
Melihat tangan kanannya di buat pingsan dengan mudahnya, Aldi menjadi sangat marah. Emosinya memuncak apalagi melihat tingkah tengik dari Bayu.
Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat Frangky ke pinggir arena.
"Ayo sini Aldi, aku piting-piting kamu biar mulutmu tidak banyak bac***t melulu. Biar Seluruh kampus tahu Aldi yang hebat ternyata hanyalah anak tengik yang sukanya mengandalkan kekuasaan orang tuanya, He he he."
Aldi benar benar terhina oleh ocehan-oceham yang berbau ejekan Bayu
"Marah ya,,, Ayo ayoo sini maju sini!" tantang Bayu.
Kali ini Aldi benar-benar marah dibuatnya. Dia sudah esmosi parah-rah. Tanpa berfikir kalo tujuan sebenarnya hari ini adalah Tirta.
Dia segera melompat menerjang Bayu. Aldi sudah melihat kekuatan Bayu sebelumya.
Kekuatanya di kerahkan sepenuhnya. Benturan dahsyat antara dua kekuatan raksasa terjadi, membuat tubuh keduanya tergetar dan melangkah surut beberapa jengkal.
Serangan-serangan selanjutnya dari Aldi benar-benar bagai badai dahsyat menerjang Bayu. Dalam hal kelincahan terlihat Aldi lebih lincah. Walaupun tubuh Aldi tinggi dan besar tapi dia telah mendalami karate sejak kecil jadi darah karate benar-benar menyatu dengan dirinya.
Walaupun demikian, Bayu pada dasarnya mempunyai kekuatan alami yang cukup besar, ditambah gemblengan di padepokan menjadikan setiap gerakannya sangat efektif. Dia tidak banyak menyerang dia hanya menunggu serangan yang datang.
Aldi menyerang dengan beringas, setiap serangannya dilambari kekuatan penuh. Di pihak lain, Bayu melayani serangan-serangan Aldi dengan tatag, tenang tapi penuh konsentrasi dan perhitungan.
Pertarungan sepertinya akan dimenangkan oleh Aldi dilihat dari kacamata awam, akan tetapi sebenarnya pertarungan berjalan dengan seimbang.
Setiap serangan Aldi selalu bisa dipatahkan oleh Bayu.
Dalam segi kekuatan Bayu dan Aldi berada pada posisi yang berimbang. Sedangkan dalam kecepatan, jelas Aldi lah yang lebih unggul, akan tetapi ini bisa di tutup oleh Bayu dengan gerakannya yang lebih efektif.
Pertarungan berlangsung sudah beberapa saat, peluh mulai bercucuran dari keduanya.
Mulai kelihatan stamina Bayu sudah mulai menurun, sedangkan Aldi masih tetap beringas. Lambat laun mulai terlihat bahwa kemampuan Bayu masih sedikit di bawah Aldi.
Dengan daya tahan yang baik karena didukung latihan yang teratur, terbukti Aldi lebih leluasa bergerak.
Tanpa terasa pertarungan hampir mendekati satu jam, Bayu mulai benar-benar kepayahan. Gerakannya melambat, beberapa kali pukulan Aldi menyentuhnya, walaupun kekuatan Aldi juga sudah susut banyak. sehingga efeknya juga tidak terlalu fatal, tapi cukup terasa pedih juga bagi Bayu.
Suatu ketika, karena lambat dalam mengelak kan sebuah tendangan, Bayu terpaksa menerima sebuah tendangan lompat di dadanya, dia tergetar dan melangkah surut kebelakang dan jatuh terjengkang.
Sedangkan Aldi terlontar balik ke belakang dan jatuh terduduk karena tenaga balik.. Dia bangkit dengan susah payahnya.
Tirta segera melompat ke tengah untuk menengahi.
__ADS_1
"Saya kira sudah cukup Aldi, kau tidak mungkin lagi melanjutkan pertarungan ini!" kata Tirta.
Aldi yang masih terengah-engah sudah bisa berdiri tegak segera menjawab;
"Masih belum selesai Ta, Aku masih belum kalah, Masih ada Masterku yang akan menggantikan aku bertarung denganmu!"
Begitu Aldi menyebut Master, orang yang sejak tadi berdiam diri di pojok ruangan segera berjalan pelan ke tengah arena.
Sejak tadi orang yang di sebut Master, berkonsentrasi memperhatikan pertarungan antara Aldi dan Bayu. Dia berpikir tidak akan ikut turun gelanggang apabila Aldi sudah bisa menyelesaikannya.
Tapi sekarang ini pemuda jangkung kerempeng yang berhadapan dengan Aldi inilah yang tampaknya adalah pemuda yang pernah diceritakan Aldi. Pemuda yang katanya sangat hebat dan tangguh.
"Hmm inikah pemuda itu Aldi?" tanya sang Master.
