Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Tirta yang culun


__ADS_3

***


Tanpa terasa matahari sudah condong ke ufuk barat, sore sudah menjelang.


Kegiatan Diksar sudah dilaksanakan, upacara penutupan juga sudah selesai.


Tenda-tenda sudah mulai di lipat , semua perlengkapan segera di angkut pulang ke kampus.


Anak-anak WanaHardi sebagian besar kembali ke basecamp di kampus, dan sebagian ada yang langsung pulang.


Sesampainya di kampus, mereka segera membubarkan diri.


Selvi segera diantar oleh Guntur pulang kerumahnya karena memang kondisinya yang tidak memungkinkan untuk pulang sendiri, juga sebagai pertanggung jawaban terhadap kejadian kemarin.


Sedangkan Dinda menolak di antar pulang oleh kakak senior lain, karena dia membawa mobil sendiri, juga dia ingin Tirta yang mengantar dirinya pulang.


Sebenarnya Tirta sudah diminta Faiza untuk mengantar nya pulang, tapi begitu Dinda yang meminta agar Tirta mengantarkan pulang, anak-anak disitu juga akhirnya mendorong agar Tirta mengantar Dinda pulang kerumahnya.


Faiza akhirnya mengalah, karena melihat kondisi Dinda yang memang masih shock dan terkilir kakinya akibat kejadian kemarin.


"Antarkanlah Dinda Ta, dia masih shock kelihatannya" kata Bayu.


"Iya Ta, aku khawatir kalo Dinda pulang sendiri terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan" Tia ikutan membujuk.


"Baiklah aku akan mengantar Dinda", jawab Tirta,.


"Titip motor aku ya Bay", pesan Tirta pada Bayu.


"Gak usah dititipin, biarin aja di pinggir jalan juga gak akan hilang tuh motor, jawab Bayu.


"Dah biarin di parkiran kampus sampai besok juga aman kok Ta", tambah Adnan..


Dinda tersenyum mendengar candaan sahabat-sahabat barunya tersebut.


Tirta segera berjalan beriringan dengan Dinda sambil membimbingnya berjalan menuju mobil Dinda di area parkiran kampus yang letaknya di belakang basecamp WanaHardi.


Faiza memandangi kepergian mereka dengan sedikit rasa cemburu, hatinya tidak rela jikalau Tirta bersama gadis lain, walaupun Tirta hanya sekedar menolong mengantar Dinda yang lagi sakit. Karena dia tau, Dinda gadis yang cantik dan lembut yang mungkin saja bisa membuat Tirta berpaling.


Faiza menggelengkan kepalanya, dia menyadari hubungan dengan Tirta baru sekedar pertemanan dan dia belum berhak melarang apapun yang di lakukan Tirta.


Sesampainya di samping mobil Minicooper warna merah milik Dinda.


"Ini kuncinya ta", Dinda menyerahkan kunci mobil pada Tirta.


Tirta segera membukakan pintu samping untuk Dinda, dan membimbingnya untuk masuk mobil .

__ADS_1


Tirta segera mengarahkan mobil kearah Bukit sari, dimana rumah Dinda berada.


"Trimakasih Ta, kamu mau mengantarkan Dinda pulang, kamu sudah banyak menolongku Ta, aku tidak tau lagi bagaimana aku berterimakasih padamu". Dinda memulai percakapan, ketika mobil sudah keluar dari kampus mereka.


"Ah jangan sungkan begitu Din kita kan sahabat, kita sudah berikrar bersama-sama untuk menjadi sahabat selamanya".


Dinda hanya diam mendengar jawaban Tirta. Sebenarnya dia berharap lebih dari sekedar sahabat dari Tirta.


"Kita lewat Simpang Lima aja Ya Ta, aku ingin muter muter, menikmati malam ini Ta".


Dinda meminta Tirta untuk berputar melewati Simpang Lima dulu, padahal rumah dia di Bukit Sari seharusnya dari kampus bisa langsung lewat Tinjomoyo naik lewat Jatidiri langsung ke Gombel tanpa lewat Simpang Lima.


Dinda memang sengaja mengajak Tirta menikmati malam ini.


Tirta mengendarai mobil dengan santai berputar putar saja mengitari Simpang Lima.


Dinda menceritakan tentang keluarganya, dia adalah anak pengusaha Real estate di kota Semarang. Ayahnya bernama pak Danu, Dinda anak ke tiga dari tiga bersaudara. kakaknya semua perempuan, sudah pada berkeluarga semua. Tinggal dirinya yang masih sendiri dan tinggal bersama kedua orang tuanya.


