo Lodra hanya diam dan merebahkan dirinya di atas batu gunung tempat mereka bermain Dan Daman atau macanan.
Setelah menunaikan ibadah nya, kyai Wonokerti segera kembali ke tempatnya semula, dan dapatinya. Ki Singo Lodra tertidur dengan pulas, ditandai dengan tarikan nafasnya yang pelan dan halus..
Kyai Wonokerti segera merebahkan dirinya tak jauh dari Ki Singo Lodra.
***
Pagi itu di padukuhan Wuni.
Tampak para pengawal dukuh wuni di bawah komando Ki Wigati menjaga rumah-rumah judi ini dengan dibantu oleh sebagian dari pengawal dukuh srengseng yang masih bertahan dan membantu permasalahan yang timbul paska pertempuran dahsyat tadi malam.
Di sana tampak Ludiro, Jalu, Jaladri dan juga pemuda- pemuda yang lain.. juga ada Mahardhika.
__ADS_1
kemudian tirta bersama Nastiti masuk ke rumah judi itu .
Didalam tampak sepasang pedang iblis, sedang duduk di pojok ruangan ..
Walaupun sebenarnya mereka bisa saja melarikan diri dengan mudah dari tempat ini , tapi tampaknya mereka tidak ingin melarikan diri..
Ketika Tirta Masuk bersama Nastiti, Bayu dan Adnan, tampak mereka segera mengalihkan pandangan nya kepada. Tirta dan teman temannya.
"Pagi , Mr. Budiman ,, sapa Tirta ramah,,, ".
Tampak Mr Budiman tidak menjawab sapaan Tirta..
Justru pandangannya malah tertuju pada gadis yang ada di belakang Tirta Jayakusuma.
Begitu pun dengan Nastiti yang menatap sosok pria gendut dan botak yang ada di depannya ini.
Mr Budiman tampak memandang dangan sorot mata kaget seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi.
Kata- kata yang hampir keluar dan terlontar dari bibirnya di telannya kembali.
Sementara Nastiti memandang tajam dan seperti ada kemarahan tapi juga ada kerinduan disana..
Dia telah menemukan ayahnya !
Ayah yang sudah meninggalkannya sejak dari kecil.
Tapi ayahnya bukanlah seperti yang di harapkan nya seperti dalam mimpi-mimpinya selama ini tentang sosok seorang Ayah.
Tirta memandang Nastiti,. tampak Nastiti berlari keluar dari rumah judi itu sambil menahan Isak tangis nya.
Tirta segera mengajar Nastiti keluar..
Nastiti tampak berhenti di halaman rumah yang luas, dia kemudian duduk di sebuah kursi panjang di bawah sebuah pohon beringin yang cukup rindang.
Dia menangis terisak-isak..
Tirta mendekatinya. dan memeluk dari samping seraya berkata menghibur.
"Di adalah Ayahmu Nastiti,, Dan aku yakin saat ini dia telah menyadari kesalahannya." bisik Tirta berusaha menenangkan perasaan Nastiti.
Tampak tangis Nastiti makin meledak begitu berada di pelukan pemuda ini.
Airmata tampak membasahi pundak sang pemuda.
Setelah beberapa saat, tangis nastiti segera mereda..
"Aku akan menemui ayahmu dulu Nastiti!" kata Tirta Jayakusuma seraya berdiri dan beranjak menuju rumah judi yang sekarang telah berubah jadi rumah tahanan dari orang-orang yang tertangkap.
Di dalam rumah Tirta, segera mendekati Mr Budiman yang duduk termangu di salah satu sudut ruangan.
Di hampirinya pria pendek gemuk dan botak ini, kemudian Tirta mengajak Mr Budiman untuk berbicara empat mata di salah satu ruangan.
__ADS_1
"Pak Budiman, tahukah bapak,, siapakah gadis tadi ?" tanya Tirta Jaya Kusuma memulai pembicaraan.
Mr Budiman hanya mengangguk kecil..
Kemudian Mr Budiman tampak memandang sejenak ke arah pemuda di hadapannya ini!
Pemuda yang selalu saja menggagalkan setiap usahanya!
Mr Budiaman tampaknya masih merasa tidak suka dengan pemuda di depannya ini!
Dia merasa tidak puas dengan apa yang telah menimpanya kali ini..
Dalam sesaat, semua kemewahan yang di dapatkannya telah di renggut paksa oleh pemuda di depannya ini! Siapakah yang tidak akan marah dan jengkel menghadapi kenyataan ini?
Harta, yang telah di kumpulkan dengan susah payah tidak ada gunanya jika dia berada di sini!
"Dia adalah putrimu ! putri kandungmu pak Budiman!" seru Tirta Jayakusuma membuyarkan lamunannya!
"Putri yang sudah limabelas tahun kau tinggalkan demi mengejar hasratmu demi memenuhi semua ambisi ambisimu yang melanggar paugeran!" kata Tirta lagi.
"Tahukah bapak, kalau sekarang ini putrimu telah menjadi sebatang kara!?" lanjut Tirta jayaKusuma.
"Eyangnya, Ki Ranu yang selama ini menjaga dan membimbingnya sekarang telah pergi untuk selama lamanya!" tadi malam Ki Ranu telah gugur,, sampyuh ketika berhadapan dengan Ki Pradigdo! terang Tirta.
"Sekarang ini dia seperti anak ayam yang kehilangan induknya!"
"Dia perlu tempat bersandar pak Budiman!"
"Dan kini, ketika dia sudah menemukan ayahnya, ternyata ayahnya ini tidak seperti dalam angan-angannya!"
Tirta banyak sekali berbicara pada mr Budiman atau Rekso Kromo.
Tapi setelah berbicara panjang. lebar ternyata Mr Budiman tampak masih diam termenung ,,
entah apakah dia menyesal atau menganggap angin lalu saja omongan-omongan si pemuda !
Entahlah...
Tirta kemudian keluar dengan kekecewaan yang mendalam..
Tapi dia pun memahami sangat sulit merubah watak dan perilaku seseorang dalam waktu yang sangat singkat!
Semua butuh proses dan waktu yang panjang.
***
Sementara itu para tetua dan juga pemimpin dari dua padukuhan, Srengseng dan Wuni kemudian bersepakat untuk menahan orang orang yang yang tertangkap untuk mendapatkan hukuman melakukan kerja sosial di padukuhan Wuni selama satu tahun penuh atau lebih sesuai dengan tingkat kesalahan mereka masing masing...
Mr Wijaya tampak protes keras mendengar keputusan dari para tetua disini, ! Akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa !
Sementara si sepasang pedang iblis menyatakan bahwa mereka hanya akan menerima perintah dari Tirta Jayakusuma saja! mereka berdua tidak akan tunduk oleh siapapun. kecuali perintah dari Tirta jaya Kusuma!
__ADS_1
Dan akibatnya para tetua dari dukuh Wuni dan Srengseng tidak mampu berbuat apa apa! kedua Siang Mo Kiam tidak dapat di perintah dengan paksa! Mereka akhirnya menyerahkan nasib kedua kakak beradik dari negeri Tiongkok ini kepada Tirta JayaKusuma.