"Benar Master," Jawab Aldi.
Sang master memperhatikan Tirta dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kelihatan sekali dia tidak memandang sebelah matapun kepada Tirta.
"Habisi dia Master! kalau perlu buat tangan dan kakinya cacat! biar dia tidak bisa sombong lagi," teriak Aldi.
"Baik, Aldi!" jawab sang master.
Tirta mendengarkan saja pembicaraan antara guru dan murid tersebut.
"Aldi ternyata cukup kejam," pikirnya.
Bayu yang sedari tadi sudah minggir keluar arena segera berseru;
"Kali ini jangan kau kasih ampun Itu Master kere itu Ta, biar tau kalo kita tidak akan mudah di injak-injak.
Kalo perlu tuh kamu bungkam mulut bancinya pake celanaku yang belum kucuci sebulan, he he he!"
Keduanya berdiri berhadap hadapan. Tirta dengan tubuh jangkung dan kurus kali ini berhadapan dengan seorang Mater Karate sabuk hitam Dan 3.
Master tersebut memiliki fisik yang tinggi besar seperti halnya Aldi, akan tetapi pandangan matanya lebih tajam dan menakutkan dari pada Aldi.
Kali ini Sang Master memulai serangannya dengan sebuah tendangan samping cepat dan kuat, terlihat dari suara kaki yang membelah udara menimbulkan suara berdesis.
Dengan ringan Tirta menangkis. Benturan pertama segera terjadi! Sang Master segera menyadari, kalau kali ini dia bertemu seorang pemuda yang tangguh.
Pukulan dan tendangan berikutnya dilancarkan dengan kekuatan dan kecepatan penuh dan dilambari tenaga dalam.
__ADS_1
Tirta kali inipun sadar, lawan melambari kekuatannya dengan tenaga dalam.
"Tampaknya gurunya Aldi benar-benar kuat," batinnya.
Segera tenaga batinnya di kerahkan sekedar nya untuk mengimbangi sang Master.
Pertarungan kali ini sungguh luar biasa. Seorang Master karate bertemu dengan seorang pemuda yang menguasai ilmu beladiri warisan leluhur tanah Jawa.
Para penonton segera mundur, karena angin serangan menderu-deru sampai radius beberapa meter.
Tirta lebih banyak bertahan tanpa menyerang. Dikerahkannya sedikit Aji lembu Sekilan memutari tubuhnya.
Tadinya sang Master kurang memperhatikan hal ini, akan tetapi lambat laun dirinya mulai menyadari, pukulan dan tendangannya tidak pernah bisa menyentuh anak muda di depannya ini.
Dia mulai berfikir, berdasar pengalaman nya. Tampaknya pemuda di depannya ini menguasai ilmu simpanan!.
Kekuatan tenaga dalam dari sang Master segera di kerahkan sepenuhnya. Pukulannya sekarang ini sungguh kuat sekali, dengan mengeluarkan suara seperti angin lesus, pukulan-pukulanya memburu kemanapun Tirta menghindar.
Akan tetapi tetap saja, pukulan dan tendangan tidak akan pernah bisa menyentuh tubuh Tirta!.
Aji Lembu Sekilan bukanlah Ajian biasa!. Aji ini hanya di kuasai orang orang kuno yang pilih tanding Dugdeng Digdaya.
Para penonton dibuat tercengang dan terkesima menyaksikan pertarungan luar biasa ini.
Aldi semakin kaget, bahwasannya Tirta mampu mengimbangi gurunya!
Dia mulai menyadari kalau selama ini Tirta tidak pernah bersungguh-sungguh dalam menghadapi dirinya.
Di arena pertarungan, kali ini sang Master benar-benar dibuat sangat marah, matanya memerah.
Dia meraung dengan keras, mengerahkan semua kekuatan baik kekuatan luar maupun dalamnya. Belum pernah selama hidupnya dia menghadapi lawan setangguh ini.
Tiap kali pukulan dilepaskan dan hampir mengenai tubuh lawan, pasti jangkauannya kurang, ataupun tertahan tenaga tak kasat mata yang melingkupi tubuh Tirta selalu membuat jarak! Ya itulah Aji Lembu Sekilan yang melegenda itu.
Bayu dan Adnan juga mulai merasa, kekuatan Tirta sudah melangkah terlalu jauh di banding mereka.
Bayu dan Adnan makin kagum, Tirta seorang yang rendah hati, tidak sombong dan tidak suka pamer.
Seperti halnya pertarungan nya melawan Aldi, Tirta kali ini pun tidak ingin mengalahkan lawannya dengan telak. Dia hanya ingin mengimbangi saja tanpa menyakiti mereka.
Ketika nafas-nafas mulai memburu dan peluh bercucuran dengan derasnya membasahi tubuh sang Master. Pertarungan pun mulai melambat.
__ADS_1