Kedua kakak perempuannya mengikuti suami masing-masing. Kakak perempuan pertamanya mengendalikan usaha kontraktor ayahnya di semarang bersama suaminya, sedangkan kakak perempuan keduanya barusan menikah dan bertempat tinggal di kota Solo. Suaminya seorang dokter muda yang bertugas di rumah sakit di kota Solo, dan kakaknya itu membuka sebuah usaha konsultan bangunan di kota Solo juga.


"Keluargamu sungguh keluarga yang hebat Din. Kakak-kakakmu sukses semua, aku yakin kamu kelak juga akan sukses seperti mereka!". Tirta memberikan tanggapannya.


Dinda diam sebentar, beberapa saat kemudian dia melanjutkan.


"Akan tetapi aku tidak bahagia Ta, rumahku sekarang sepi, sudah tidak ada kakak-kakak aku lagi. Mereka sudah jarang kerumah. mereka sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Ayahku juga jarang pulang, sibuk mengurusi proyek-proyeknya di luar kota, sedang Ibu sibuk dengan geng sosialitanya".


Tanpa terasa sudah hampir satu jam mereka berputaran di Simpang Lima.


"Bagaimana kalo kita mencari makan dulu Ya Ta?"


"Terserah kamu Din, aku manut saja sama kamu". jawab Tirta.


"Bagaimana kalo ke resto di jalan Siranda yang kiri jalan, tempatnya bagus dan ada live musicnya?" Dinda mengusulkan.


Tirta menyetujuinya dan segera mengarahkan mobil ke arah jalan Siranda.


Sampailah mereka di resto yang mereka Tuju di jalan Siranda. Di pintu depan tertulis "Ben Krasan Resto," cukup besar dengan lampu yang berkerlip.


Tirta segera membukakan pintu mobil bagi Dinda dan membimbingnya keluar. Mereka berjalan memasuki resto yang cukup besar ini. Terlihat di dalam tidak begitu ramai pengunjung, sehingga Dinda dan Tirta bebas memilih tempat duduk yang mereka suka. Dinda mengajak duduk di sudut ruangan.


Pelayan segera menghampiri mereka dan menyodorkan daftar menu.


"Kamu mau pesen apa Ta?" Dinda lebih dulu menawarkan pada Tirta.


Tirta segera membuka daftar menu.

__ADS_1


Dilihatnya daftar menu sebentar.


"Aku nasi goreng seafood spesial saja Din, dan minumannya es jeruk saja", jawab Tirta.


"Mbak kami pesen nasi goreng seafood special 2 porsi dan minum es jeruk 2". Dinda segera menyampaikannya pada pelayan .


"Loh kamu ngikut pesen nasi goreng Din?" tanya Tirta.


"Ternyata, seleramu sama dengan aku Ta, aku kalo kesini ya menu favoritku ya nasi goreng seafood special". jawab Dinda.


Sambil menunggu pesanan, Tirta menanyakan kondisi kaki nya Dinda yang terkilir.


"Bagaimana kakimu Din? sudah membaikkah".


"Umm lumayan Ta, sudah tidak bengkak lagi, dan sudah tidak terasa sakit lagi". jawab Dinda.


"Ini berkat kamu Ta, kamu ternyata punya kemampuan yang orang lain tidak memilikinya.


Kamu baik, rendah hati dan tidak sombong."


"Taukah kamu Ta, Aldi adalah cowok yang sangat di takuti di kampus Kita?


Bahkan diantara anak-anak muda di kota ini juga segan padanya!.


Tapi kamu mampu melawannya!


Besok nama kamu pasti akan


menjadi pembicaraan di kampus kita, dan pasti akan banyak penggemar penggemar baru kamu dan kamu pasti akan sibuk dengan mereka".


Dinda diam beberapa saat kemudian melanjutkan.


"Aku khawatir kamu akan menjauh dariku!" Dinda berkata dengan lirih dan kemudian menundukkan kepala. Kata-katanya barusan menunjukkan kegundahan hati seorang gadis dan sudah sangat jelas bagi seorang pemuda akan arti dari kata-kata tersebut.


Akan tetapi Tirta adalah seorang pemuda yang culun dan bloon dalam hubungan asmara antara laki dan perempuan, dia tidak banyak mengenal gadis, apalagi memahaminya.


Dengan santai pun Tirta menjawab,


"Ah biasa aja Din, kita kan sahabat!. Gak mungkinlah aku ninggalin kamu, Bayu, Tia , Nani atau Adnan.. ".


Dalam hati dinda sedih,, Ah Tirta ini bener-bener culun dan kurang tanggap, tapi hal itu tidak di utarakannya keluar.


Dinda hanya tersenyum masam mendengar jawaban Tirta.


"Ini Mbak , Mas pesanannya !"

__ADS_1


pelayan menyodorkan pesanan mereka.


"Terimakasih mbak" Dinda dan Tirta menerima pesanan mereka, dan segera menyantap nasi goreng masing-masing.


__ADS_2